Pagi itu, Ballroom EdHotel SMK Muhammadiyah 8 Siliragung (SMK Models) tampak berbeda dari biasanya. Bukan siswa yang lalu-lalang dengan seragam praktik, melainkan puluhan guru dari berbagai penjuru Banyuwangi yang datang dengan semangat baru.
Ada yang dari kota, ada pula yang dari pelosok desa. Mereka semua hadir bukan hanya untuk belajar, tapi juga untuk berbagi dalam sebuah forum yang mengusung semangat kolaborasi dan pembaruan Workshop Deep Learning untuk guru-guru Muhammadiyah se-Banyuwangi.
Bagi SMK Models, menjadi tuan rumah forum ini bukan sekadar soal menyediakan ruang dan fasilitas. Lebih dari itu, ini adalah panggilan untuk ikut ambil bagian dalam membangun masa depan pendidikan Muhammadiyah di tingkat daerah. Sekolah yang terletak di kawasan selatan Banyuwangi ini membuktikan bahwa kontribusi terhadap dunia pendidikan bisa dimulai dari mana saja bahkan dari sudut kecil yang penuh semangat seperti Siliragung.
Kepala sekolah, Muhlas Efendi ST menyambut para peserta dengan kalimat yang menggugah.
“Jangan lelah menjadi pelita di tengah gelapnya zaman, karena dari tangan guru lahir generasi yang membangun peradaban,” ujarnya.
Suasana menjadi hening sejenak. Kata-kata itu seolah menampar kesadaran setiap guru yang hadir, bahwa profesi mereka bukan sekadar pekerjaan, tapi peran utama dalam perubahan zaman.
Forum yang Dinamis, Guru yang Reflektif

Kegiatan yang digelar oleh Majelis Dikdasmen dan PNF PDM Banyuwangi ini mengangkat tema pembelajaran mendalam atau deep learning. Bukan tanpa alasan perubahan kurikulum nasional menuntut para guru untuk tidak hanya mengajar, tapi juga memahami cara berpikir siswa secara lebih mendalam.
Dalam forum ini, para peserta diajak mengeksplorasi konsep growth mindset, praktik membuat modul ajar berbasis pendekatan deep learning, hingga berbagi pengalaman nyata di lapangan. Setiap sesi berlangsung dengan hangat dan terbuka. Diskusi lintas jenjang membuat suasana semakin kaya. Guru SD, SMP, dan SMA / SMK duduk bersama dalam satu meja, membuka ruang dialog yang biasanya terpisah oleh batas-batas institusi.
Vitrotin Azizah, guru dari SD Muhammadiyah 2 Pakisduren, mengaku sangat terkesan.
“Memahami kurikulum baru sebelum diterapkan kepada anak-anak itu sangat penting. Forum ini bukan cuma tempat belajar, tapi juga tempat bertemu, berdiskusi, dan memperluas cara pandang saya sebagai guru,” katanya sambil tersenyum.
Bagi Vitrotin, perjalanan dari desanya ke Siliragung bukan sekadar menghadiri pelatihan. Ia merasa pulang dengan pemahaman baru yang akan dibawanya ke ruang kelas—kepada anak-anak yang menanti pencerahan.
Menjadi tuan rumah acara sebesar ini tentu tidak mudah. Namun SMK Muhammadiyah 8 Siliragung tampil dengan kesiapan yang patut diapresiasi. Penataan ruang, fasilitas EdHotel yang nyaman, hingga susunan acara yang rapi mencerminkan komitmen dan profesionalisme yang tinggi.
Sekolah ini seolah sedang menunjukkan bahwa mereka bukan hanya institusi yang mendidik siswa, tapi juga rumah besar bagi para guru. Sebuah tempat yang siap menampung gagasan, menyulut semangat, dan menjadi panggung bagi kolaborasi lintas sekolah.
Forum ini menjadi cermin dari filosofi pendidikan Muhammadiyah itu sendiri—bergerak bersama, membangun dari bawah, dan tidak berhenti belajar.
Di tengah tantangan pendidikan yang terus berubah, SMK Models menegaskan eksistensinya sebagai simpul penting dalam jaringan pendidikan Muhammadiyah di Banyuwangi. Lokasinya yang jauh dari pusat kota tidak menghalangi semangat untuk maju. Justru dari tempat inilah, nyala perubahan dinyalakan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments