Pondok Pesantren Ulul Albab Muhammadiyah mengawali kembali kegiatan pengajaran pasca libur Idul Fitri pada Sabtu (28/03/2026).
Pada momen tersebut, Ponpes Ulul Albab Muhammadiyah menggelar acara Silaturrahim dan Parenting yang melibatkan para guru serta wali santri.
Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk mempererat hubungan antara pihak pesantren dan orang tua santri, sekaligus menyatukan visi dalam mendidik generasi yang berilmu dan berakhlak mulia.
Citra Positif Pesantren
Pada kesempatan tersebut, hadir sebagai pemateri seorang mubaligh, Ustadz H Rofi’ Munawar Lc yang menyampaikan materi dengan tema “Mewujudkan Rumah & Pesantren sebagai Madrasah yang Menggembirakan dan Dirindukan.”
Dalam penyampaiannya, beliau menekankan pentingnya pesantren dalam menjaga citra positif di tengah masyarakat serta mampu menepis berbagai stigma negatif yang kerap muncul.
Beliau juga menjelaskan bahwa sistem pendidikan di pesantren harus berlandaskan pada kurikulum utama yang mencakup empat aspek penting, yaitu aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah. Keempat aspek tersebut harus menjadi fondasi dalam setiap proses pembelajaran.
Selain itu, metode penyampaian pendidikan juga harus disesuaikan dengan perkembangan zaman, yaitu dengan cara yang menyenangkan dan mengesankan. Sehingga, anak-anak merasa nyaman, tidak tertekan, serta memiliki kerinduan untuk terus belajar di pesantren.
Tema yang terangkat menekankan bahwa rumah dan pesantren bukan hanya sekadar tempat tinggal dan belajar. Tetapi juga sebagai lingkungan pendidikan yang penuh kasih sayang, menyenangkan, dan menjadi tempat yang dirindukan oleh anak-anak.
Dalam pemaparannya, ia menyampaikan beberapa poin utama dalam mendidik anak, di antaranya:
Pertama, peran orang tua dan guru sebagai pendidik utama. Orang tua di rumah dan guru di pesantren memiliki tanggung jawab besar dalam membentuk karakter anak.
Menurut Rofi, pendidikan tidak hanya sebatas transfer ilmu, tetapi juga mencakup pembentukan akhlak, kebiasaan baik, serta keteladanan dalam kehidupan sehari-hari.
Pesantren yang Dirindukan
Kedua, lanjutnya, adalah menciptakan suasana yang menggembirakan. Lingkungan pendidikan yang baik adalah lingkungan yang penuh kasih sayang.
Kemudian tidak keras atau menakutkan, memberikan apresiasi kepada anak, serta menghindari penggunaan kata-kata kasar maupun hukuman yang berlebihan. Dengan suasana yang aman dan bahagia, anak akan lebih mudah menerima pelajaran.
Ketiga, menjadikan rumah dan pesantren sebagai tempat yang dirindukan. Lingkungan yang ideal adalah yang mampu memberikan kenyamanan dan perhatian.
Dengan demikian, anak merasa betah dan memiliki keinginan untuk kembali, baik ke rumah maupun ke pesantren, tanpa adanya rasa terpaksa.
Melalui kegiatan ini, harapannya terjalin sinergi yang kuat antara orang tua dan pihak pesantren dalam menciptakan lingkungan pendidikan yang tidak hanya mendidik secara intelektual, tetapi juga membangun karakter dan kepribadian anak yang unggul.





0 Tanggapan
Empty Comments