Setiap tanggal 25 November, halaman sekolah menjadi altar kecil. Spanduk dibentangkan, karangan bunga ditata, dan pengeras suara bergema. Hari Guru Nasional dirayakan dengan upacara khidmat dan penuh kata-kata manis, seolah menggambarkan dunia pendidikan kita baik-baik saja. Padahal, di balik kemeriahan itu ada sesuatu yang sayup.
Dalam seremonial itu, antusiasme murid adalah ungkapan paling tulus. Mereka menulis kata-kata dalam kartu, membuat video, dan sekadar mengucapkan kata “terima kasih” dengan mata berbinar. Tidak ada ironi di sana. Namun, seperti semua bentuk sentimentalitas, ketulusan itu pun memiliki batas. Ia menghangatkan, tetapi belum bisa menyembuhkan.
Kehangatan itu seperti cahaya lilin di tengah ruangan besar. Namun, masih belum bisa menyalakan kesejahteraan. Meskipun masih ada negara—yang memegang korek api lebih besar—entah mengapa tak pernah menyala di ranah struktural.
Paulo Freire, dalam Pedagogy of The Oppressed mengingatkan, setiap tindakan simbolik tanpa perubahan struktural akan mempertahankan relasi penindasan dan menghambat perkembangan kesadaran kritis (Paulo Freire, 2000). Begitulah Hari Guru di negeri ini—menjadi pesta kecil, namun tidak merawat luka yang sesungguhnya.
Mungkin Durkheim benar, ia mengatakan bahwa ritus sosial mampu meningkatkan solidaritas (E. Durkheim, 1956). Tetapi, solidaritas seperti apa jika itu hanya dilakukan sehari dalam setahun? Apakah peringatan Hari Guru itu dapat memberikan perubahan untuk kesejahteraan guru honorer? Apakah momentum ini mampu menegakkan martabat guru honorer sebagai warga negara yang dihargai?
Jauh dari Kesejahteraan
Dalam banyak kisah, guru honorer mirip dengan tokoh-tokoh kisah klasik: mereka hidup sederhana, bekerja penuh dedikasi, tetapi upah yang diterima tidak mencukupi untuk menutupi lubang hidup. Pasalnya, masih ditemukan guru honorer yang mendapat gaji Rp300.000 per bulan (Kompas.com, 16/09/2025). Angka yang miris. Bahkan, untuk membeli mimpi pun itu tak mampu.
Kondisi ini menggambarkan sebuah bentuk “dehumanisasi struktural”. Di mana guru honorer masih berada di sudut-sudut ruang sosial yang masih gelap—ruang kemiskinan. Keberadaan yang menggambarkan bukan berarti mereka tidak mampu, tetapi karena negara belum hadir untuk memberikan jawaban yang mencerahkan.
Guru honorer adalah manusia yang berdiri di antara dua kutub yang saling bertentangan: antara panggilan jiwa dan perut lapar. Di ruang kelas mereka berdiri sebagai penjaga pengetahuan, tetapi setelah pulang ia hanyalah buruh yang upahnya sangat jauh dari kata “kehidupan layak”.
Dipandang Sebelah Mata
Secara status, guru honorer sering terkunci dalam kasta yang tidak terlihat. Mereka disebut guru, namun tidak mendapatkan pengakuan secara penuh sebagai subjek yang berdaulat dalam sistem pendidikan. Status “honorer” adalah label tak kasat mata yang menurunkan wibawa administratif.
Memang, dalam konsep Max Weber tentang otoritas rasional-legal—kedudukan seseorang ditentukan oleh jabatan formal, bukan kompetensi personal (Max Weber, 1922). Tapi bagaimana dengan guru honorer yang memiliki kompetensi? Mereka hanya dianggap sebagai figur “yang ada”, namun tidak sungguh-sungguh hadir dalam skema penghargaan oleh negara.
Sebuah bentuk hierarki yang dekaden. Penghargaan diberikan bukan karena dedikasi, tetapi ditentukan oleh status kepegawaian: “honorer”.
Menjadi Korban Kekerasan
Selain jauh dari kesejahteraan dan dipandang sebelah mata, guru pun sering menjadi pihak yang selalu disalahkan. Padahal dalam mendidik, tidak semuanya total menjadi tanggung jawab para guru, tetapi penting juga adanya rangkulan tangan orang tua dan masyarakat.
Guru sering berisiko dimarahi, diadukan, bahkan dianiaya. Ada guru yang dimaki lewat pesan singkat, ada yang dibentak oleh wali murid di depan umum, ada juga yang diseret ke kantor polisi.
Keadaan seperti itu telah menandakan hilangnya wibawa bagi seorang guru. Dan kekerasan adalah tanda masih banyak masyarakat kita yang kehilangan rasa hormat terhadap guru. Padahal, guru adalah manusia yang membawa obor pengetahuan yang bekerja secara intelektual.
Guru sering menjadi kambing hitam—menjadi pelampiasan di tengah posisinya yang rentan dari perlindungan hukum.
Hari Guru Nasional Bagi Guru Honorer
Dalam hati guru honorer, perayaan Hari Guru adalah pergulatan antara dua gema: haru dan getir. Momen yang mengandung lapisan-lapisan makna. Haru karena adanya pengakuan, sedangkan getir karena kebijakan struktural belum berpihak. Perayaan itu menjadi ruang perasaan syukur dan perasaan hampa tanpa harapan kesejahteraan.
Seperti kata Honneth (1995), sebuah pengakuan itu penting. Tetapi pengakuan akan menjadi bermakna jika dibarengi oleh kebijakan struktural. Agar harapan tidak menjadi angin lalu.
Bagi guru honorer, Hari Guru adalah cermin yang merefleksikan diri: mereka melihat antusiasme para murid yang mencintainya, tapi juga melihat negara yang masih belum mengangkat martabat mereka.
Perayaan Hari Guru yang paling jujur adalah sebuah penghormatan yang harus mengangkat martabat guru honorer sebagai manusia. Bukan hanya terletak pada simbolnya semata. Maka Hari Guru harus menjadi doa panjang, bukan sekadar pesta pendek.
Akhirnya, Hari Guru bukanlah sekadar perayaan tanggal dalam kalender. Ia adalah pertanyaan: apakah guru benar-benar dihormati? Seremoni mungkin perlu, tetapi kebijakan tentu lebih penting. Tepuk tangan mungkin indah, tetapi penghidupan yang layak tentu lebih indah. Karena guru honorer bukan sebatas pilar pendidikan, melainkan manusia yang harus disambut oleh kesejahteraan, keamanan, dan rasa hormat yang nyata.
Bangsa yang berakal sehat adalah bangsa yang berani mengangkat para guru honorer ke tempat kehidupan yang layak. Dan bangsa yang memuliakan pendidikan adalah bangsa yang mampu merayakan seremonial menjadi sebuah tindakan nyata. Oleh karena itu, negara harus hadir untuk meningkatkan kesejahteraan guru honorer, memberikan perlindungan hukum, dan memberikan akses pengakuan profesionalitas yang setara.
Dengan itu, perayaan Hari Guru tidak lagi menjadi ironi, melainkan menjadi perayaan yang bermartabat—sebagaimana yang dilakukan oleh para guru setiap hari di sekolah: dalam diam mereka bekerja, dan dalam kesetiaan mereka menggenggam harapan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments