Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Seminar Pra-Silatnas Ulama Aisyiyah Bahas Kriteria Keulamaan Perempuan

Iklan Landscape Smamda
Seminar Pra-Silatnas Ulama Aisyiyah Bahas Kriteria Keulamaan Perempuan
Ulama ‘Aisyiyah Harus Berilmu, Berintegritas, dan Berjiwa Tajdid (Suri/PWMU.CO)
pwmu.co -

Muhammad Rofiq Muzakkir dari Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah memaparkan pandangannya terkait kriteria ulama Aisyiyah dalam Seminar dan Workshop Pra-Silaturahmi Nasional (Silatnas) I Ulama Aisyiyah.

Kegiatan tersebut mengusung tema “Konstruksi Pemikiran Ulama Aisyiyah: Respons terhadap Isu Keumatan dan Kebangsaan” dan berlangsung pada Sabtu (13/12/2025).

Dalam pemaparannya, Rofiq menyampaikan bahwa terdapat empat kriteria utama yang perlu dimiliki oleh ulama Aisyiyah. Kriteria pertama adalah menjaga integritas dan keteladanan di tengah masyarakat. Menurutnya, ulama tidak hanya berperan sebagai figur intelektual, tetapi juga menjadi teladan moral yang kehadirannya dirasakan oleh umat.

Kriteria kedua adalah penguasaan ilmu keislaman yang kokoh. Rofiq menegaskan bahwa ulama perempuan perlu memiliki dasar ilmu-ilmu keislaman yang kuat, serta menjadi spesialis setidaknya pada satu disiplin ilmu keislaman dan satu ilmu umum. Penguasaan ilmu tersebut menjadi fondasi dalam menjalankan peran keulamaan.

Kriteria ketiga, ulama Aisyiyah diharapkan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pengembangan ilmu dan kehidupan masyarakat. Dalam konteks ini, Rofiq menekankan pentingnya tradisi menulis di kalangan ulama perempuan.

“Ulama paling tidak harus menulis kitab atau memiliki karya tulis. Kita membutuhkan legacy ulama perempuan Muhammadiyah yang menulis buku, terutama refleksi terhadap hadis atau ayat tertentu. Ini akan membangun tradisi keilmuan yang kokoh di Muhammadiyah,” tegasnya.

Selain menulis, ulama juga diharapkan mampu merespons persoalan umat serta memberikan pandangan keagamaan terhadap berbagai problem sosial yang dihadapi masyarakat.

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Ulama itu harus hadir di tengah masyarakat, bukan hanya di konferensi dan tidak sekadar berada di ruang lab,” ujarnya.

Kriteria keempat, menurut Rofiq, ulama Aisyiyah perlu memiliki wawasan wasathiyah dan berjiwa tajdid. Ia menyampaikan bahwa ulama perempuan tidak seharusnya bersikap ekstrem dalam memahami teks keagamaan, baik dalam membaca Al-Qur’an dan As-Sunnah maupun dalam merespons realitas sosial.

“Jangan tunduk begitu saja pada tren zaman. Ulama harus mampu menegosiasikan bagaimana catch up with reality, tetapi tetap melihat realitas dari sudut pandang Islam,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa wawasan wasathiyah hanya dapat terwujud apabila didukung oleh metodologi yang kuat serta semangat tajdid. Dengan demikian, ulama diharapkan memiliki pemahaman Islam yang dinamis dalam merespons tantangan zaman. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu