“Kalau badanku sudah banyak merasakan serba tidak enak, memang sudah saatnya. Kalau rambutku memutih, memang itu sudah saatnya. Kalau aku mulai pelupa, memang sudah saatnya.”
Kalimat ini sederhana, tetapi menyimpan kedalaman makna. Sebuah pengingat bahwa perjalanan hidup manusia tidak bisa lepas dari siklus waktu: lahir, tumbuh, menua, lalu berpulang ke Sang Pencipta.
Ungkapan reflektif tersebut lahir dari kesadaran bahwa setiap manusia akan sampai pada titik di mana fisik tidak lagi perkasa. Rambut memutih, gigi mulai rapuh, daya ingat melemah, tubuh mudah lelah, bahkan hati menjadi melankolis.
Semua tanda itu sesungguhnya bukan sekadar keluhan, melainkan alarm kehidupan: “sudah saatnya” menyiapkan diri untuk keberangkatan menuju kampung halaman sejati, yaitu akhirat.
Dalam renungan tersebut ditegaskan, saat tubuh mulai melemah, maka yang dibutuhkan bukan lagi tumpukan harta, melainkan pahala. Bukan lagi mengejar syahwat dunia, melainkan menabung hasrat akhirat. Kesadaran itu muncul karena banyak teman sebaya sudah mendahului.
“Semalam karibku. Pekan lalu si Fulan. Bulan lalu Fulani,” begitu penggalan renungan yang menggambarkan betapa dekatnya jarak manusia dengan kematian.
Kapan giliran datang? Tidak ada seorang pun yang tahu. Tidak ada yang bisa meminta penundaan, tidak pula ada kesempatan untuk berpamitan. Sebab, ketika malaikat maut datang, kehidupan dunia berhenti, dan manusia hanya meninggalkan kenangan.
Bagi keluarga dan sahabat, kepergian seseorang hanya meninggalkan duka beberapa waktu. Setelah itu, yang tersisa hanyalah doa dan kenangan. Itulah sebabnya, menyiapkan amal saleh sejak hidup menjadi sesuatu yang paling penting.
Dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 185 Allah berfirman: “Tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan mati.” Ayat ini menjadi pengingat abadi bahwa setiap detik kehidupan sejatinya adalah perjalanan menuju kematian.
Pertanyaan besar yang menggugah: giliran kita kapan? Dalam keadaan apa kita bertemu Izrail? Apakah saat sedang berdzikir? Bernyanyi? Atau sedang menunaikan salat? Tidak ada yang tahu.
Namun, renungan ini mengajak umat untuk tidak terlena. Sebaliknya, setiap tanda penuaan harus dijadikan isyarat untuk semakin memperbanyak amal, memperbaiki ibadah, dan menebar kebaikan kepada sesama.
Doa penutup dari refleksi ini sangat sederhana tetapi dalam: semoga Allah memberikan kesehatan, rezeki, dan umur yang barokah, agar manusia istiqamah beribadah dan beramal hingga akhir hayat.
Renungan ini adalah panggilan batin untuk semua orang. Bukan hanya yang sudah beruban, lemah, atau sakit, tetapi juga bagi siapa saja yang masih diberi kesempatan hidup. Karena kematian bukan tentang usia, melainkan tentang waktu yang telah ditentukan.
Memang sudah saatnya kita semua merenung, sudah saatnya menyiapkan bekal, dan sudah saatnya mengingat bahwa kehidupan dunia hanyalah persinggahan singkat menuju kampung halaman abadi. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments