Sudah menjadi komitmen bahwa dakwah Muhammadiyah harus mampu menyentuh berbagai kelompok masyarakat, termasuk komunitas disabilitas.
Karena itu, Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) PWM Jatim dalam setahun terakhir berupaya melakukan pemetaan, pendampingan, pembinaan, dan pemberdayaan terhadap Komunitas Disabilitas Mandiri (Tasliman) yang berada di Surabaya dan sekitarnya.
Pada 3 Desember 2025—yang setiap tahun diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional (HDI)—upaya perhatian dan kepedulian terhadap penyandang disabilitas diharapkan semakin dioptimalkan.
Meski LDK PWM Jatim baru setahun berinteraksi dengan Komunitas Disabilitas Mandiri (Tasliman), sudah banyak pengalaman yang didapatkan. Pengalaman ini menjadi modal penting untuk penguatan dakwah yang berkelanjutan.
Tema HDI 2025 yakni “Mewujudkan masyarakat yang ramah dan inklusif bagi penyandang disabilitas demi mendorong kemajuan sosial” merupakan tema strategis yang mendorong semua pihak menghadirkan lingkungan yang ramah, bukan kebencian; inklusif, bukan diskriminasi.
Harapannya, kemajuan sosial berupa peningkatan kesejahteraan, kesehatan, keamanan, hingga akses yang lebih luas bagi pemberdayaan dapat terwujud.
Komunitas disabilitas tidak untuk dikasihani. Lebih dari itu, mereka perlu didukung agar kian berdaya, unggul, dan berprestasi. Meski memiliki keterbatasan fisik, semangat mereka untuk memperkuat kolaborasi sangat tinggi.
Ada beberapa catatan selama LDK PWM Jatim berinteraksi dengan Tasliman. Pertama, mereka sangat kompak dan saling membantu meski sama-sama memiliki keterbatasan fisik.
Dengan semangat persaudaraan, mereka saling bahu-membahu dengan ketulusan. Kekompakan ini memperkuat persaudaraan dan meningkatkan rasa percaya diri saat berinteraksi sosial.
Kedua, keterbatasan fisik tidak membuat mereka patah semangat. Justru mereka tampil penuh percaya diri dan memiliki kemampuan lebih yang menjadi bekal dalam berinteraksi.
Seperti saudara kita yang berinisial A, anggota Tasliman yang karena kecelakaan tangan kanannya belum berfungsi optimal meski telah menjalani operasi saraf dan otot.
Untuk aktivitas sehari-hari, ia mampu mengendarai sepeda motor hanya dengan tangan kiri untuk berkoordinasi dan bersilaturahmi, sekaligus berjualan makanan di kawasan Kebraon, Surabaya.
Ada pula S, sejak lahir kaki dan tangannya tumbuh tidak sempurna. Namun mobilitasnya tinggi dalam membuka akses bagi komunitasnya. Setiap hari ia berjualan wedang kopi di kawasan Jl. Kedungsari Surabaya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Juga U, yang tinggal di Kantor Dinas Sosial Sidoarjo. Meski sejak lahir pertumbuhan badannya tidak sempurna, ia mampu membuat beragam karya berupa tas dari kain perca dengan motif kreatif. Karyanya sering diikutkan dalam pameran di berbagai kota.
Keadaan disabilitas tidak membatasi aktivitas mereka. Karena itu, pada momentum HDI kita perlu memperkuat sinergi kemanusiaan untuk pemberdayaan sekaligus pembinaan spiritual.
Mari bersama membangun kepedulian dan kolaborasi bagi komunitas disabilitas mandiri. Kepedulian kita sangat berarti untuk meningkatkan kemampuan mereka sekaligus memperluas akses menuju kemandirian.
Selamat memperingati Hari Disabilitas Internasional. Perluas jejaring pemberdayaan untuk memperkuat kemandirian dan mewujudkan kesejahteraan bagi penyandang disabilitas. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments