Kegiatan Perkemahan Jumat-Sabtu (Perjusa) sekaligus Malam Bina Iman dan Takwa (Mabit) yang digelar SMP Muhammadiyah 22 Mantup pada (26–27/9/2025) menjadi momentum penting bagi para siswa untuk menambah ilmu, pengalaman, serta motivasi.
Salah satu sesi utama dalam kegiatan ini adalah penyampaian materi Hizbul Wathan (HW) oleh Bunda Amalia Kusuma Citra, atau yang akrab disapa Bunda Citra. Beliau dikenal sebagai pembina sekaligus pelatih Hizbul Wathan SMP Muhammadiyah 22 Mantup, serta anggota bidang diklat Kwarda Hizbul Wathan Lamongan.
Dalam penyampaiannya, Bunda Citra menekankan pentingnya memahami jati diri Hizbul Wathan sebagai gerakan kepanduan Islam yang lahir dari rahim Muhammadiyah. HW didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada 1918 di Yogyakarta dengan tujuan mendidik generasi muda agar menjadi Muslim beriman, berilmu, berakhlak mulia, dan siap menjadi kader persyarikatan, umat, serta bangsa. “Menjadi pandu Hizbul Wathan berarti siap menjadi kader Muhammadiyah sejati yang berakhlak mulia, terampil, dan bermanfaat bagi sesama,” ungkapnya.
Bunda Citra juga mengulas sejarah singkat HW yang awalnya bernama Padvinder Muhammadiyah sebelum akhirnya KH Hadjid mengganti namanya menjadi Hizbul Wathan pada 1920, yang berarti cinta tanah air. Ia menegaskan bahwa HW memiliki perbedaan dengan Pramuka, karena HW bernaung langsung di bawah Muhammadiyah dengan basis nilai-nilai Islam, sedangkan Pramuka bersifat nasional umum.
Lebih jauh, ia memaparkan Janji Pandu HW yang berisi tekad setia kepada Allah, undang-undang, dan tanah air, serta menolong sesama semampu pandu. Bunda Citra juga menyampaikan sepuluh nilai utama dalam Undang-Undang Pandu HW, seperti dapat dipercaya, setia, suka menolong, cinta damai, sopan, taat, sabar, hemat, hingga suci dalam hati dan perbuatan. “Nilai-nilai ini harus benar-benar dihayati dalam kehidupan sehari-hari,” tuturnya.
Selain menjelaskan tentang definisi, sejarah, dan tujuan HW, Bunda Citra memberikan motivasi mendalam tentang peran siswa sebagai kader Muhammadiyah. Menurutnya, kader sejati tidak cukup hanya cerdas secara akademik, melainkan juga unggul dalam akhlak dan keterampilan hidup. Akhlak mulia menjadi fondasi dalam bertindak, sementara keterampilan kepanduan seperti disiplin, kerja sama, kepemimpinan, dan kemandirian akan membentuk karakter yang tangguh.
“Sebagai kader HW, kalian harus siap menjadi generasi emas Muhammadiyah yang kelak akan membawa perubahan positif bagi bangsa. Ingat, hidup yang terbaik adalah hidup yang bermanfaat. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW, sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain,” pesan Bunda Citra di hadapan peserta perkemahan.
Kegiatan Perjusa dan Mabit ini menjadi sarana pendidikan karakter yang menyenangkan sekaligus bermakna. Dengan pembekalan materi Hizbul Wathan ditambah motivasi sebagai kader Muhammadiyah, para siswa diharapkan tidak hanya bersemangat mengikuti kegiatan perkemahan, tetapi juga siap menerapkan nilai-nilai HW dalam kehidupan sehari-hari. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments