Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Senam Mata Untuk Melawan “Miopia Boom” di Era Digital

Iklan Landscape Smamda
Senam Mata Untuk Melawan “Miopia Boom” di Era Digital
Oleh : Bening Satria Prawita Diharja M.Pd Guru PJOK SMP Muhammadiyah 1 Gresik
pwmu.co -

Bermain game online bersama atau ’mabar’ (main bareng) tetap menjadi aktivitas favorit remaja usia 12-17 tahun untuk mengisi libur sekolah semester ganjil 2025 yang lumayan panjang karena berbarengan dengan libur Natal dan Tahun Baru (Nataru).

Operator telekomunikasi Indosat Ooredoo Hutchison memprediksi akan terjadi lonjakan trafik data sekitar 17 persen dari trafik rata-rata harian.

Peningkatan ini karena intensitas pemain yang menghabiskan waktu 10 – 15 jam per minggu untuk memainkan game seperti Mobile Legends, Free Fire hingga Roblox melalui ponsel pinter mereka.

Padahal tanpa mereka sadari, aktivitas tersebut berpotensi menimbulkan dampak negative baginya, terutama kesehatan mata.

Data Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Indonesia tahun 2024 mengungkapkan bahwa sekitar 10% (dan  prediksinya berpotensi naik) anak sekolah di Indonesia mengalami gangguan penglihatan, dan paling mengkhawatirkan adalah gangguan pengelihatan yang istilahnya myopia atau rabun jauh.

Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO) merilis sebuah data yang menunjukkan bahwa prevalensi miopia tertinggi terdapat di wilayah Asia Pasifik dan Asia Timur (khususnya Cina dan Korea Selatan) dengan rentang 67 – 97% (WHO, 2019).

Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia setelah India dan Cina, dengan prevalensi kasus miopia mencapai 48,1% pada rentang usia 12- 17 tahun fase remaja awal.

Fenomena ini kian terlihat dari makin meningkatnya jumlah siswa yang menggunakan kacamata di ruang kelas pada berbagai jenjang satuan pendidikan.

Miopia menjadi salah satu penyakit gangguan refraksi yang terjadi ketika sinar cahaya yang masuk ke dalam mata jatuh di depan retina. Akibatnya, objek jarak dekat dapat terlihat jelas namun menjadi buram jika untuk melihat objek dengan jarak jauh (George & Joseph, 2014).

Lebih lanjut, miopia terjadi karena sinar sejajar garis pandang difokuskan di depan retina ketika mata tidak berakomodasi atau kelainan refraksi kuantitatif di mana sferikal ekuivalen adalah -0.50 D.

Selain itu juga disebabkan oleh ukuran bola mata yang terlalu panjang atau kekuatan refraksi dari lensa yang terlalu kuat sehingga cahaya yang masuk dari objek yang jauh akan terfokus di depan retina (Hall, 2011).

Secara genetis miopia disebabkan juga oleh pemanjangan sumbu bola mata yang terlalu besar atau daya bias media bias yang terlalu kuat atau kornea yang terlalu melengkung.

Fenomena miopia boom diatas akan sangat berpengaruh terhadap peningkatan prestasi akademik dan non akademik siswa disekolah.

Dalam proses pembelajaran dikelas,  penglihatan berperan penting karena siswa menerima informasi sebanyak 80% melalui indera tersebut.

Oleh karena itu, apabila terjadi gangguan pengelihatan, dapat dipastikan siswa akan mengalami penurunan prestasi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Terkait dengan fenomena myopia boom yang terjadi, sebagai guru pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan (PJOK) di SMP Muhammadiyah 1 Gresik, saya merekomendasikan melakukan senam mata sebanyak 4 kali sehari ketika siswa dalam kelas.

Pelaksanaanya dapat diintegrasikan dengan aktivitas di kelas, seperti pada awal pembelajaran, saat memulai materi pelajaran setelah jam istirahat pertama, ketika memulai materi pelajaran setelah jam istirahat kedua, hingga sebelum siswa pulang sekolah.

Selain di sekolah, senam mata ini juga dianjurkan untuk dilakukan di rumah saat menjelang tidur dan setelah bangun tidur.

Gerakan senam mata yang dapat penulis jelaskan adalah sebagai berikut:

  1. Memutar bola mata. Gerakan memutar bola mata ini ada dua, berputar searah jarum jam 5x dan berlawanan jarum jam 5x. Masing masing gerakan repetisinya 3x
  2. Melirik. Gerakan melirik mata ini ada dua, gerakan melirik keatas lalu kebawah lakukan gerakan tersebut 10x dan gerakan melirik kekanan dan kekiri sebanyak 10x. masing masing gerakan repetisinya 3x
  3. Menekan mata. Dalam kondisi rileks, pejamkan mata kemudian berikan tekanan yang sangat ringan dengan menggunakan telunjuk selama 10 detik. Lakukan cara ini sebanyak 10x
  4. Berkedip. Tutup mata selama 30 detik dan lakukan sebanyak 10x
  5. Melirik 3 detik. Lakukan gerakan melirik 3 detik ke arah kiri tahan 3 detik kemudian melirik ke kanan 3 detik dan ulangi gerakan ini sebanyak 10 kali
  6. Latihan fokus. fokuskan pengelihatan ke jempol selama 2 detik lalu fokuskan pengelihatan ke arah objek yang jauh selama 2 detik dan lakukan cara ini sebanyak 10x
  7. Fokus pada gerakan. Acungkan telunjuk ke depan, fokuskan pengelihatan kearah hidung secara perlahan. Jauhkan lagi dari hidung dengan lambat dan lakukan gerakan ini sebanyak 10 kali.
  8. Membuat angka. Melakukan gerakan ini dengan cara membayangkan angka 8 di dinding kemudian gunakan pengelihatan kita untuk mengikuti alurnya seperti kita menulis angka 8.
  9. Eye palming. Gerakan ini merujukan pada kegiatan memejakan mata kemudian gunakan telapak tangan untuk menutupi kelopak mata. Agar hasil maksimal gunakan cara ini selama 5 menit.

Manfaat melakukan senam mata adalah bola mata agar terbiasa lentur dan bergerak sesuai dengan jangkauan mata, semakin lebar jangkauan bola mata semakin baik dalam membaca.

Terapi senam mata juga bermanfaat dalam mencegah tumor mata hiposfisi, meghilangkan kantung mata dan bengkak dibawah mata, senam mata mampu mengurangi keriput disekitar mata (Intan Putri Arisandi, Gamya Tri Utami, 2018).

Selain senam mata, penulis juga merekomendasikan untuk penerapan aturan 20-20-20. Menerapkan aturan ini dengan cara mengalihkan pandangan setiap 20 menit untu lihat objek yang berjarak 20 kaki (sekitar 6 meter) selama 20 detik untuk menyegarkan mata.

Selain itu, disarankan untuk beristirahat selama 20 menit setiap 2 jam penggunaan layar.

Selain aktivitas tersebut, membiasakan berkedip 15 hingga 20 kali per menit—atau sekitar 13.000 hingga 17.000 kali sehari—sangat penting untuk menjaga elastisitas otot mata.

Hal ini bertujuan mencegah risiko miopia akibat penggunaan ponsel yang berlebihan saat bermain game online pada remaja.

Edukasi ini krusial agar generasi muda memiliki penglihatan yang sehat guna menunjang proses pembelajaran di kelas.

Ingat, mencegah lebih baik daripada mengobati.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu