SMP Muhammadiyah 14 Driyorejo (Spemia) Gresik melaksanakan kokurikuler pada pekan ketiga setelah melaksanakan Sumatif Akhir Semester (SAS) pada semester ganjil. Tujuan dari kegiatan ini untuk memperluas pengalaman dan meningkatkan karakter siswa dan siswi dalam hal kerja sama, kreativitas, dan kemandirian.
Kokurikuler diadakan selama satu pekan pada Senin sampai Jumat, (15-19/12/2025) dan diikuti oleh seluruh siswa dan siswi Spemia yang berjumlah 105 orang dari kelas VII, VIII, dan IX.
Rutinitas harian dilaksanakan seperti biasanya yaitu sholat dhuha dan murojaah bersama selama satu jam. Hari pertama dan kedua kegiatan ini diisi dengan materi mengenai kokurikuler dan ditunjukkan sebuah video contoh kegiatan untuk siswa dan siswi untuk tiga hari ke depan.
Tema kokurikuler di Spemia adalah warisan budaya untuk masa depan, melestarikan batik, shibri, dan ecoprint sebagai identitas bangsa. Tema ini berasal dari salah satu guru seni budaya dan prakarya di Spemia yaitu Ainin Nurul Hayati, S.Pd. Ia juga yang akan memberikan banyak arahan untuk praktik pembuatan batik, shibori, dan ecoprint selama satu pekan ini.
Setiap kelas dibagi dalam membuat karya pada kegiatan kokurikuler ini. Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya yang akan diberikan tugas yang sama tidak dengan tahun ini. Setiap kelas membuat karya yang berbeda-beda. Kelas VII membuat shibori, kelas VIII ecoprint, dan kelas IX membatik yang akan dibagi membentuk kelompok. Setiap karya memiliki teknik dan tingkat kesulitannya masing-masing.
Pembuan shibori oleh kelas VII dilakukan dengan beberapa tahapan dari proses merendam kain pada cairan water glass, teknik lipat atau ada yang dengan mengikat kain baru dikasih pewarna ada yang dengan dicelupkan atau hanya disemprotkan.
Semua siswa memiliki caranya masing-masing, setiap siswa sangan mandiri dalam hal ini dan beberapa menunjukkan kreativitasnya. Salah satu kelompok yang menarik adalah kelompoknya Arlan, banyak sisi yang dikasih karet sehingga membentuk sebuah pola begitupun cara pewarnaannya yang terstruktur.
“Ini gampang cara buatnya, aku bisa, kemarin sudah cari rekomendasi video,” ujar Arlan dengan antusias.
Pembuatan ecoprint oleh kelas VIII berjalan begitu lancar, tidak hanya asal pukul tapi kita harus memperhatikan pola dan juga harus berhati-hati agar tidak menembus pada bagian belakang totebag. Lapisan plastiknya harus rata. Cara pukulnya juga jangan terlalu keras atau terlalu pelan, jika terlalu pelan yang terjadi pigmen daunnya tidak keluar.
Plastik yang melapisi daun atau bunganya juga tidak asal diangkat, harus menunggu kering agar warna yang sudah menempel pada totebag tidak hilang.
Pembuatan batik oleh kelas IX dipenuhi dengan antusias yang tinggi, alat dan bahan sudah disediakan yaitu satu set alat membatik dan juga medianya yaitu berupa totebag yang sudah ada pola batiknya. Batik adalah salah satu warisan budaya yang harus tetap dilestarikan, menjadi ciri khas dan daya tarik sendiri bagi negara-negara lain.
Namun, sayangnya batik canting sekarang lebih jarang dan lebih banyak batik cetak. Di kegiatan kokurikuler ini mereka belajar bahwa pembuatan batik dilakukan secara mencanting, tidak instan.
Melalui kegiatan kokurikuler ini siswa dan siswi Spemia bisa terus mencintai seluruh warisan budaya, tetap bangga, dan terus melestarikannya.






0 Tanggapan
Empty Comments