Tahun-tahun berikutnya diisi dengan kerja keras. Dian tak hanya memperdalam teknik berbicara, tetapi juga mengasah kemampuannya memahami audiens. Ia ikut berbagai pelatihan, tampil di banyak acara, jatuh bangun menghadapi kegugupan, dan terus belajar dari setiap pengalaman.
Ketekunannya berbuah manis. Dian berhasil meraih gelar doktor tercepat di Universitas Negeri Malang pada 2024 dengan hanya menempuh waktu tiga tahun serta mendapatkan predikat sangat memuaskan, dengan disertasi tentang pengembangan pembelajaran melalui textbook digital.
Kemudian, ia menjadi dosen di Umsida mulai 2016 dengan mengampu mata kuliah Public Speaking, English Pronunciation, Speaking for Academic Purposes, serta English Vocabulary and Pronunciation.
Selain itu, ia juga mengampu mata kuliah Bahasa Inggris di beberapa program studi lain seperti Akuntansi, Manajemen, dan Psikologi. Mulai saat itu juga, dirinya ditunjuk sebagai Humas Umsida.
Tidak hanya berhasil di bidang akademik, ia juga berkontribusi dalam penelitian yang bermanfaat untuk pengembangan kemampuan berbahasa Inggris, khususnya di bidang public speaking.
Namun, di luar ruang kelas, ia tetap melanjutkan passion-nya sebagai MC profesional, termasuk saat dipercaya menyambut Presiden Jokowi di Umsida, tugas besar yang ia jalani setelah melalui seleksi ketat protokoler Istana.
“Bagi saya, setiap kali memegang mikrofon, itu bukan sekadar berbicara. Tapi menghidupkan suasana, menghubungkan hati-hati yang hadir,” ujarnya.
Saat PWM Jatim mempercayakan Dian menjadi MC dalam halal bihalal 1446 H, ia menyambut tugas itu dengan penuh syukur dan rasa tanggung jawab. Terlebih, narasumber acara ini adalah ustaz yang ia kagumi, Dr H Adi Hidayat.
“Bisa mendengarkan beliau langsung, bahkan berbicara satu ruangan dengan beliau, rasanya seperti impian yang Allah kabulkan,” katanya, suaranya sedikit bergetar.
Tak ada yang melihat betapa Dian berlatih keras sebelum hari itu. Ia memikirkan setiap kata, setiap intonasi, setiap ekspresi wajah. Semua ia siapkan agar bisa tampil sempurna, tidak hanya mewakili dirinya, tetapi juga membawa nama baik Umsida dan Muhammadiyah Jawa Timur.
Meskipun di hari H banyak perubahan mendadak, ia tetap tenang. Tetap tersenyum. Tetap mengalirkan energi positif ke seluruh ruangan.
Dari panggung kecil di SMA hingga auditorium besar dengan ribuan hadirin, perjalanan Dian Rahma Santoso adalah kisah tentang keberanian bermimpi, kegigihan berjuang, dan ketulusan dalam setiap langkah.
Suara yang mengalun di auditorium itu bukan sekadar suara. Ia adalah gema dari doa-doa panjang, keringat perjuangan, dan keyakinan bahwa siapa pun, dari latar belakang apa pun, bisa menjadi besar jika tidak menyerah.
Dan di setiap kalimat yang ia ucapkan hari itu, sejatinya, Dian sedang membisikkan satu pesan sederhana kepada dunia, bahwa mimpi itu bukan untuk ditunggu, tetapi untuk diperjuangkan.
Penulis Zulkifli Editor Zahra Putri Pratiwig






0 Tanggapan
Empty Comments