Tujuh Guru MTs Muhammadiyah 1 Taman (Muhita) Sidoarjo mengikuti Workshop Inovasi Pembelajaran Kokurikuler dalam Menyiapkan Siswa Menghadapi Tes Kompetensi Akademik (TKA) yang diselenggarakan oleh Forum Silaturahmi Kepala Sekolah Muhammadiyah (Foskam) Sidoarjo di Aula SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo pada Sabtu (27/9/2025).
Acara ini merupakan langkah strategis dalam menjawab tantangan pendidikan abad ke-21 yang menuntut adanya keseimbangan antara pencapaian akademik dan pembentukan karakter siswa.
Workshop ini dibuka secara resmi oleh Ketua Foskam Sidoarjo, Nanang Rouful Akbar yang dalam sambutannya menekankan pentingnya kolaborasi antar guru untuk membangun ekosistem pembelajaran yang holistik.
“Ibarat sebuah bangunan, akademik adalah fondasi yang kokoh, sementara kokurikuler merupakan tiang dan dinding yang membentuk karakter bangunan tersebut. Keduanya harus berjalan beriringan. Hari ini, kita akan memperdalam kedua aspek penting ini melalui pemaparan dari narasumber yang kompeten di bidangnya,” ujarnya.
Pemateri pertama dalam workshop ini adalah Pengawas Pembina SMP dan SD Kecamatan Sedati, Wulan Ari Handayani, S.Pd., M.Pd. Dalam sesi ini, ia memaparkan materi berjudul “Implementasi Kokurikuler”.
“Bapak dan Ibu Guru yang saya hormati, program kokurikuler ini bukanlah kegiatan sampingan. Ia merupakan ekstensi dan penguatan dari pembelajaran di dalam kelas, yang secara sistematis dirancang untuk mengasah delapan dimensi profil lulusan,” tegasnya.
Ia menyampaikan bahwa kedelapan dimensi yang dimaksud adalah keimanan dan ketakwaan, kewargaan, penalaran kritis, kreativitas, kolaborasi, kemandirian, kesehatan, dan komunikasi.
Lebih dari sekadar teori, ia juga memetakan berbagai kegiatan sekolah ke dalam dimensi-dimensi tersebut.
“Misalnya, kegiatan Tadarus Al-Qur’an dan Muhadharah merupakan contoh konkret penguatan dimensi Keimanan dan Ketakwaan, sekaligus melatih kemampuan Komunikasi serta membangun Kemandirian siswa,” jelasnya.
Contoh lain, lanjutnya, ketika kita mengadakan proyek pembuatan biopori atau penghijauan sekolah, di situlah kita menanamkan dimensi Kewargaan dan Kesehatan. Proses pengerjaannya membutuhkan kolaborasi dan penalaran kritis untuk memecahkan masalah. Bahkan, jika siswa ditantang untuk membuat desain taman yang kreatif, maka dimensi Kreativitas pun akan terasah.
Setelah sesi istirahat, workshop dilanjutkan dengan pemaparan materi kedua oleh seorang praktisi evaluasi pendidikan yang telah berpengalaman lebih dari 15 tahun, Abdullah, M.Pd. Ia menyampaikan materi bertajuk: “Menyusun Soal TKA yang Berkualitas: Dari Kisi-kisi ke Analisis Butir Soal.”
Dengan gaya penyampaian yang metodis dan diselingi humor, Pak Abdul mengulas berbagai kesalahan umum dalam penyusunan soal TKA, mulai dari pembuatan indikator yang tidak sesuai hingga pemilihan opsi jawaban yang kurang efektif.
“Soal yang baik itu seperti teka-teki yang adil. Ia memberikan petunjuk yang cukup bagi siswa yang menguasai materi, namun tetap menjadi tantangan yang mampu memicu daya pikir,” tuturnya.
Selanjutnya, ia memandu peserta secara bertahap, mulai dari penyusunan kisi-kisi yang sesuai dengan level kognitif (C1 hingga C6 dalam Taksonomi Bloom), pemilihan kata kerja operasional yang tepat seperti analisis, bandingkan, dan evaluasi untuk soal-soal berorientasi HOTS hingga teknik merancang pengecoh (distractor) yang tidak dibuat asal, melainkan berdasarkan kesalahan konsep yang umum dilakukan siswa.
Suasana menjadi sangat dinamis ketika salah satu guru Matematika, Arif, mengajukan pertanyaan mengenai cara mengintegrasikan dimensi kokurikuler seperti kolaborasi ke dalam soal TKA yang bersifat individu.
Menanggapi hal tersebut, Abdul memberikan solusi dengan mencontohkan soal cerita kontekstual yang mendorong siswa memahami berbagai perspektif, sebuah bentuk penalaran yang mencerminkan proses kolaboratif.
Workshop ini kemudian ditutup oleh guru SMP Muhammadiyah 1 Sidoarjo, Prima Angga, S.Or., yang juga menyampaikan ringkasan hasil diskusi.
Dalam kesempatan ini, ia mengapresiasi antusiasme seluruh peserta dan berharap agar materi yang diperoleh dari workshop ini dapat segera diimplementasikan dalam Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) serta program kerja masing-masing
“Hari ini kita tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga menyamakan persepsi dan memperkuat komitmen. Mari kita transformasikan ilmu ini menjadi aksi nyata di kelas dan dalam setiap kegiatan siswa. Terima kasih kepada Ibu Wulan dan Bapak Abdul atas ilmu yang luar biasa, serta kepada seluruh Bapak dan Ibu Guru atas partisipasi aktifnya,” pungkasnya.
Acara berakhir pada pukul 15.15 WIB, ditandai dengan pembagian sertifikat kepada para pemateri serta sesi foto bersama.
Workshop ini tidak hanya meninggalkan sertifikat sebagai bukti kehadiran, tetapi yang lebih penting adalah menumbuhkan semangat baru untuk terus berkolaborasi dalam menciptakan pembelajaran yang bermakna bagi siswa-siswi SMP dan MTs Muhammadiyah di Kabupaten Sidoarjo. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments