Konflik yang terus berkecamuk di kawasan Timur Tengah kini tak lagi sekadar menjadi persoalan geopolitik regional yang jauh.
Gejolak tersebut berdampak sangat destruktif pada stabilitas perekonomian global, terutama melalui lonjakan harga energi minyak yang kian tak terkendali.
Bagi bangsa Indonesia yang secara faktual masih bergantung pada impor energi, situasi sulit ini perlahan mulai terasa imbasnya secara nyata.
Sementara itu, Pemerintah tengah mempertimbangkan beberapa kebijakan strategis yang bertujuan untuk menekan konsumsi BBM nasional secara signifikan.
Namun muncul pertanyaannya besar, bagaimana kebijakan itu mampu bertahan kokoh jika krisis energi ini terus berlarut-larut tanpa kepastian?
Dalam situasi penuh tekanan seperti ini, kita perlu melakukan kilas balik sejarah dan bercermin pada kisah Nabi Ismail AS serta Nabi Yusuf AS.
Dua sosok nabi mulia ini memberikan pelajaran yang sangat relevan bagi kita dalam upaya mengatasi persoalan krisis energi di depan mata.
Pertama, mari kita telusuri jejak perjuangan Nabi Ismail bersama Hajar, ibundanya, saat ditinggal sendirian di lembah padang tandus Makkah yang gersang.
Saat Ismail kecil menangis pilu karena rasa dahaga yang tak tertahankan, Siti Hajar tidak diam berpangku tangan menunggu mukjizat jatuh dari langit.
Dengan naluri seorang ibu yang kuat, ia tanpa henti berlari bolak-balik tujuh kali antara bukit Safa dan Marwah demi mencari sumber air.
Awalnya ia hanya menemukan hamparan fatamorgana yang dikejar penuh kepayahan, kelelahan fisik yang luar biasa, serta rasa putus asa yang menghimpit batin.
Namun tak disangka, justru di titik puncak kepayahan itulah, atas izin Allah melalui hentakan kaki mungil Ismail, keluarlah mata air Zamzam.
Peristiwa agung tersebut memunculkan pesan abadi: Ikhtiar yang tulus dan sungguh-sungguh pasti tidak akan pernah mengkhianati hasil akhir yang akan dicapai.
Artinya, seberapa pun besarnya perjuangan dalam mendapatkan sesuatu tentu akan terlihat hasilnya karena jalan keluar hanya datang kepada mereka yang mau berusaha.
Dalam konteks krisis energi, kisah Hajar yang berlari antara Safa dan Marwah memberikan spirit inovasi dan kreativitas tanpa henti bagi bangsa kita.
Tak ada istilah pasrah menerima keadaan atau sekadar ‘nrimo ing pandum‘ tanpa melakukan usaha maksimal untuk mengubah nasib kolektif bangsa Indonesia ini.
Ini selaras dengan ayat Al-Qur’an yang menekankan bahwa Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri (QS. Ar-Ra’d:11).
Dalam kondisi ketidakpastian energi saat ini, kita tidak bisa lagi hanya menggantungkan nasib pada energi fosil yang cadangannya kian menipis setiap hari.
Ibarat simbol hentakan kaki Ismail, saatnya kita menyulut suluh keberanian nasional untuk mengeksplorasi potensi energi baru terbarukan (renewable energy) secara lebih masif dan berani.
Banyak potensi alam yang bisa dimanfaatkan sebagai pelengkap atau pengganti sumber energi utama yang sudah ada di tanah air kita yang kaya.
Misalnya, dengan memanfaatkan sinar matahari yang terik, embusan angin, hingga panas bumi melimpah yang selama ini belum tergarap secara maksimal dan profesional.
Sosok kedua yang patut diteladani adalah Nabi Yusuf AS, yang memberikan teladan tentang arti penting kompetensi teknis dan kecerdasan manajerial dalam krisis.
Menghadapi mimpi Raja tentang tujuh tahun kelimpahan yang diikuti tujuh tahun paceklik hebat, Raja Mesir memberikan kepercayaan penuh kepada Nabi Yusuf AS.
Raja memilih Yusuf berdasarkan kemampuan, bukan kepada anak ataupun orang terdekatnya, karena ini bukan saat ‘aji mumpung‘ untuk bagi-bagi jabatan tanpa kompetensi.
Mendapat amanat yang sangat berat itu, Nabi Yusuf segera menyusun strategi pengembangan lumbung pangan yang berkeadilan bagi seluruh rakyat di wilayah Mesir.
Ia mengatur pola konsumsi secara ketat, mengawasi jalur distribusi, serta memastikan cadangan pangan untuk masa depan tersimpan dengan sangat aman dan baik.
Akhirnya peradaban Mesir bisa selamat dari krisis pangan yang mengerikan bukan karena kebetulan, melainkan karena kemampuan manajerial yang bervisi jauh ke depan.
Kisah kepiawaian Nabi Yusuf ini mengajarkan perlunya pemerintah mengedepankan kemampuan manajerial yang mumpuni dalam menerapkan setiap kebijakan publik yang berorientasi pada keadilan.
Dalam persoalan krisis energi global, pemerintah tidak seharusnya hanya membuat kebijakan yang bersifat populis, tetapi harus kebijakan mendasar yang menyangkut kedaulatan negara.
Seperti Nabi Yusuf yang menyusun strategi pangan jangka panjang, pemerintah pun perlu memiliki peta jalan energi yang penuh perencanaan dan perhitungan matang.
Kebijakan yang diambil jangan hanya bersifat reaktif terhadap gejolak pasokan energi global, melainkan harus bersifat preventif dan visioner demi masa depan anak cucu.
Salah satu langkah krusial adalah melakukan transisi total menuju energi hijau sebagai bentuk penyelamatan kepentingan bangsa dan negara dari ketergantungan bahan bakar fosil.
Selain itu, pemerintah wajib mendorong percepatan pembangunan infrastruktur yang mendukung terwujudnya penggunaan energi baru terbarukan di seluruh wilayah nusantara secara merata.
Tidak kalah pentingnya, perlunya mengajak masyarakat untuk menanamkan budaya hemat energi sebagai bagian dari pesan moral luhur yang terkandung dalam kitab suci.
Menghemat energi bukan hanya soal efisiensi ekonomi, tapi soal tanggung jawab sebagai khalifah di bumi untuk tidak berperilaku berlebih-lebihan dalam mengonsumsi nikmat.
Jejak kisah dua sosok nabi tersebut juga menonjolkan kekuatan tawakal dan spiritualitas sebagai tonggak keteguhan dalam menghadapi setiap badai krisis yang melanda.
Sebagaimana diterangkan dalam sebuah riwayat, Siti Hajar sama sekali tidak merasa ragu saat harus ditinggal sendirian bersama Ismail di tengah padang tandus karena ia memiliki keyakinan penuh bahwa Allah tidak akan pernah membiarkan hambanya yang sedang berjuang di jalan-Nya merasa sia-sia, sebagaimana ucapannya yang melegenda kepada Nabi Ibrahim: “Kalau begitu Allah tidak akan membiarkan (menyia-nyiakan) kami” (HR. Bukhari).
Begitu pun Nabi Yusuf senantiasa percaya akan datangnya pertolongan Allah karena di dalam batinnya telah tertanam keyakinan mendalam bahwa Allah tidak akan pernah menyia-nyiakan pahala orang-orang yang senantiasa berbuat baik dan bersabar, sebagaimana firman-Nya: “Sungguh, Allah telah melimpahkan karunia-Nya kepada kami. Sesungguhnya barang siapa bertakwa dan bersabar, maka sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang yang berbuat baik” (QS. Yusuf: 90).
Kini sudah waktunya bagi kita semua untuk berkaca diri agar melihat krisis energi ini tidak sebatas sebagai persoalan teknis duniawi semata.
Melainkan juga sebagai momentum spiritual untuk kembali mengetuk pintu langit dengan doa dan tawakal, sebagaimana teladan Nabi Ismail, Siti Hajar, dan Nabi Yusuf.***





0 Tanggapan
Empty Comments