Sore itu, Ahad (9/11/2025), langit Surabaya tampak mendung. Sisa gerimis masih membasahi pelataran SMP Muhammadiyah 2 Surabaya, menyisakan aroma tanah basah yang berpadu dengan semangat para peserta Muhammadiyah Historical Walk (MHW) Tunjungan Edition.
Di tengah suasana itu, Prof. Dr. dr. Sukadiono, MM, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur, tampak menahan langkahnya.
Semula ia berencana segera kembali setelah membuka acara seremonial, mengingat jadwalnya yang padat. Namun, niat itu diurungkannya. Dengan nada tenang, ia meminta asistennya untuk menemuinya di Hotel Majapahit.
Usai sesi foto bersama, Prof. Suko, begitu ia akrab disapa, diminta naik ke podium kecil yang telah disiapkan.
“Dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim, saya berangkatkan peserta Muhammadiyah Historical Walk Tunjungan Edition,” ucapnya lantang.

Tepuk tangan peserta menggema, menandai awal perjalanan menyusuri jejak sejarah dakwah dan pendidikan Muhammadiyah di jantung Kota Pahlawan.
Turun dari podium, Prof. Suko tak segan bergabung bersama para peserta. Mengenakan kaus bertuliskan Muhammadiyah Historical Walk bergambar Masjid Kauman, dia melangkah dengan semangat bersama sejumlah tokoh Muhammadiyah lainnya: Dr. Hidayatullah (Wakil Ketua PWM Jatim dan Rektor Universitas Muhammadiyah Sidoarjo), Prof. Purnawan Basundoro (Guru Besar Unair, Dr. Radius Setiyawan (Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Surabaya), Dr. Suli Da’im (anggota Komisi E DPRD Jawa Timur), serta Dr. Hasan Ubaidillah (Ketua LPCRPM PWM Jatim).
Rute Muhammadiyah Historical Walk, sore itu, membawa mereka melintasi Jalan Genteng Muhammadiyah, sebuah jalan yang bukan sekadar nama, melainkan saksi lahirnya dakwah pendidikan Muhammadiyah di Surabaya. Dari tempat inilah sekolah-sekolah Muhammadiyah pertama di kota ini tumbuh, mengakar kuat dalam denyut sejarah.

Dari Genteng Muhammadiyah, rombongan berbelok ke Jalan Genteng Besar. Di kiri kanan, toko-toko oleh-oleh legendaris masih berdiri dengan wajah kolonial yang sederhana. Etalase berisi kue lapis legit, sambal udang, dan aneka penganan khas Surabaya menggoda siapa pun yang melintas.
Beberapa pedagang menatap rombongan dengan rasa ingin tahu. Di tengah langkah yang riang, Prof. Suko tampak menikmati setiap sudut kota.
Dia sesekali memandang bangunan-bangunan tua berarsitektur art deco peninggalan masa Hindia Belanda, fasad tinggi dengan jendela lebar dan kusen kayu yang masih kokoh.
Ketika rombongan memasuki kawasan Tunjungan, suasana berubah menjadi lebih hidup. Jalan legendaris yang menjadi ikon Surabaya itu sore itu dipenuhi warga yang menikmati akhir pekan. Lampu toko dan kafe mulai menyala, memantul di dinding bangunan kolonial yang berwarna gading pucat, menambah kesan romantis khas kota tua.

“Ini Toko Sepatu Bata masih ada, ya. Lama sekali ini,” ujar Prof. Suko sambil menunjuk bangunan klasik di tepi jalan. Ucapannya disambut tawa kecil para peserta. Seolah nostalgia masa muda kembali menyeruak di tengah langkah-langkah yang membawa mereka ke masa lalu.
Semakin dekat dengan Hotel Majapahit, ikon heritage yang dahulu bernama Hotel Oranje, semangat rombongan justru kian menguat. Di sinilah, lebih dari tujuh dekade silam, perlawanan Arek-Arek Suroboyo melawan penjajah pecah dan dikenang sebagai bagian dari Revolusi 10 November.
Bagi Prof. Suko, Muhammadiyah Historical Walk bukan sekadar kegiatan jalan santai, melainkan perjalanan reflektif yang mengingatkan bahwa dakwah dan pendidikan Muhammadiyah di Surabaya tumbuh seiring denyut kota yang pernah menjadi pusat perlawanan dan peradaban.
Langkah-langkah peserta akhirnya berhenti di halaman Hotel Majapahit. Hujan telah reda sepenuhnya, berganti cahaya jingga yang memancar di langit barat Surabaya.
Di antara dinding-dinding kolonial yang kokoh, seakan terdengar bisikan masa lalu: tentang semangat, tentang perjuangan, dan tentang jejak Muhammadiyah yang kini terus menyala di Kota Pahlawan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments