Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

SMP Muhammadiyah 17 Laren Gelar Muhadloroh Sebelum Kegiatan Belajar

Iklan Landscape Smamda
SMP Muhammadiyah 17 Laren Gelar Muhadloroh Sebelum Kegiatan Belajar
SMP Muhammadiyah 17 Laren Gelar Muhadloroh Sebelum Kegiatan Belajar. (Fatchul Mubin/PWMU.CO)
pwmu.co -

Setiap pagi pukul 07.00–07.45 WIB, siswa-siswi SMP Muhammadiyah 17 Keduyung, Laren, Lamongan, berkumpul di aula sederhana yang berada di tepi Bengawan Solo. Setelah apel pagi, mereka mengikuti program tahsin (perbaikan bacaan al-Qur’an) dan tahfidh (hafalan al-Qur’an).

Namun, suasana Selasa pagi (4/11/2025) tampak sedikit berbeda. Wajah sebagian siswa terlihat antusias, sementara yang lain justru tampak tegang. Pasalnya, setiap hari Selasa diadakan kegiatan Muhadloroh, latihan berpidato yang kini menjadi agenda rutin sekolah.

Menurut pihak sekolah, pemilihan waktu sebelum kegiatan belajar dinilai paling efektif agar semua siswa dapat berpartisipasi. “Kalau sore sudah banyak kegiatan ekstrakurikuler, sedangkan malam hari tidak memungkinkan karena jarak rumah siswa jauh dari sekolah,” jelas salah satu guru pembina.

Rangkaian acara Muhadloroh dimulai dengan pembukaan, tilawah Al-Qur’an, menyanyikan Mars IPM, penyampaian pidato, pesan pembina, dan doa penutup. Qurrotul A’yun, siswi kelas VII, tampil percaya diri sebagai Master of Ceremony (MC) dan sukses memandu acara dengan lancar.

Meski istilah Muhadloroh secara bahasa Arab berarti “pengajian umum” atau “penyampaian kuliah”, kegiatan ini lebih tepat disebut mumarosah (latihan). Namun, istilah muhadloroh sudah populer di kalangan pelajar Muhammadiyah sebagai kegiatan orasi atau ceramah siswa.

Kegiatan Muhadloroh di SMP Muhammadiyah 17 Keduyung telah berlangsung lebih dari tiga bulan. Para siswa mengikuti dengan tertib karena didampingi guru pembina, bahkan diwajibkan membuat rangkuman dari materi yang disampaikan. Uniknya, bagi siswa yang kurang disiplin, ada sesi khithobah mufaja’ah (pidato spontan) yang kerap membuat jantung berdebar.

Meski begitu, masih banyak siswa yang kesulitan menyusun teks pidato, apalagi menghafalnya dalam durasi lima menit. Akibatnya, sebagian besar masih berpidato dengan membaca teks.

Melihat hal itu, salah satu guru, Fatchul Mubin, M.A., memberikan kiat sederhana agar siswa mudah menyusun pidato:

Iklan Landscape UM SURABAYA

Satu, Tentukan judul yang spesifik, misalnya Puasa Ramadhan. Dua, Jelaskan makna, baik secara bahasa maupun istilah. Tiga, Uraikan hikmah dan ancaman, bagi yang melaksanakan maupun meninggalkan.

Empat, Sertakan dalil, dari al-Qur’an atau hadits. Lima, Berikan pesan atau himbauan di bagian akhir.

“Agar isi pidato lebih menarik, tambahkan kisah yang relevan dan jangan ragu meminta bimbingan guru,” ujar Fatchul Mubin yang juga pengajar Bahasa Arab dan hobi tenis meja itu.

Menurutnya, “Pidato tanpa teks selama lima menit akan lebih berkesan daripada membaca teks selama dua puluh lima menit.”

Sementara itu, Kepala Sekolah Faizin, S.Pd., menegaskan bahwa kegiatan Muhadloroh bertujuan menumbuhkan keberanian berbicara di depan umum, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Arab serta menanamkan disiplin dan tanggung jawab pada diri siswa. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡