“Bekerjalah kamu, maka Allah akan melihat pekerjaanmu…” (QS. At-Taubah: 105) menjadi nafas gerakan yang menghidupkan Muhammadiyah. Ayat ini menjadi pegangan siapa saja yang terlibat dalam Gerakan Muhammadiyah, mulai dari Kyai Haji Ahmad Dahlan hingga para kader di pelosok negeri pada saat ini. Pesannya jelas: setiap amal, sekecil apa pun, akan disaksikan, dinilai, dan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Sejak awal mendirikan Muhammadiyah, Kyai Dahlan mengajarkan bahwa bekerja itu bukan semata-mata dalam upaya mencari nafkah belaka. Bekerja itu juga merupakan bagian dari ibadah dan pengabdian. Terlebih pada saat itu, kondisi negeri Indonesia yang masih berada dalam kungkungan kaum penjajah dari Belanda. Keterbatasan pendidikan, rendahnya akses kesehatan, dan lemahnya pemahaman agama menjadi persoalan dan tantangan besar.
Dari Yogyakarta, semangat Kyai Dahlan menjalar ke seluruh penjuru negeri. Melalui dakwah bil hal, Muhammadiyah mendirikan berbagai Amal Usaha. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tersebut dibawah tanggungjawab atau naungan majelis dan lembaga. Lembaga dan majelis dibentuk agar AUM dapat fokus. Maka dibentuklah Majelis Pendidikan Dasar dan Menengah yang bertugas mengawasi dan mengelola sekolah-sekolah Muhammadiyah, Majelis Penolong Kesengsaraan Umat (kini berubah menjadi Majelis Kesehatan Umum/MPKU) yang fokus menangani masalah kesehatan, dan sebagainya.

Wujud nyata Gerakan Muhammadiyah
Salah satu kisah inspiratif datang dari Kyai Sujak, kader Muhammadiyah yang bermimpi mendirikan rumah sakit. Banyak yang menilai mimpi itu mustahil, apalagi di masa keterbatasan ekonomi dan fasilitas. Namun Kyai Ahmad Dahlan memberi “restu dan keyakinan” bahwa cita-cita mulia ini patut diperjuangkan. Kini, puluhan rumah sakit Muhammadiyah berdiri di berbagai wilayah Indonesia untuk memberi pelayanan kesehatan berkualitas tanpa memandang status sosial pasien.
Berikutnya Muhammadiyah juga membangun sejumlah perguruan tinggi, sekolah dan madrasah — SD/MI, SMP/MTs, SMA/MA/SMK. Data terakhir menunjukkan adanya ribuan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan yang tersebar dari Sabang sampai Merauke. Ini menjadi bukti nyata dari komitmen Muhammadiyah untuk mencerdaskan bangsa.
Dari kota besar hingga pelosok desa, dari daerah aman hingga wilayah rawan bencana, spirit At-Taubah 105 terus hidup. Di Nusa Tenggara Barat, relawan Muhammadiyah membangun hunian sementara pasca gempa, di Sulawesi Tengah mendampingi korban tsunami dan likuifaksi. Bahkan di luar negeri, relawan Muhammadiyah tetap hadir membantu korban bencana di Nepal, Palestina, dan Turki.
Tantangan era kekinian
Dalam merespons bencana alam dan krisis kemanusiaan, Muhammadiyah membentuk Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC). Lembaga ini hadir dengan profesionalitas tinggi berlandaskan kekuatan iman. Setiap misi kemanusiaan dijalankan dengan prinsip ja’miah wa ta’awun bergerak bersama dan saling menolong.
Budi Setiawan, Ketua MDMC PP Muhammadiyah pernah mengatakan, “Bagi kami, membantu korban bencana bukan hanya tugas kemanusiaan, tetapi ibadah. Setiap pertolongan adalah bagian dari dakwah Muhammadiyah”.
MDMC tak hanya hadir saat bencana besar, tetapi juga aktif melakukan mitigasi dan edukasi kebencanaan. Di sekolah-sekolah Muhammadiyah, siswa belajar melalui simulasi tentang evakuasi gempa, pertolongan pertama, dan kesadaran lingkungan.
Muhammadiyah terus bergerak
Kuncinya ada pada pesan Kyai Ahmad Dahlan yang terkenal: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Pesan ini menegaskan bahwa setiap amal di Muhammadiyah diniatkan untuk menghidupkan dakwah, kemanusiaan, dan peradaban utama—bukan sekadar mencari keuntungan pribadi.
Nilai ini yang telah dan terus membuat Muhammadiyah tetap relevan lebih dari satu abad. Meski zaman berubah, tantangan berganti, dan teknologi berkembang, semangat pengabdian itu tidak pernah pudar.
Pesan kepada kader muda Muhammadiyah, semangat At-Taubah 105 adalah panggilan untuk terlibat aktif. Tidak harus menjadi mubaligh atau dokter untuk berkontribusi. Menjadi guru, relawan kebencanaan, penggerak ekonomi umat, atau bahkan kreator digital yang menyebarkan nilai-nilai Islam berkemajuan merupakan bagian dari amal saleh yang bernilai di sisi Allah.
Sejarah membuktikan bahwa dari langkah kecil lahir karya besar. Dari sebuah ruang belajar sederhana di Kauman, kini Muhammadiyah menjadi salah satu organisasi Islam terbesar di dunia, dengan jutaan anggota, ribuan amal usaha, dan jejaring kemanusiaan internasional.
Dari Taman Pustaka hingga MDMC, dari mimpi mendirikan rumah sakit hingga membangun jaringan pelayanan nasional, semua menjadi bukti bahwa bekerja di Muhammadiyah adalah ibadah yang tak ternilai.
Dan kelak, setiap langkah, pengorbanan, dan doa yang tercurah akan menjadi jawaban ketika Allah bertanya: “Apa yang telah kamu kerjakan di dunia?”
Semangat At-Taubah 105 bukan hanya menjadi bagian dari sejarah Muhammadiyah, tetapi juga panduan hidup bagi siapa saja yang ingin mengabdi untuk umat, menghidupkan dakwah, dan menebar manfaat seluas-luasnya. ***






0 Tanggapan
Empty Comments