Satu tahun lalu, tepatnya (26/1/2025), grup WhatsApp GTK SD Muhammadiyah 1 Babat (SD Musaba) dikejutkan oleh pesan duka dari sesama guru. Pesan itu disampaikan oleh Bu Firda, wali kelas III, pada pukul 21.42 WIB.
“Innalillahi wa inna ilaihi raji’un. Telah meninggal dunia Bu Ernawati, guru kita tercinta, hari ini,” tulisnya.
Pesan tersebut sontak membuat para GTK terhenyak dan sulit mempercayainya. Bu Ernawati, atau yang akrab disapa Bu Erna, dikabarkan telah menghadap Sang Khalik malam itu. Sejumlah guru sempat memastikan kebenaran kabar tersebut hingga akhirnya dikuatkan oleh beberapa rekan lainnya. Grup yang semestinya sepi di jam istirahat pun mendadak ramai oleh ungkapan duka.
Pada (21/1/2025), almarhumah sempat izin pulang lebih awal karena menerima kabar putra semata wayangnya, Byaz, mengalami demam tinggi. Keesokan harinya, (22/1/2025), almarhumah kembali izin tidak masuk sekolah dan menitipkan tugas kelas V-B kepada Bu Dinda.
“Tugasnya sudah saya fotokopi, nanti saya kirim lewat kurir. Kurirnya Mami Jihan,” ucap almarhumah kala itu.
Namun, di waktu bersamaan, almarhumah juga mengalami demam tinggi. Ia sempat memeriksakan diri ke klinik, tetapi belum ditemukan indikasi penyakit tertentu. Kondisinya terus menurun hingga pada Ahad sore, (26/1/2025), ia dilarikan ke IGD RS Muhammadiyah Babat. Seusai Isya, kondisinya semakin melemah dan almarhumah mengembuskan napas terakhirnya di IGD.
Kabar duka itu dengan cepat menyebar ke berbagai kalangan, mulai dari keluarga, tetangga, rekan guru, siswa, wali murid, hingga masyarakat luas.
Kepergian Bu Erna seolah meninggalkan firasat bagi beberapa rekan kerjanya. Bu Sandra, bendahara sekolah sekaligus sahabat dekatnya, sempat menerima pesan WhatsApp di pagi hari sebelum almarhumah wafat.
“Mbak, aku buatkan jamu kunyit gula batu ya, untuk mendinginkan panas badanku.”
Bu Sandra segera membuatkan jamu tersebut dan meminta suaminya mengantar pada sore hari. Namun, dalam perjalanan, jamu itu tumpah dan pecah sehingga tak sampai ke tangan almarhumah. Ia berniat membuatkan kembali keesokan pagi. Sayang, pesan itu tak pernah tersampaikan karena Bu Erna telah lebih dulu berpulang.
Firasat serupa juga dirasakan Bu Dinda, rekan mengajarnya di kelas V. Ia mengaku sempat bermimpi sebelum kepergian almarhumah.
“Saya bermimpi seluruh GTK bersepeda hendak menjenguk orang. Di tengah perjalanan, kami bertemu Bu Erna dari arah berlawanan. Ia tersenyum lebar, mengusap dada, lalu berjalan sendiri tanpa ikut rombongan,” ungkapnya.
Bu Syajar pun baru menyadari firasat itu setelah almarhumah wafat. Pada hari terakhir masuk sekolah, Bu Erna berpamitan sembari berkata, “Aku pulang dulu ya, Bu Syajar. Aku sudah tidak akan ikut boncengan lagi.”
Padahal, selama ini Bu Erna hampir setiap hari dibonceng Bu Syajar karena tidak bisa mengendarai sepeda motor.
Bu Ernawati telah mengabdikan diri sebagai guru di SD Muhammadiyah 1 Babat sejak 2009 hingga akhir hayatnya. Ia merupakan lulusan Universitas Islam Lamongan (Unisla), Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris.
Karena ketidaklinieran bidang studi dengan tugas mengajarnya, almarhumah kembali melanjutkan pendidikan di Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla) dan lulus Program Studi PGSD pada Oktober 2024. Setelah itu, ia mendaftar PPG Dalam Jabatan bersama Pak Sholi, wali kelas VI-B. Saat masa sakitnya, almarhumah menerima kabar lolos administrasi PPG Daljab.
Selama 16 tahun mengabdi, Bu Erna dikenal sebagai pribadi ramah, murah senyum, dan mudah bergaul. Hampir seluruh wali murid kelas I hingga VI mengenalnya dengan baik. Ia selalu menyapa siapa pun dengan senyum manisnya setiap pagi saat berangkat sekolah. Almarhumah terbiasa berangkat mengajar menggunakan becak.
Kenangan itu disampaikan Ketua Komite SD Musaba, Pak Edy Mulyono, dalam Workshop Coding GTK yang digelar empat hari setelah wafatnya Bu Erna.
“Yang paling saya ingat dari Bu Erna adalah senyum manisnya. Dari jauh sudah tersenyum dan menyapa siapa saja,” tuturnya.
Hal senada disampaikan Kepala SD Muhammadiyah 1 Babat, Bu Khusnia Rahmawati. “Bu Erna adalah guru yang selalu total dalam segala hal. Itu yang paling saya rasakan selama bekerja bersamanya.”
Sebagai bentuk penghormatan terakhir, GTK SD Musaba di bawah komando Kepala Sekolah turut merawat jenazah almarhumah, mulai dari memandikan, menyalatkan, hingga prosesi pemakaman. Sejak wafat hingga dimakamkan, para guru setia mendampingi keluarga.
Selamat jalan, Bu Erna. Pahala jariyahmu dalam mendidik siswa-siswi SD Musaba akan terus mengalir. Semoga Allah Swt. menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya.
Aamiin ya rabbal ‘alamin.





0 Tanggapan
Empty Comments