SD Muhammadiyah Melirang kembali menunjukkan komitmennya dalam menghadirkan inovasi pendidikan yang relevan dengan perkembangan zaman.
Pada tahun ajaran 2025/2026 ini, sekolah yang terletak di wilayah Melirang tersebut memasuki tahun kedua dalam penerapan Computer Based Test (CBT) yang diterapkan oleh kelas atas mulai kelas 4 sampai kelas 6.
Sedangkan untuk kelas bawah kelas 1-3 masih menggunakan Paper Based Tes (PBT) sebagai model penilaian pada kegiatan Penilaian Tengah Semester (PTS) ganjil.
CBT dipilih sebagai bentuk adaptasi terhadap digitalisasi pendidikan sekaligus upaya membekali siswa dengan literasi teknologi sejak dini. Tahun sebelumnya, penerapan CBT di sekolah ini mendapat sambutan positif dari siswa, guru, maupun orang tua.
Melalui pengalaman pertama tersebut, sekolah kemudian melakukan evaluasi dan perbaikan agar pelaksanaan tahun kedua lebih matang dan optimal.
Dalam perspektif kurikulum, ujian berbasis CBT sejatinya bukan hanya soal mengganti kertas dengan layar komputer. Lebih dari itu, ini adalah bagian dari strategi membangun literasi digital sejak dini.
Anak-anak kita akan tumbuh di era teknologi yang serba cepat, sehingga sekolah harus menjadi ruang latihan mereka untuk terbiasa menggunakan perangkat digital secara positif dan produktif.
Fichrul Efendi, S.Pd., M.Pd. selaku Kepala SD Muhammadiyah Melirang menyampaikan bahwa penggunaan CBT memberikan banyak manfaat. Selain mengurangi penggunaan kertas, ujian berbasis komputer juga membantu siswa terbiasa dengan teknologi, meningkatkan efisiensi waktu, serta mempermudah proses koreksi hasil ujian.
“Guru tidak lagi harus memeriksa lembar jawaban secara manual, karena sistem sudah secara otomatis merekap nilai. Hal ini tentu membuat proses penilaian lebih cepat, transparan, dan akurat,” ujarnya.
Penerapan Ujian dengan Sistem Digital
Sebagai Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan di SD Muhammadiyah Melirang, Ida Yuliati, S.Pd merasa bangga sekaligus bersyukur karena sekolah kami telah memasuki tahun kedua dalam menerapkan Computer Based Test (CBT) pada pelaksanaan Penilaian Tengah Semester (PTS).
“Perubahan ini bukanlah langkah sederhana, tetapi merupakan bagian dari ikhtiar kami untuk terus menghadirkan pembelajaran yang adaptif terhadap perkembangan zaman,” tuturnya.
Menariknya, antusiasme siswa terlihat semakin besar. Banyak dari mereka merasa lebih percaya diri dan termotivasi mengikuti ujian berbasis komputer.
“Saya senang karena soalnya lebih mudah dibaca, tinggal klik saja untuk menjawab,” ujar Amar murid kelas IV.
Hal ini menunjukkan bahwa CBT bukan hanya sekadar inovasi teknis, tetapi juga berdampak positif pada psikologis peserta didik.
Para orang tua pun memberikan apresiasi. Mereka menilai langkah sekolah sejalan dengan kebutuhan generasi saat ini yang tidak bisa dilepaskan dari dunia digital. Dengan pembiasaan sejak SD, anak-anak diharapkan mampu menghadapi tantangan pendidikan di jenjang berikutnya dengan lebih siap.
Penerapan CBT di SD Muhammadiyah Melirang menjadi bukti nyata bahwa sekolah dasar pun dapat bertransformasi mengikuti perkembangan teknologi. Dengan konsistensi dan evaluasi berkelanjutan, model ini diharapkan semakin sempurna serta dapat menjadi contoh baik bagi sekolah-sekolah lain di sekitarnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments