Siswi jurusan Kuliner SMK Muhammadiyah 2 (SMK Muda) Genteng, Banyuwangi, mengolah limbah pelepah pisang menjadi keripik renyah pada Sabtu (18/10/2025).
Sabtu tersebut merupakan acara puncak dari pelaksanaan kegiatan kokurikuler sekolah, yang diikuti oleh seluruh siswa SMK Muda Genteng, termasuk siswa dari Jurusan Kuliner.
Dalam pelaksanaannya, Wali Kelas XI Kuliner, Sofyan Kriswantoni, membagi siswa menjadi beberapa kelompok yang masing-masing terdiri dari enam siswa.
“Kelompok tersebut terdiri dari Naila Ainun, Friska Arista, Meysa Ardi, Nova Dwi Rahayu, Tri Ulan Cahya, dan May Azahro,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa keenam siswa yang tergabung dalam kelompok tersebut sepakat untuk mengolah produk keripik dari pelepah pisang karena bahan tersebut mudah ditemukan di lingkungan sekitar.
Untuk membuat keripik pelepah pisang, beberapa bahan yang diperlukan antara lain: pelepah pisang, tepung serbaguna, garam, air, minyak goreng, dan bubuk cabe.
Sementara itu, cara pengolahannya dimulai dengan mengambil bagian tengah dari pelepah pisang, lalu merendamnya dalam air garam selama 15 menit. Setelah itu, pelepah pisang dibilas hingga bersih sebanyak tiga kali.
Selanjutnya, pelepah pisang dilumuri dengan tepung serbaguna, baik tepung basah maupun tepung kering.
Proses berikutnya adalah menggoreng keripik dengan api yang tidak terlalu panas hingga berwarna kecoklatan dan siap disajikan.
Nova Dwi Rahayu menceritakan pengalamannya dalam pembuatan keripik ini.
“Awalnya, saya tidak menyangka bahwa pelepah pisang bisa diolah menjadi makanan. Ternyata bisa dan rasanya gurih serta renyah, apalagi setelah diberi bumbu,” terangnya.
Ia juga menyampaikan bahwa melalui kegiatan ini, dirinya belajar cara mengolah bahan limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual.
“Saya jadi termotivasi untuk terus berinovasi membuat camilan sehat dari bahan-bahan alami,” sambungnya.
Teman sekelompoknya, Naila Ainun Nisa juga mengatakan hal yang serupa.
“Kegiatan ini seru banget! Selain menambah pengalaman, saya juga belajar tentang pentingnya mengurangi limbah organik. Dari yang tadinya dianggap sampah, ternyata bisa jadi produk unik dan punya potensi bisnis. Saya bangga bisa ikut berkontribusi,” ungkapnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments