
PWMU.CO – Perundungan masih menjadi tantangan nyata di sekolah. Banyak yang tidak sadar bahwa 80 persen pengalaman perundungan akan terekam kuat dalam ingatan korban, menempel di amigdala otak bagian sistem limbik, khususnya hipokampus, sehingga lebih mudah diingat seumur hidup.
Sementara itu, pelaku sering kali lupa, meninggalkan korban dengan luka psikologis mendalam yang memengaruhi kepercayaan diri, relasi sosial, bahkan kesehatan mental.
Hal inilah yang disoroti Peacesantren Welas Asih dalam pelatihan Upgrading Guru bertema Happy Tanpa Bully bagi guru dan karyawan SD Muhammadiyah Manyar (SDMM) di Grand Whiz Hotel Trawas, (708/7/2025). Dua narasumber, Irfan Amali dan Irfan Nazhran, berbagi strategi praktis membangun sekolah aman tanpa bully.
Menurut Irfan Amali, pencegahan perundungan bukan hanya urusan guru bimbingan dan konseling, melainkan tanggung jawab semua pihak di sekolah: kepala sekolah, guru kelas, siswa, hingga orang tua. Tiga pertanyaan kunci harus dijawab sekolah untuk membangun lingkungan yang aman:
Pertama, bagaimana guru dibekali pelatihan dan kurikulum antiperundungan. Guru wajib terlatih mendengar empatik, mediasi damai, dan resolusi konflik agar tidak gagap mendampingi siswa.
Kedua, adakah proyek kolaborasi dengan orang tua. Keluarga perlu diajak melalui parenting class, forum diskusi, hingga kerja sama membangun pola asuh welas asih di rumah.
Ketiga, apakah sekolah memiliki sistem antiperundungan yang jelas. Sistem harus memuat prosedur pelaporan aman, pendampingan korban, hingga penanganan kasus yang transparan dan berpihak pada anak.
“Bullying bukan sekadar konflik biasa. Luka akibat bullying membekas di memori korban seumur hidup. Karena itu, sekolah perlu sistem pencegahan yang tegas dan terukur,” ujar Irfan Amali.
Mindset Konflik: Peluang Jadi Dewasa
Irfan Nazhran menekankan perlunya pola pikir baru dalam menghadapi konflik. Konflik sebaiknya dilihat sebagai peluang pendewasaan, bukan momok yang dihindari.
“Konflik itu netral. Respons kita yang menentukan apakah hasilnya positif atau merusak. Kalau responsnya positif, hubungan semakin kuat. Kalau salah merespons, hubungan bisa putus,” jelas Irfan Nazhran.
Irfan juga mengingatkan bahwa ada lima tipe anak yang rentan dibully: big (berbeda fisik), ugly (penampilan dianggap beda), lonely (sering sendiri), loser (rendah diri), dan yearning attention (haus perhatian). Tanda korban perundungan dapat dilihat dari perubahan perilaku, emosi, fisik, dan sosial.






0 Tanggapan
Empty Comments