Separo ramadan telah kita lalui, sementara umur kita semakin berkurang tanpa kita sadari. Hari-hari berjalan seperti biasa. Kita tetap bekerja, berdagang, mengajar, memimpin rapat, mengurus keluarga.
Notifikasi ponsel tetap berbunyi. Target-target dunia tetap menanti untuk dituntaskan. Namun diam-diam, waktu terus menggerus usia. Satu hari Ramadan berlalu, satu hari pula jatah hidup kita berkurang.
Sudahkah hati kita lebih lembut dari sebelumnya? Sudahkah air mata itu jatuh karena takut dan rindu kepada Allah? Ataukah kita masih sibuk dengan dunia yang sebentar lagi akan kita tinggalkan?
Fase maghfirah adalah fase ampunan. Seakan Allah membuka pintu selebar-lebarnya dan berfirman, “Datanglah, hamba-Ku. Akui dosamu. Aku ampuni.” Tetapi sering kali kita justru datang dengan hati yang masih keras.
Kita mungkin masih mudah marah kepada pasangan. Masih meninggikan suara kepada anak. Masih menunda saalat karena rapat yang dianggap lebih penting. Masih menunda sedekah karena merasa penghasilan belum cukup.
Padahal bisa jadi, justru karena saalat itulah hidup menjadi cukup. Justru karena sedekah itulah rezeki menjadi lapang.
Malam hari ini bukan sekadar angka ke-14 atau 15. Ia bukan sekadar hitungan kalender. Ia adalah kesempatan. Kesempatan yang mungkin tidak akan terulang.
Bayangkan seseorang yang tahun lalu masih duduk bersama kita di masjid. Ia juga berdoa, ia juga berpuasa, ia juga berencana memperbaiki diri.
Namun hari ini namanya hanya disebut dalam doa. Ia telah mendahului kita. Ramadan tahun ini tidak lagi menjadi miliknya. Kita yang masih diberi nafas, sejatinya sedang diberi undangan khusus.
Kesempatan untuk memperbaiki salat yang masih lalai. Mungkin selama ini kita saalat tergesa-gesa, rukuk tanpa tuma’ninah, sujud tanpa penghayatan.
Malam ini, cobalah satu saalat saja dengan benar-benar hadir. Rasakan setiap bacaan. Panjangkan sujud. Bisikkan masalah-masalah hidup yang tak pernah kita ceritakan kepada siapa pun.
Kesempatan untuk memperbanyak istighfar atas dosa yang tak terhitung. Dosa mata yang melihat yang tak semestinya. Dosa lisan yang melukai tanpa terasa. Dosa hati yang iri dan berprasangka.
Sering kali kita merasa dosa kita kecil. Tetapi bukankah gunung besar juga tersusun dari batu-batu kecil?
Kesempatan untuk memperpanjang sujud dengan penuh harap. Sujud orang yang sadar bahwa dirinya lemah. Sujud seorang hamba yang tak punya apa-apa selain rahmat Tuhannya.
Jangan tunda taubat kita. Jangan tunggu esok untuk menjadi lebih baik.
Berapa banyak orang berkata, “Nanti kalau sudah mapan, saya akan lebih taat.” “Nanti kalau sudah tua, saya akan fokus ibadah.” “Nanti setelah urusan ini selesai…”
Padahal kematian tidak menunggu urusan kita selesai. Karena kita tak pernah tahu,
apakah ramadan ini akan menjadi saksi taubat kita, atau justru ramadan terakhir dalam hidup kita.
Maka malam ini, mari kita jujur pada diri sendiri. Jika hati terasa kering, mohonlah kelembutan. Jika ibadah terasa hambar, mohonlah kekhusyukan. Jika dosa terasa menumpuk, mohonlah ampunan tanpa putus asa.
Bismillah. Mari hidupkan malam ini dengan doa yang sungguh-sungguh. Matikan sejenak distraksi dunia. Dekatkan mushaf, angkat tangan, dan biarkan hati berbicara.
Agar ketika ramadan pergi, kita bukan lagi pribadi yang sama seperti sebelumnya.
Bukan lagi hamba yang lalai, melainkan hamba yang lebih dekat kepada Rabb-nya. Hamba yang pulang membawa maghfirah-Nya.
Āamīin yaa Rabbal ‘Aalamiin. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments