Setiap bangsa, setiap komunitas bahkan setiap individu pasti membutuhkan figur teladan.
Karena sosok teladan itu dapat menjadi panutan dalam menentukan arah kehidupan, standar moral, dan inspirasi dalam menghadapi tantangan.
Jika kita melihat sejarah kehidupan manusia, sesungguhnya tidak ada figur manusia yang benar-benar sempurna dan dapat diteladani — sebagaimana kehidupan Nabi Muhammad SAW.
Maka umat Islam patut bersyukur karena hadirnya sosok uswah ḥasanah (teladan terbaik) paripurna ini. Keunggulan akhlak, perilaku, kepemimpinan, bisnis, pendidikan, rumah tangga, ibadah dan aspek lainnya ada pada diri beliau.
Inilah salah satu karunia terbesar dari Allah kepada umat manusia — yang pantas kita syukuri dengan penuh kebahagiaan. Rasa syukur ini bisa kita wujudkan dalam bentuk peringatan kelahirannya.
Figur paripurna
Allah menegaskan dalam firman-Nya:
> وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berada di atas budi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Ulama tafsir seperti Ibn Kathīr menegaskan dalam Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm (jilid 4, hlm. 331), bahwa ayat ini menerangkan tentang Nabi yang memiliki puncak akhlak mulia tidak ada tandingannya. Bahkan akhlak beliau menjadi cerminan Al-Qur’an itu sendiri.
Dalam berbagai aspek kehidupan, Nabi Muhammad SAW selalu menjadi teladan utama bagi umat manusia. Keteladanan beliau tercermin dalam setiap peran yang dijalani, antara lain:
- Sebagai seorang anak, sejak kecil beliau menunjukkan bakti kepada kakeknya, Abdul Muththalib, dan pamannya, Abu Thalib, meskipun telah yatim sejak usia dini.
- Sebagai seorang suami, beliau dikenal penuh kelembutan dan kasih sayang. Aisyah RA pernah bersaksi, “Akhlak Nabi itu adalah Al-Qur’an” (HR. Muslim, no. 746).
- Sebagai seorang ayah dan kakek, beliau sangat penyayang. Bahkan, pernah memangku cucunya, Hasan dan Husain, di punggungnya ketika sedang salat.
- Sebagai seorang pebisnis, beliau selalu jujur dan terpercaya, hingga masyarakat Mekah menjulukinya al-Amīn (yang dapat dipercaya).
- Sebagai seorang pemimpin, beliau memimpin dengan adil, bijaksana, dan merakyat. Meski menjadi kepala negara, beliau tidak segan menambal bajunya sendiri.
Kesempurnaan multidimensi tersebut belum pernah kita temukan bandingannya di muka bumi ini..
Dari dunia Barat banyak di klaim adanya figur-figur besar, tetapi tetap saja tidak paripurna kesempurnaannya. Keistimewaan mereka hanya terbatas pada bidang-bidang tertentu atau spesifik semata, misalnya: Albert Einstein (1879–1955): jenius dalam fisika modern. Kehidupan rumah tangganya justru kacau. Maka Einstein tidak bisa disebut figur teladan dalam aspek keluarga atau moral. Atau Mother Teresa (1910–1997) yang sering disebut sebagai simbol kemanusiaan. Tetapi dia hanya berfokus pada bidang amal sosial dalam arti yang relatif terbatas.
Ada pula Friedrich Nietzsche (1844–1900), disebut sebagai filsuf besar dengan konsep nihilismenya. Tapi ide nihilismenya merusak generasi. Dan bahkan hidupnya justru berakhir dalam penderitaan dan sakit jiwa. Juga Karl Marx (1818–1883) dengan ideologinya yang menyerukan kesetaraan. Tetapi gagasannya tersebut telah melahirkan rezim tirani di berbagai negara.
Dengan contoh-contoh tersebut, sama artinya negeri Barat tidak pernah memiliki figur paripurna yang bisa menjadi teladan pada semua aspek kehidupan.
Kebahagiaan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW
Allah dalam firman-Nya memerintahkan kita untuk berbahagia atas karunia terbesar ini:
> قُلْ بِفَضْلِ اللَّهِ وَبِرَحْمَتِهِ فَبِذَٰلِكَ فَلْيَفْرَحُوا ۖ هُوَ خَيْرٌ مِمَّا يَجْمَعُونَ
“Katakanlah: Dengan karunia Allah dan rahmat-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Itu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (QS. Yunus: 58)
Dalam Jāmi‘ al-Bayān karya Imam al-Ṭabarī (jilid 15, hlm. 132), disebutkan bahwa karunia (faḍl) dalam ayat ini adalah Islam, sementara rahmat (raḥmah) adalah Nabi Muhammad SAW.
Pada ayat yang lain Allah berfirman:
> وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِّلْعَالَمِينَ
“Dan tidaklah Kami mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiyā’: 107)
Imam Fakhruddin al-Rāzī dalam Mafātīḥ al-Ghayb menafsirkan bahwa rahmat terbesar bagi manusia adalah diutusnya Nabi Muhammad SAW, yang membawa syariat, petunjuk dan keteladanan bagi seluruh manusia. (jilid 18, hlm. 141),
Relevansinya di era sekarang
Dunia modern tengah menghadapi krisis figur. Para pemimpin kerap terjebak dalam korupsi moral maupun material, para ilmuwan besar tidak selalu mampu menjadi teladan akhlak, dan para aktivis kemanusiaan pun belum tentu dapat memberi inspirasi yang menyeluruh.
Dalam situasi demikian, sosok Nabi Muhammad SAW hadir sebagai jawaban. Beliau mengajarkan keseimbangan dalam seluruh dimensi kehidupan: spiritual, moral, sosial, politik, pendidikan, ekonomi, hingga keluarga. Inilah yang menjadikan umat Islam istimewa, karena memiliki teladan universal yang relevan sepanjang zaman.
Dari perbandingan ini, tampak jelas bahwa hanya umat Islam yang memiliki figur panutan paripurna, yakni Nabi Muhammad SAW. Keberadaan beliau adalah karunia terbesar dari Allah, rahmat yang meliputi seluruh alam. Maka sudah sepantasnya umat Islam berbahagia dan bersyukur atas kelahiran beliau, sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah pada QS. Yunus: 58.
Kebahagiaan ini tentu bukan sekadar seremonial, melainkan juga momentum untuk meneladani beliau dalam setiap aspek kehidupan. Sebab, dengan mengikuti Nabi, kita bukan hanya menjadi umat yang istimewa, tetapi juga turut menjaga keberlangsungan rahmat Allah bagi semesta.***






0 Tanggapan
Empty Comments