Walaupun bukan yang pertama kali ini saya datang ke Sydney, tetapi sudah menjadi kebiasaan saya setiap mengunjungi sebuah kota, saya selalu menganggap sebagai kunjungan yang pertama. Agar saya dapat menyerap berbagai sesuatu yang baru dengan pikiran yang luas, jujur, dan netral. Jangankan berbeda dalam tahun, berbeda satu haripun selalu harus ada yang saya serap sebagai hal yang baru.
Jangankan kota sebesar Sydney yang luas dan hiruk pikuk, kota kecil yang penduduknya hanya puluh ribu saja saya selalu banyak memetik banyak pengalaman. Waktu walaupun singkat hanya menit dan jam, apalagi tahun, era, dan zaman sangat menentukan perubahan, yang sangat mempengaruhi perabadaban, time-varying. Jangankan saya harus berkeliling ke sana kemari. Hanya berjalan kaki di sekitar jalan dari bandara menuju penginapan saja sudah dapat menjadi pengalaman yang harus banyak saya serap.
April adalah musim gugur di Sydney. Dan ini adalah sangat tepat untuk berkunjung untuk kepentingan apapun, karena udara tidak panas dan juga tidak dingin sekali, sekitar 14-17 derajat C. Musim gugur (autum) telah tiba, beberapa daun maple (momiji) masih terlihat hijau, dan beberapa pepohonan jenis lain sudah ada yang mulai rontok sedikit-sedikit. Di sana-sini masih ada hujan dan angin semilir sejuk.
Sydney saat ini berdiri sebagai salah satu kota modern yang paling dinamis di dunia dan sangat layak sebagai tujuan untuk menetap. Sebuah kota yang merupakan bagian dari negara bagian (state) New South Wales (NSW) yang memadukan keindahan alam, keragaman budaya, kemajuan teknologi, dan vitalitas ekonomi perkotaan yang maju.
Terletak di pantai tenggara Australia, Sydney dikenal karena landmark ikoniknya, lingkungan yang ramai, dan gaya hidup yang menyeimbangkan kenyamanan modern indoor dengan kehidupan di luar ruangan dan halaman. Pada tahun 2026, Sydney terus berkembang sebagai kota global, tetapi mempertahankan pesona dan karakter yang telah lama dibangun.
Salah satu fitur Sydney yang paling mencolok adalah lingkungan alamnya. Kota ini dibangun di sekitar Pelabuhan Sydney yang menakjubkan dan sangat sibuk. Hamparan air berkilauan yang luas yang dibingkai oleh tanaman hijau subur yang tertata rapi dan dihiasi dengan kapal-kapal feri dan perahu yang berseliweran.
Pelabuhan ini adalah rumah untuk dua landmark kota yang paling terkenal, Gedung Opera Sydney yang sangat Anggun di Circular Quay dan Jembatan Pelabuhan Sydney. Struktur bangunan ini bukan sekadar objek wisata, tetapi simbol identitas dan kebanggaan Australia. Jutaan pelancong setiap tahun datang ke tempat ini dan yang juga tempat ini berfungsi sebagai pusat utama acara dan perayaan budaya.
Gaya hidup Sydney sangat terkait dengan alam terbuka. Penduduk maupun para pengunjung untuk menikmati banyak pantai yang indah di kota ini, termasuk Pantai Bondi yang terkenal di dunia dan juga Dermaga Melingkar (Circular Quay) yang sangat penuh sesak manusia setiap saat. Setiap hari para pelancong sangat ramai mulai dari pintu gerbang sampai di halaman Gedung Opera. Apalagi mendekati matahari terbenam saat-saat cahaya siluet sudah mulai muncul, dan kapal-kapal pesiar sedang beraktivitas terkena matahari yang agak samar-samar.
Begitu juga Bondi dipenuhi oleh peselancar yang menangkap ombak, pelari di sepanjang jalur pantai, dan keluarga yang menikmati sinar matahari cerah pagi hari. Penekanan pada kehidupan di luar ruangan dengan landscape yang tertata rapi ini mencerminkan iklim Sydney yang menguntungkan. Yang tetap sejuk dan menyenangkan, mendorong aktivitas yang nyaman sepanjang tahun. Taman-taman seperti Royal Botanic Garden Sydney menyediakan ruang hijau tempat siapa saja dapat bersantai, menyegarkan diri, berolahraga, dan menyatu dengan alam di tengah kota nan indah.
Secara budaya, Sydney dengan penduduk lebih dari lima juta jiwa adalah tempat perpaduan budaya dari banyak entnis dan suku bangsa. Populasinya adalah salah satu yang paling beragam di dunia, dengan komunitas dari Asia, Eropa, Timur Tengah, dan sekitarnya yang berkontribusi pada jalinan sosial yang kaya dan saling membangun. Saya bertemu dengan seorang wanita Australia, ‘are you from Jakarta’, tanya dia. No, I am Arek Suroboyo, jawab saya.
Keragaman kehidupan di Sydney tercermin dalam dunia kuliner, festival, dan kehidupan sehari-hari di seluruh pojok kota. Daerah seperti Chinatown dan pinggiran kota multikultural seperti Parramatta (kenangan saya tahun 2007) menawarkan berbagai pengalaman kuliner. Dari hidangan tradisional hingga masakan dengan penuh inovasi. Hari ini, pasar makanan, festival jalanan, tempat terbuka, dan acara budaya terus berkembang, yang membuat Sydney sebagai tempat tinggal yang nyaman, dinamis, dan inklusif.
Secara ekonomi, Sydney menjadi pusat kekuatan keuangan Australia, dengan gaji minimal para karyawan adalah 24,95 dollar AUD perjam. Walaupun biaya kehidupan di Sydney adalah sangat mahal. Kota ini merupakan rumah untuk kantor pusat bank-bank besar, perusahaan multinasional, dan sejumlah besar perusahaan rintisan teknologi. Kawasan pusat bisnis (central business district, CBD) adalah area yang ramai dengan gedung pencakar langit modern, bangunan bersejarah, dan pergerakan arus lalulintas profesional yang terus menerus.

Saat ini, ekonomi Sydney beradaptasi dengan tren global, dengan peningkatan fokus pada teknologi, keberlanjutan, dan inovasi. Ruang kerja bersama (co-working spaces), perusahaan digital, dan inisiatif ramah lingkungan membentuk masa depan pekerjaan di kota ini semakin menjanjikan. Walaupun produk-produk teknologi dari Jepang, Korea, dan China membanjiri Australia, tetapi teknologi-teknologi baru tetap tumbuh subur di Australia, dan ini semua dapat kita nikmati di Kota Sydney.
Transportasi di Sydney juga telah mengalami peningkatan signifikan hampir merata di seluruh wilayah kota dalam beberapa tahun terakhir. Perluasan jaringan transportasi umum, termasuk kereta api, bus, dan kereta ringan, telah membuat perjalanan menjadi lebih efisien. Pengenalan jalur metro baru telah mengurangi waktu perjalanan dan meningkatkan konektivitas antara pinggiran kota dan pusat kota.
Saat ini, penduduk memperoleh banyak manfaat dari sistem transportasi yang lebih terintegrasi dan mudah diakses, meskipun kemacetan lalu lintas tetap menjadi tantangan di beberapa sudut kota. Walaupun sistem perkeretaapian belum serapi se integratif di Osaka dan Tokyo, tetapi sistem loop-loop yang telah dibangun di tengah Sydney ini sudah sangat terasa bahwa Sydney adalah kota yang sangat modern dengan manusianya yang berkarakter tertib.
Sydney juga merupakan kota yang sangat maju dari berbagai sisi, termasuk dalam pendidikan dan inovasi. Kota ini merupakan tempat institusi pendidikan bergengsi Universitas Sydney (ranking 25 dunia, QS Ranking) dan Universitas New South Wales (rankin 20 dunia, QS Ranking), dengan berbagai mahasiswa yang datang dari seluruh dunia. Juga universitas-universitas lain di kota ini memainkan peran penting dalam penelitian, pengembangan, dan pembangunan para pemimpin masa depan untuk Australia. Saat ini, Sydney terus memperkuat posisinya sebagai kota pendidikan yang maju, menawarkan universitas kelas dunia untuk pembelajaran kolaboratif berbagai bangsa.
Saya berjalan-jalan sejenak menelusuri Sydney kota modern yang sangat komplikatif. Tentu seperti kebiasaan saya setiap menjelajah kota harus tetap ada ‘peristiwa berjalan kakinya’, minimal lima kilometer agar badan terasa segar dan eksplorasi lebih aplikatif mengena.
Memang, Kota Sydney diakusi sebagai kota dengan tingkat kemajuan yang sangat cepat, dan mempunyai banyak sumber kekuatan. Tetapi Sydney juga menghadapi banyak tantangan seperti kota-kota besar lain di dunia. Biaya hidup yang sangat tinggi, terutama di bidang perumahan, sehingga keterjangkauan untuk dapat memilik rumah menjadi perhatian serius banyak penduduk.
Pertumbuhan perkotaan dan peningkatan populasi memberikan tekanan pada infrastruktur dan layanan, dan ini menambah beban manajemen yang sangat besar. Masalah lingkungan, termasuk perubahan iklim dan erosi pantai, juga membutuhkan perhatian berkelanjutan. Saat ini, kota ini secara aktif mengatasi tantangan-tantangan ini melalui reformasi kebijakan, perencanaan kota, dan inisiatif keberlanjutan yang bertujuan untuk menciptakan masa depan yang lebih tangguh.
Apapun, Sydney telah menjadi kota nomor 11 di dunia dari ekonomi yang berjalan 24 jam, budaya, dan keindahan kotanya, dan menjadi kota nomor 10 dunia karena tingkat stabilitas, kesehatan, dan infrastruktur. Saya sempat kaget, perjalanan saya yang hanya 30 menit dari Airport ke Circular Quay sudah menyedot AUD 20 lebih, padahal hanya sembilan km. Itu kalau di Surabaya adalah sama dengan dari Kampus ITS ke Pasar Turi. Lha bolak-balik sudah AUD 40, silakan dikalikan dengan 11.700 rupiah. OPAL saya langsung terkuras habis.
Anehnya lagi besok harinya, naik bus dari Shuterland menuju Wollonggong, 48 km, malah gratis, kata sopirnya begitu dan saya ulang bertanya beberapa kali, ‘this is free, this is free’, dan jawabanya, ‘yes, yes, free’. Ya sudah kalau ‘free’.
Setelah sampai di penginapan, ‘apa tadi saya yang salah mendengar’. Wis pak, ojo dianalisis, kata anak saya, Pinaka, yang membantu saya mencari rute-rute murah. Bapak itu apa saja dianalisis, membayar mahal dianalisis, gratis juga dianalisis.





0 Tanggapan
Empty Comments