Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sekolah SD dan SMP Gratis: Mengapa Tidak?

Iklan Landscape Smamda
Sekolah SD dan SMP Gratis: Mengapa Tidak?
pwmu.co -

Oleh drh Zainul Muslimin (Bendahara PWM Jawa Timur)

Bagaimana dengan kita?

PWMU.CO- Sekitar dua puluh tahun lalu, saat teman-teman mulai menarik saya ke medan dakwah, saya pun menjadi lebih dekat dengan para ustadz, majelis-majelis pengajian, dan gerakan pemberdayaan ekonomi umat. Dalam perjalanan itu, saya menyadari bahwa untuk menjadi bagian dari solusi setiap persoalan, kita harus memiliki banyak jaringan dan relasi.

Kita perlu menjadi penghubung: antara mereka yang mencari pekerjaan dengan yang menyediakan lapangan kerja, antara anak-anak dari keluarga kurang mampu dengan sekolah atau pesantren yang gratis dan berkualitas.

Saya teringat pada saat itu sudah ada pesantren mewah tapi gratis, yaitu Pesantren Kafila International Islamic School di Jakarta. Alhamdulillah, salah satu santri yang kami bantu untuk masuk ke sana kini tinggal di Madinah bersama ibunya.

Lalu, apa hubungannya singkong seberat hampir 0,5 ton yang ada di SD Muhammadiyah 24 Surabaya dengan sekolah gratis?

Senin sore lalu, saya menjadi narasumber dalam program TVMu Jatim 1 yang disiarkan dari studio SMK Muhammadiyah Kapasan. Ustadzah Norma menjadi host-nya. Di sana, kami berbincang banyak tentang bagaimana menggerakkan ekonomi sekolah melalui aktivitas wirausaha. Hal ini tidak hanya bertujuan untuk menambah pemasukan, tapi juga untuk melatih salah satu dari lima karakter penting yang harus dimiliki oleh kepala sekolah, yaitu entrepreneurship.

Bahkan karena urusan ini, saya pernah diajak Direktur BPBRIN UNAIR untuk berkeliling ke berbagai pesantren dari Jawa Timur hingga Riau, membahas pemberdayaan ekonomi pesantren.

Keesokan harinya, saya mengirimkan beberapa video motivasi dan kisah sukses para pebisnis dari nol kepada Ustadzah Norma. Tak lama kemudian, ia mengirim pesan pribadi, “Saya bingung, Ustadz. Harus mulai dari mana?”

Saya jawab, “Mulailah dari yang paling mudah dan murah.”

Bu Kepala Sekolah memiliki puluhan guru dan ratusan wali siswa. Kenapa tidak mencoba berbagi manfaat kepada mereka? Kita bisa menyediakan produk-produk murah yang mereka butuhkan. Singkong misalnya. Di Magetan, harganya hanya Rp2.000 per kilogram. Coba bandingkan dengan harga di Surabaya. Tentu bisa dijual kembali dengan harga lebih murah dari pasaran, tapi dengan kualitas yang sama.

Mindset-nya bukan semata-mata mencari untung. Kita menanamkan semangat berbagi manfaat. Keuntungan hanyalah implikasi. Uang akan “memaksa” dirinya ikut bersama kita ketika manfaat itu benar-benar dirasakan oleh banyak orang.

Apa saja manfaat yang bisa kita hadirkan kepada komunitas terdekat kita?

Kita bisa mulai dengan hal sederhana:

  • Hari potong rambut gratis di sekolah
  • Membuka kafe kecil di lingkungan sekolah
  • Menjual sembako murah
  • Menyediakan layanan umrah
  • Dan sebagainya

Kuncinya adalah aksi nyata yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Di situlah hadir kebermanfaatan sejati.

Buktinya sudah banyak. Al Azhar di Mesir bisa gratis. Pesantren Kafila bisa gratis. Universitas Pamulang bisa sangat terjangkau. Masih banyak contoh lain yang mungkin lebih Panjenengan ketahui.

Jika karakter entrepreneurship ini mampu diwujudkan secara nyata oleh para kepala sekolah, maka insyaallah sekolah-sekolah kita akan menjadi lebih berdaya secara finansial. Dan tentu, lebih bermanfaat bagi umat.

Tetap semangat berbagi manfaat. Bismillah. Laa hawla wa laa quwwata illa billah. (*)

Editor Alfain Jalaluddin Ramadlan

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu