Peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw SMA Muhammadiyah 2 (SMA Muha) Genteng, Banyuwangi, dilaksanakan pada Kamis (12/9/2025) di Masjid Alumni. Dalam acara tersebut, penceramah menyampaikan kunci sukses dengan konsep 5T.
Peringatan yang dihadiri warga sekolah, mulai dari guru, karyawan, hingga seluruh siswa kelas X hingga XII, berlangsung kompak dan meriah meski tanpa suguhan makanan ringan maupun makanan berat. Tahun ini, panitia mengusung tema “GenZ The Living Qur’an: Menghidupkan Kembali Akhlak Nabi Saw melalui Hafalan Quran”.
“Tema ini kami pilih karena ada dua agenda penting. Pertama, peringatan Maulid Nabi itu sendiri, dan kedua tasmi’ hafalan Al-Quran dari siswa ekstrakurikuler tahfidz. Dua acara ini sengaja kami gabung mengingat waktu yang terbatas. Agustus sudah tersita untuk kegiatan lain, sementara pertengahan September ada jadwal Penilaian Tengah Semester,” ujar Abu Tholib SHum, guru pembina Remaja Masjid (Remas) dan tahfidz SMA Muha.
Tepat pukul 08.00 WIB acara dimulai, dipandu oleh Rara Adi Viana (XII.2) dan Naysila Azzahra (XII.1), ketua dan wakil Remas. Rangkaian acara terdiri dari pembukaan, pembacaan ayat suci Al-Quran, sambutan kepala sekolah, mauidhah hasanah, dan doa penutup.
Lantunan ayat suci Al-Quran dibacakan oleh Al-Agil (X.3), dilanjutkan sambutan Kepala SMA Muha Genteng, Drs Suharyono. Dalam sambutannya, ia menyampaikan terima kasih kepada ustaz penceramah yang hadir.
Acara inti berupa mauidhah hasanah disampaikan Ustaz Arief Maeshawl Nur Jagad SPd, Direktur Muhammadiyah Boarding School (MBS) Gambiran Banyuwangi. Ia mengawali ceramah dengan menukil QS Fathir: 29,
“Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca Kitab Allah dan mendirikan salat serta menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka, baik secara diam-diam maupun terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi,” ujarnya sambil menjelaskan maknanya.
Dalam penjelasannya, Ustaz Arief menyampaikan kunci sukses setiap muslim dengan konsep 5T, yaitu tilawah, tahfidz, terjemah, tafhim, dan tafkhim.
“Tilawah, yakni menyempatkan membaca Al-Quran setiap hari walau satu ayat. Tahfidz, berupaya menghafal ayat setelah lancar membaca. Terjemah, menghafal arti dari ayat yang telah dihafalkan. Tafhim, berusaha memahami maknanya. Tafkhim, yakni mengamalkannya. Jika mampu menjalankan secara istiqamah, insyaallah itulah orang sukses menurut Al-Quran,” jelasnya.
Acara ditutup dengan doa, kemudian siswa tahfidz melanjutkan kegiatan tasmi’, sementara siswa lain kembali ke kelas untuk mengikuti pembelajaran. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments