Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Strategi Marketing Sekolah yang dianggap Kuno Tapi Paling Efektif untuk SPMB

Iklan Landscape Smamda
Strategi Marketing Sekolah yang dianggap Kuno Tapi Paling Efektif untuk SPMB
Fatihul Abror
Oleh : Fatihul Abror, S.Kom Guru dan Tim Marketing Komunikasi SD Muhammadiyah 3 Assalaam Kota Malang
pwmu.co -

Hampir setiap tahun, menjelang penerimaan peserta didik baru, pemandangan yang sama kembali terulang. Media sosial sekolah mendadak ramai. Video profil dipoles sinematik.

Iklan digital dipasang dengan anggaran yang tidak kecil. Baliho berdiri di sudut-sudut strategis kota. Namun di balik semua itu, kegelisahan tetap bercokol di ruang panitia SPMB. Target murid belum aman. Bangku kosong masih menghantui.

Ada yang terasa janggal. Di era ketika digital marketing kian canggih dan metrik bisa diukur nyaris detik per detik, mengapa persoalan klasik itu tak kunjung selesai?

Apakah masalahnya ada pada kurangnya konten, minimnya anggaran, atau algoritma yang tak berpihak? Atau justru persoalannya lebih mendasar?

Donald Miller, penulis Building a StoryBrand, menawarkan satu kunci penting: pelanggan sejatinya adalah pahlawan dalam cerita mereka sendiri.

Sementara institusi—termasuk sekolah—bukanlah tokoh utama, melainkan pemandu. Tugas pemandu bukan memamerkan kehebatan diri, tetapi membantu sang pahlawan mencapai tujuan.

Di titik inilah banyak sekolah terpeleset. Alih-alih menjadi pemandu, sekolah justru sibuk menjadi pahlawan. Program unggulan dipajang, fasilitas dipromosikan, jargon prestisius ditebalkan.

Narasi yang muncul berulang: “kami paling ini”, “kami paling itu”. Padahal yang ingin diyakinkan bukan sekolah itu sendiri, melainkan wali murid—manusia dengan kecemasan, harapan, dan kegelisahan tentang masa depan anaknya.

Marketing sekolah sering lupa satu hal mendasar: empati. Empati bukan sekadar bahasa manis dalam brosur. Ia hadir dalam kesediaan memahami kegundahan orang tua—tentang keamanan anak, tentang kenyamanan belajar, tentang karakter dan akhlak.

Tanpa empati, otoritas sekolah kehilangan makna. Sebaliknya, otoritas yang lahir dari empati akan terasa lebih meyakinkan daripada klaim sepihak.

Menariknya, jika mau jujur, hampir semua pengelola sekolah sebenarnya sudah tahu jawabannya. Keputusan orang tua jarang lahir dari iklan digital atau konten viral.

Ia justru muncul dari percakapan sederhana antarsesama orang tua. Kalimatnya singkat, nyaris tanpa retorika: “Sekolah di sana saja. Anakku betah.”

Kalimat itu tidak lahir dari strategi konten. Ia lahir dari pengalaman. Di situlah word of mouth menunjukkan kekuatannya. Brosur bisa direkayasa.

Video bisa diedit. Testimoni tulus tidak. Satu rekomendasi jujur dari wali murid yang merasa didengar dan dihargai sering kali lebih ampuh daripada seribu impresi media sosial.

Lalu siapa sebenarnya tim marketing terbaik sekolah?

Bukan admin media sosial. Bukan konsultan branding. Bahkan bukan kepala sekolah. Tim marketing terbaik adalah wali murid yang puas.

Ketika wali murid merasa diperlakukan sebagai mitra, bukan sekadar pelanggan, mereka berubah menjadi advocate.

Mereka membela sekolah dengan sukarela. Mereka bercerita tanpa diminta. Mereka merekomendasikan tanpa insentif.

Pada titik itu, marketing berhenti menjadi strategi, dan berubah menjadi budaya.

Ironisnya, banyak sekolah justru lebih sibuk “memancing” murid baru, tetapi lalai merawat hubungan dengan wali murid yang sudah ada.

Seolah-olah ikan di kolam sendiri dianggap sudah pasti aman, padahal justru merekalah sumber cerita paling kuat. Ketika hubungan itu renggang, sekolah kehilangan suara paling otentik yang dimilikinya.

Marketing sekolah, pada akhirnya, bukan soal seberapa keras sekolah berbicara, melainkan seberapa dalam ia didengarkan.

Ia hadir dalam hal-hal kecil yang sering diremehkan: guru yang menyapa dengan tulus, guru yang menjawab pesan dengan empati, staf tata usaha yang solutif, manajemen yang mau mendengar keluhan tanpa defensif.

Semua itu mungkin terdengar “kuno”. Tidak viral. Tidak instan. Namun justru di sanalah kekuatannya.

Jika sekolah mampu membuat wali murid merasa menjadi bagian dari cerita besar pendidikan anaknya, promosi akan berjalan dengan sendirinya.

Tanpa iklan berlebihan. Tanpa kecemasan berulang tiap tahun. Marketing akan bekerja layaknya otomasi—diam, tetapi efektif.

Barangkali, inilah saatnya sekolah berhenti terlalu sibuk tampil, dan mulai lebih serius mendengar. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu