PWMU.CO – Madrasah Aliyah Muhammadiyah 1 Karangasem (Mamsaka) menggelar silaturahmi wali murid dan sosialisasi program di Aula KH Abdurrahman Syamsuri, Sabtu (9/8/2025). Kegiatan ini diikuti wali murid baru kelas X dari berbagai program unggulan.
Acara dibuka Kepala Mamsaka, Purwanto MPd, yang menekankan pentingnya sinergi antara madrasah, wali murid, dan peserta didik. “Kami berharap wali murid menjadi mitra strategis dalam mendukung setiap program. Keberhasilan anak-anak bukan hanya hasil kerja madrasah, tetapi hasil kerja sama semua pihak,” ujarnya.
Pada sesi sosialisasi, jajaran pimpinan madrasah memaparkan program unggulan, kurikulum, target prestasi, dan fasilitas yang disediakan. Termasuk di antaranya program tahfidz, kelas internasional, pembinaan bahasa asing, dan persiapan masuk perguruan tinggi.
Antusiasme wali murid terlihat dari banyaknya pertanyaan yang diajukan. Salah satunya menyangkut pembiayaan sekolah. “Kami ingin tahu detail pembiayaan, supaya lebih jelas akan pembiayaan yang harus dibayarkan,” kata Yanuar, wali siswa kelas M-ICO.
Pertanyaan lain datang terkait makan siang santri. Beberapa wali mengungkapkan kekhawatiran kesehatan anak-anak yang pulang pukul 14.00.
“Saya berharap ada solusi untuk makan siang anak-anak. Kalau pulangnya jam dua siang, dan harus mempersiapkan diri untuk kegiatan pondok,” ujar salah seorang wali siswa.
Menanggapi hal tersebut, pihak madrasah menegaskan bahwa kesehatan siswa menjadi perhatian utama. Pihaknya akan berkoordinasi dengan pondok dan mengingatkan murid untuk segera makan siang setelah pembelajaran selesai.
Terkait program tahfidz, standar kelulusan minimal ditetapkan 3 juz untuk program reguler dan 5 juz untuk kelas ATCP. Wali murid mengapresiasi kebijakan ini, namun menanyakan fleksibilitas pemilihan juz.
“Urutan juz yang harus disetor minimal adalah juz 1, 2, dan 3. Murid bisa menambah hafalan sesuai kemampuan masing-masing. Kami justru mendorong anak-anak yang mampu untuk menambah capaian hafalannya,” jelas Purwanto.
Isu lain yang dibahas adalah fasilitas untuk murid yang ingin melanjutkan kuliah di Timur Tengah. “Fasilitas terkait siswa yang mau melanjutkan kuliah di Timur Tengah, baik terkait kurikulum dan buku yang digunakan, apakah sudah sesuai dengan kurikulum di sana? Saya ingin tahu sejauh mana pembinaan di Mamsaka mendukung hal itu,” tanya M Ali Affandi, wali murid asal Lamongan.
Purwanto menjelaskan, selain kurikulum nasional, Mamsaka mengintegrasikan pembelajaran bahasa Arab tingkat lanjut dan menggunakan kitab yang sesuai dengan perguruan tinggi di Timur Tengah.
Wali murid juga menyampaikan saran, di antaranya agar tidak ada jam kosong. “Kalau ada jam kosong, yang rugi anak-anak. Sayang waktunya kalau tidak dimanfaatkan untuk belajar,” kata Muhammad Rofiq. Ia juga menekankan pentingnya peran guru dalam membantu pengajuan Kartu Indonesia Pintar (KIP) atau Program Indonesia Pintar (PIP).
Kegiatan ini menjadi forum komunikasi dua arah yang menghasilkan masukan strategis untuk pengembangan program Mamsaka ke depan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments