Sudah berpuasa satu bulan penuh, namun mengapa masih gendut dan angka di timbangan berat badan masih tetap sama atau justru malah makin membengkak?
Pertanyaan mengenai timbangan berat badan yang tidak kunjung turun ini mungkin sering kali berseliweran di benak kita ketika merasakan tidak adanya perubahan bentuk tubuh yang signifikan meski sudah berpuasa.
Padahal, selama lebih dari dua puluh hari kita sudah berusaha keras menahan lapar dan dahaga selama lebih dari dua belas jam setiap harinya.
Secara logika sederhana, frekuensi makan kita berkurang drastis dan kebiasaan menyantap camilan di siang hari otomatis hilang dari rutinitas harian.
Lalu, mengapa di bulan yang seharusnya identik dengan aktivitas menahan diri ini, justru ancaman obesitas dan kenaikan berat badan bisa mengintai kesehatan kita?
Pada bulan Ramadan, tubuh manusia sebenarnya sedang belajar melakukan adaptasi biologis terhadap pola makan yang berubah total.
Sistem pencernaan kita secara alami menjadi jauh lebih efisien dalam mengelola dan menggunakan cadangan energi yang tersedia.
Makanan yang masuk ke dalam tubuh kita dicerna sedemikian rupa oleh organ-organ pencernaan seperti lambung, usus, hati, dan pankreas menjadi nutrisi esensial.
Nutrisi tersebut kemudian disalurkan ke seluruh bagian tubuh melalui aliran darah menuju sel-sel untuk dilakukan proses pemecahan kembali atau yang dikenal sebagai katabolisme.
Selain proses katabolisme yang memecah zat, di dalam sel juga terjadi proses anabolisme yang memiliki arti sebagai proses pembentukan sel-sel baru.
Katabolisme dan anabolisme ini terjadi secara beriringan serta silih berganti sebagai bagian integral dari sistem metabolisme tubuh manusia yang kompleks.
Ketika sedang berpuasa, asupan makanan berkurang sehingga energi instan untuk tubuh merosot, lalu terjadilah proses katabolisme untuk membakar cadangan glikogen di hati dan otot.
Bila simpanan glikogen dalam tubuh mulai menipis, maka proses glukoneogenesis akan terjadi sehingga tubuh membentuk glukosa baru dari cadangan protein dan lemak.
Pemecahan timbunan lemak tubuh atau asam asetoasetat ini akan menghasilkan bahan 3-hidroksibutirat (3-HB) dalam jumlah yang meningkat hingga 25 kali lipat.
Bahan 3-HB ini memiliki peran yang sangat penting terutama sebagai sumber tenaga alternatif bagi otak agar tetap bisa berkonsentrasi meski perut sedang kosong.
Dari proses katabolisme protein dan lemak di jaringan otot, akan dikeluarkan pula asam amino rantai cabang atau yang sering disebut sebagai branched chain amino acid (BCAA).
Selama menjalankan ibadah puasa, tubuh juga menghasilkan senyawa asilkarnitin yang sangat dibutuhkan untuk mengangkut lemak sebagai sumber tenaga utama ke dalam mitokondria.
Mitokondria sendiri merupakan bagian vital di dalam tiap sel yang berfungsi untuk pernapasan sel sekaligus berperan sebagai generator penghasil tenaga bagi manusia.
Hasil tenaga dari proses metabolisme di atas sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk menjadi bahan bakar harian tubuh selama beraktivitas normal di bulan puasa.
Energi ini bahkan memadai untuk melakukan olahraga kardio ringan selama 30 hingga 40 menit, baik itu berupa jalan kaki santai, bersepeda, hingga olahraga renang.
Sehingga, dapat kita simpulkan bahwa jika proses biologis di atas berjalan dengan baik dan benar, seharusnya setelah berpuasa kita mendapatkan bentuk tubuh yang proporsional.
Selain proses metabolisme dasar tersebut, ketika kita berpuasa, di dalam tubuh juga terjadi sebuah proses luar biasa yang dinamakan sebagai proses autophagy.
Konsep dasar dari autophagy adalah ketika tubuh seseorang merasa lapar, maka sel-sel tubuhnya pun akan ikut merasa lapar dan mulai mencari sumber energi lain.
Sel-sel tersebut akan memakan bagian-bagian dirinya sendiri yang sudah tidak berguna lagi atau sel-sel yang telah rusak agar tidak menjadi sampah berbahaya di dalam tubuh.
Dengan kata lain, tubuh orang yang sedang berpuasa sebenarnya sedang melakukan proses pembersihan mandiri atau detoksifikasi sel secara alami tanpa bantuan obat-obatan.
Dalam jangka waktu puasa sekitar 8 jam hingga 16 jam, tubuh akan mulai membentuk protein khusus yang disebut sebagai autophagosom di seluruh jaringan tubuh.
Autophagosom tersebut bisa dianalogikan sebagai sebuah sapu raksasa yang bertugas mengumpulkan sel-sel mati yang tidak berguna dan membuangnya dari sistem tubuh kita.
Ternyata, proses ini juga menyasar sel-sel lain yang membahayakan kesehatan, seperti sel kanker dan sel berbentuk kuman seperti virus atau bakteri penyebab penyakit menular.
Protein autophagosom tersebut kemudian akan menganalisis ancaman tersebut lalu memakan sel-sel berbahaya itu sebagai bagian dari mekanisme pertahanan diri yang hebat.
Namun, fenomena yang sering terjadi di lapangan justru sebaliknya, yakni kita sering kali membanjiri tubuh kita dengan kalori berlebih saat momen berbuka puasa tiba.
Menjelang waktu magrib, rasa lapar dan haus biasanya terasa mencapai puncaknya sehingga kontrol diri terhadap nafsu makan sering kali menjadi sangat lemah dan rapuh.
Begitu suara azan terdengar, tidak sedikit orang yang langsung meraih aneka makanan manis seperti kolak, es buah, sirup, hingga kurma dalam jumlah yang sangat banyak.
Setelah perut terisi makanan manis, aktivitas makan biasanya berlanjut dengan mengonsumsi hidangan utama dalam porsi besar yang kaya akan karbohidrat dan lemak jenuh.
Di titik kritis ini, tubuh yang tadinya berada dalam mode hemat energi atau power saving mode mendadak menerima pasokan gula dan glukosa dalam jumlah yang sangat tinggi.
Akibatnya, kadar gula darah dalam tubuh melonjak dengan sangat cepat dan memberikan beban kerja tambahan yang berat bagi pankreas untuk menghasilkan hormon insulin.
Lonjakan gula darah ini terjadi hampir setiap hari selama bulan Ramadan, padahal sinyal kenyang dari lambung membutuhkan waktu beberapa menit untuk sampai ke otak.
Ketika jeda waktu tersebut tidak mendapatkan ruang, maka kalori yang masuk ke dalam sistem pencernaan bisa menjadi sangat berlebihan sebelum tubuh sempat berkata cukup.
Secara biologis, tubuh manusia bekerja layaknya sebuah gudang logistik yang sangat rapi dalam menyimpan setiap barang atau energi yang masuk ke dalamnya.
Ketika kiriman energi atau kalori datang jauh lebih banyak daripada yang digunakan untuk beraktivitas, maka sisanya akan disimpan rapi dalam bentuk tumpukan lemak.
Lemak tersebut akan menetap di dalam jaringan adiposa seperti di bawah kulit perut, paha, lengan, hingga bokong yang membuat penampilan kita terlihat lebih berisi.
Selain itu, lemak juga bisa menumpuk di dalam rongga perut atau di sekitar organ vital tubuh seperti hati, usus, dan ginjal yang tentu berbahaya bagi kesehatan.
Hakikat puasa sebenarnya selain menahan lapar dan haus, kita juga diajarkan untuk menjadi pribadi yang lebih bijaksana dalam segala hal termasuk pemenuhan gizi.
Dalam sebuah penelitian kesehatan terdahulu, terdapat beberapa cara bijak dalam mengonsumsi makanan ketika berpuasa, salah satunya adalah dengan melakukan mindful eating.
Mindful eating mengacu pada sebuah konsep agar manusia memperhatikan segala sesuatu yang mereka konsumsi dengan seksama dan sepenuh hati saat menikmatinya.
Konsep mindful eating ini berfokus pada peningkatan kesadaran diri saat makan, menyadari sinyal rasa lapar atau kenyang, serta melibatkan seluruh fungsi panca indra kita.
Berikut adalah poin-poin utama dari konsep mindful eating, yang pertama adalah memiliki kesadaran penuh atau mindfulness terhadap apa pun yang masuk ke dalam mulut.
Kita harus fokus pada makanan yang sedang dikonsumsi, mulai dari memperhatikan teksturnya, aromanya yang menggoda, hingga merasakan rasanya secara perlahan-lahan.
Poin yang kedua adalah belajar mendengarkan sinyal dari tubuh sendiri dengan cara makan hanya saat merasa lapar fisik dan segera berhenti sebelum merasa kekenyangan.
Yang ketiga adalah makan tanpa adanya distraksi atau gangguan dari luar yang bisa memecah fokus kita terhadap proses makan yang sedang berlangsung di meja makan.
Sarannya adalah menghindari makan sambil bermain gadget, menonton televisi, atau sambil bekerja agar kita bisa benar-benar fokus pada nutrisi makanan tersebut.
Poin yang keempat adalah selalu mengapresiasi makanan yang tersaji di depan kita sebagai bentuk rasa syukur atas rezeki dari Tuhan Yang Maha Esa.
Dengan menghargai makanan, termasuk memahami kandungan nutrisinya, kita akan menjadi jauh lebih bijak dalam memilih jenis makanan yang akan kita masukkan ke dalam tubuh.
Dan poin yang kelima adalah makan tanpa menghakimi diri sendiri atas pilihan makanan yang kita ambil, asalkan porsi dan nutrisinya tetap terjaga dengan cukup seimbang.
Dengan mensyukuri dan menerima kondisi diri sendiri serta tidak merasa bersalah berlebihan, maka bahan makanan tersebut akan menjadi sumber energi positif bagi tubuh kita.
Mindful eating bukan hanya sekadar sebuah metode atau cara makan biasa, tetapi merupakan sebuah pendekatan holistik yang menyeluruh untuk kesehatan jasmani dan rohani.
Pendekatan ini berfokus pada keharmonisan hubungan antara pikiran, tubuh, dan makanan yang kita konsumsi setiap hari agar tercipta keseimbangan hidup yang jauh lebih baik.
Dengan menerapkan praktik mindful eating secara konsisten dan berkelanjutan, setiap individu dapat mencapai perubahan positif dalam kualitas hidup mereka di masa depan.
Menjalani keseharian yang lebih sehat dan bahagia adalah impian semua orang, karena kesehatan menjadi bagian penting dalam pembangunan berkelanjutan menuju generasi emas 2045.





0 Tanggapan
Empty Comments