Rabu (17/12/2025) petang menjelang malam, di sela waktu Maghrib menjelang Isya, sebuah bangunan berukuran 5×10 meter di kawasan padat Ampel, Surabaya, tampak berdiri kokoh. Di lorong sempit yang setiap hari dilalui peziarah makam Sunan Ampel, berdiri SD Muhammadiyah 19 Surabaya, sebuah sekolah dasar yang sering luput dari perhatian banyak orang.
Bangunan itu menyerupai rumah tinggal bertingkat tiga yang sudah berdiri selama 50 tahun. Dari tempat inilah aktivitas pendidikan berlangsung sejak pagi hingga sore.
Sekolah ini menampung 118 siswa. Ada kelas yang berisi 14 siswa, sebagian lainnya mencapai 20 anak, bahkan ada yang berjumlah 27 hingga 28 siswa dalam satu ruangan.
Keberadaan SD Muhammadiyah 19 Surabaya menjadi penting untuk dicatat karena tidak banyak yang mengetahui bahwa di kawasan wisata religi Ampel terdapat perguruan Muhammadiyah yang masih aktif melayani pendidikan dasar bagi masyarakat sekitar.
Untuk menjangkau SD ini bisa melalui Jalan Ampel Kesumba No.14, Tepat setelah jembatan penyebarangan dari Jalan Pegirian.
Sekolah CERIA di Tengah Keterbatasan
Kepala SD Muhammadiyah 19 Surabaya, Imam Maliki, menjelaskan bahwa sekolah ini tumbuh dari semangat pengabdian. Ia menyebut konsep yang diusung adalah “Sekolah CERIA”.
“CERIA itu singkatan dari Cerdas, Empati, Religius, Inovatif, dan Akseleratif,” ujarnya saat ditemui di ruang tamu sederhana sekolah.

Mayoritas siswa berasal dari lingkungan sekitar Ampel. Sebagian lainnya datang dari kawasan Perak dan wilayah pesisir. Dari jumlah tersebut, terdapat 17 siswa yatim yang dibebaskan dari biaya pendidikan. Sistem pembayaran sekolah juga disesuaikan dengan kemampuan orang tua. Sekitar 60 persen siswa membayar penuh, sementara sisanya mendapatkan subsidi silang.
“Yang penting anak-anak tetap sekolah, guru tetap kami upayakan sejahtera, meski seadanya,” kata Imam Maliki.
Saat ini terdapat sekitar sembilan guru yang mengajar. Di tengah ruang kelas yang sempit, sekolah tetap berupaya menyesuaikan perkembangan teknologi. Beberapa kelas telah dilengkapi layar LED agar siswa tidak tertinggal dalam pembelajaran digital.
Langgar Kecil dan Persoalan Lahan
Di tengah keterbatasan ruang, sekolah ini masih memiliki sebuah langgar kecil yang dimanfaatkan untuk kegiatan doa bersama dan pembiasaan ibadah siswa. Langgar tersebut menjadi fasilitas ibadah yang digunakan secara rutin oleh warga sekolah dalam mendukung pembentukan karakter religius peserta didik.
Keberadaan langgar ini memiliki peran penting dalam aktivitas harian sekolah. Selain digunakan untuk salat berjamaah, tempat tersebut juga menjadi ruang pembinaan nilai-nilai keislaman yang ditanamkan sejak dini kepada para siswa.
Imam Maliki menyampaikan bahwa meskipun fasilitas yang dimiliki terbatas, pihak sekolah terus berupaya menjaga keberlangsungan kegiatan pendidikan dan pembiasaan ibadah bagi siswa. Menurutnya, yang terpenting adalah memastikan proses belajar dan pembentukan karakter tetap berjalan dengan baik.
“Niat kami sederhana, agar sekolah ini tetap bisa memberikan layanan pendidikan yang bermanfaat bagi anak-anak,” ujarnya.
Berada di kawasan padat penduduk dan peziarah Ampel, SD Muhammadiyah 19 Surabaya terus menjalankan perannya sebagai lembaga pendidikan dasar bagi masyarakat sekitar. Sekolah ini menjadi salah satu pilihan bagi warga yang menginginkan pendidikan berbasis nilai keislaman dan kebersamaan.
Meski memiliki keterbatasan dari sisi fisik, SD Muhammadiyah 19 Surabaya tetap berupaya menjaga keberlangsungan pendidikan bagi anak-anak di lingkungan tersebut. Sekolah ini hadir sebagai ruang belajar yang inklusif dan berorientasi pada pelayanan pendidikan bagi masyarakat sekitar. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments