Pelaksanaan Salat Tarawih malam keempat di Masjid Al Hidayah Kota Kediri berlangsung khusyuk dan penuh kekhidmatan, Jumat (20/2/2026). Para jemaah tampak antusias mengikuti seluruh rangkaian ibadah, mulai dari salat berjemaah hingga ceramah yang disampaikan oleh Sekretaris Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kota Kediri, Chandra Aditya.
Dalam tausiyahnya, ia mengangkat tema penting mengenai pendidikan karakter anak sebagai tanggung jawab bersama antara keluarga dan lingkungan.
Chandra mengajak jemaah untuk merenungkan kondisi generasi muda saat ini. Ia menyampaikan keprihatinannya terhadap fenomena menurunnya adab, etika, dan akhlak pada anak-anak hingga remaja yang kian sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari.
“Terus terang, saya secara pribadi menyaksikan dan merasakan langsung di berbagai lingkungan yang saya temui, anak-anak yang masih kecil sudah terbiasa berkata kasar, kurang menjaga adab, bahkan bersikap keras,” ungkapnya di hadapan jemaah.
Ia menambahkan bahwa yang membuat hati terasa miris adalah ketika perilaku semacam itu justru dianggap lumrah dan dibiarkan begitu saja, tanpa adanya teguran maupun pembinaan dari orang tua ataupun lingkungan sekitar.
“Yang membuat hati terasa miris, hal-hal seperti ini sering dianggap biasa dan dibiarkan begitu saja, tanpa ada teguran dari orang tua maupun lingkungan sekitar,” imbuhnya.
Ia menambahkan bahwa fenomena tersebut tidak hanya terjadi pada anak usia dini, tetapi juga tampak di kalangan remaja dan pelajar. Menurutnya, kini mulai banyak dijumpai pelajar yang bersikap kurang sopan terhadap guru serta tidak lagi menunjukkan rasa hormat kepada orang tua.
Kondisi tersebut, menurutnya, bukan sekadar kenakalan remaja yang biasa, melainkan menjadi indikasi adanya krisis akhlak dan moral yang nyata.
Namun demikian, Chandra menegaskan bahwa anak-anak tidak dapat sepenuhnya disalahkan. Mereka merupakan hasil dari pola pendidikan dan lingkungan tempat mereka tumbuh. Apa yang mereka ucapkan adalah apa yang mereka dengar, dan apa yang mereka lakukan merupakan cerminan dari apa yang mereka lihat setiap hari.
“Anak-anak itu peniru yang luar biasa. Kalau yang sering mereka lihat adalah contoh yang kurang baik, maka itulah yang akan mereka tiru,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, ia menegaskan pentingnya peran orang tua sebagai pendidik utama dalam pembentukan karakter anak. Rumah, menurutnya, merupakan madrasah pertama, sedangkan orang tua adalah teladan yang paling utama.
Ia menekankan bahwa pendidikan karakter tidak dapat sepenuhnya diserahkan kepada sekolah, melainkan harus dimulai dari lingkungan keluarga melalui pembiasaan dan keteladanan sehari-hari.
Lebih lanjut, Chandra mengajak jemaah untuk menjadikan bulan Ramadan sebagai momentum titik balik dalam melakukan perbaikan diri dan keluarga.
Ia menegaskan bahwa Ramadan tidak semata-mata dimaknai sebagai bulan menahan lapar dan haus, tetapi memiliki esensi yang lebih luas sebagai bulan pendidikan karakter.
“Maka Ramadan inilah momentum titik balik sebuah perbaikan. Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus, tetapi tentang membentuk akhlak dan karakter,” tuturnya.
Ia secara konkret mengajak para orang tua untuk memanfaatkan suasana Ramadan dengan membiasakan anak-anak melakukan berbagai aktivitas ibadah dan kebaikan. Di antaranya dengan mengajak mereka melaksanakan salat berjemaah, membiasakan membaca Al-Qur’an, serta menghadirkan keteladanan yang baik dalam sikap dan perilaku sehari-hari.
“Ajak mereka untuk melaksanakan salat berjemaah, ajarkan membaca Al-Qur’an, dan yang paling utama berikan teladan yang baik. Jangan hanya menyuruh, tetapi kita sendiri tidak melaksanakannya,” pesannya.
Selain peran keluarga, Chandra juga menekankan pentingnya lingkungan sebagai kontrol sosial dari pendidikan karakter yang telah ditanamkan di rumah. Menurutnya, masyarakat tidak boleh bersikap acuh terhadap perilaku anak-anak di sekitarnya.
“Lingkungan itu seharusnya menjadi penguat. Kalau ada yang keliru, mari kita tegur dengan cara yang baik. Ini bukan soal mencampuri urusan orang lain, tapi soal tanggung jawab bersama,” terangnya.
Di akhir ceramahnya, Chandra menyampaikan bahwa proses pembentukan karakter bukanlah sesuatu yang instan. Diperlukan waktu yang panjang, kesabaran, serta konsistensi.
Ia juga mengingatkan bahwa apabila pendidikan karakter tidak ditanamkan sejak dini, maka persoalan yang muncul di masa depan berpotensi menjadi semakin kompleks.
“Memang tidak mudah dan butuh proses panjang. Tapi kalau tidak kita mulai hari ini, justru nanti masalahnya akan semakin besar,” pungkasnya.
Ceramah tersebut mendapat perhatian dari jemaah. Pesan yang disampaikan dinilai relevan dengan kondisi sosial saat ini, khususnya terkait pentingnya peran keluarga dan lingkungan dalam membentuk karakter generasi muda.
Melalui ceramah tersebut, diharapkan Ramadan benar-benar menjadi titik awal perubahan, tidak hanya dalam aspek ibadah personal, tetapi juga dalam pola pengasuhan dan kepedulian sosial. Dengan keterlibatan aktif orang tua, keteladanan yang baik, serta lingkungan yang saling mengingatkan, generasi muda diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak, beradab, dan memiliki karakter kuat sebagai bekal masa depan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments