Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Sinergi Dakwah: Nasyiatul Aisyiyah Kota Malang Ikuti Pembinaan Dai-Daiyah Kemenag Kota Malang

Iklan Landscape Smamda
Sinergi Dakwah: Nasyiatul Aisyiyah Kota Malang Ikuti Pembinaan Dai-Daiyah Kemenag Kota Malang
pwmu.co -
 Pembinaan Dai dan Daiyah Tingkat Kota Malang. (Istimewa/PWMU.CO)
Pembinaan Dai dan Daiyah Tingkat Kota Malang. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO Nasyiatul Aisyiyah Kota Malang turut aktif dalam kegiatan Pembinaan Dai dan Daiyah Tingkat Kota Malang yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) Kota Malang pada Selasa, (24/6/2025) bertempat di Kantor Kemenag Kota Malang.

Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas dakwah serta memperkuat sinergi antarpendakwah dalam menjawab tantangan zaman, khususnya di era digital. Salah satu agenda utama dalam kegiatan ini adalah peluncuran buku berjudul “Perjalanan Penyuluh Dakwah: Meretas Jalan Kebaikan”, yang diterbitkan oleh Kemenag Kota Malang.

Dalam sambutannya, Kepala Kemenag Kota Malang, Achmad Shampthon SHI MAg menyampaikan bahwa seorang dai harus mampu menyelesaikan urusan dirinya sendiri terlebih dahulu, sebelum menyampaikan dakwah kepada orang lain.

Ia juga mendorong para dai dan daiyah untuk memanfaatkan Ramadan dengan menulis, sebagai bentuk dakwah digital yang dapat menjangkau khalayak lebih luas secara efektif.

Sebanyak delapan kader Nasyiatul Aisyiyah Kota Malang hadir dan aktif mengikuti kegiatan ini dari awal hingga akhir.

Materi 1: Strategi Komunikasi dalam Dakwah

Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang, Dr Joko Susilo MSi membuka sesi pertama dengan menekankan pentingnya kemampuan komunikasi dalam dakwah. Menurutnya, keberhasilan menyampaikan pesan Islam sangat ditentukan oleh kesan pertama yang dibentuk seorang dai.

“Kesan pertama begitu menggoda. Jika kesan awal kita sudah positif, maka pesan dakwah akan lebih mudah diterima,” jelasnya.

Ia juga menjelaskan bahwa kredibilitas dai dibangun berdasarkan empat sifat kenabian: Siddiq (jujur), Amanah (dapat dipercaya), Tabligh (menyampaikan), dan Fathanah (cerdas).

Selain itu, seorang dai juga harus memiliki: Keterampilan berbicara di depan umum (public speaking), penguasaan terhadap ilmu agama, akhlak yang mencerminkan nilai-nilai Islam, pemahaman sosial dan budaya masyarakat

Dengan bekal tersebut, dakwah tidak hanya tersampaikan, tetapi juga menginspirasi dan menyentuh hati.

Materi 2: Tantangan dan Peluang Dakwah di Era Digital

Dr Halimi Zuhdy MHum, Akademisi dan Praktisi Dakwah Digital membahas peluang dan tantangan dakwah di era digital, serta bagaimana menjadi influencer Islami yang menginspirasi.

Ia menekankan bahwa dakwah saat ini harus dilakukan dengan senyum, kesabaran, dan konsistensi (istiqamah)—bukan dengan permusuhan.

Mengutip pesan para tokoh besar: KH. Hasyim Asy’ari“Dakwah dengan cara memusuhi ibarat membangun kota sambil merobohkan istananya.” KH. Ahmad Dahlan: “Warisan terbesar seorang ayah adalah menjadikan keluarganya sebagai teladan.”

Dr Halimi juga menyampaikan beberapa poin penting: Era digital telah mengubah cara berpikir dan gaya hidup masyarakat, nilai-nilai al Quran harus menjadi fondasi dalam menghadapi tantangan moral, dan informasi tanpa batas di dunia maya berpotensi membawa pengaruh negatif bagi generasi muda.

Data dari Kominfo mencatat lebih dari 3,7 juta konten negatif telah ditangani sejak 2018 hingga September 2023—ini menunjukkan pentingnya konten positif dari para dai dan daiyah. Sebagai penutup, ia mengajak peserta untuk aktif menulis dan berdakwah di media digital.

“Setiap kata yang kita tulis bisa menjadi jalan kebaikan bagi orang lain, sekaligus menjadi amal jariyah bagi kita,” tegasnya. (*)

Penulis Anjani Prameswari Safiratuljannah Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu