Angka penderita HIV/AIDS di Provinsi Jawa Timur terus menjadi catatan serius. Berdasarkan data terbaru dari Kementerian Kesehatan RI dan Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, pada 2025 jumlah orang dengan HIV/AIDS (ODHIV) di Jawa Timur mencapai 65.238 orang. Di antara kabupaten/kota di Jatim, Kota Surabaya menempati posisi paling tinggi untuk jumlah kasus.
Sepanjang triwulan pertama tahun 2025 (Januari–Maret), tercatat penambahan 2.599 kasus baru di berbagai wilayah di Jatim — menunjukkan bahwa penularan masih berlangsung aktif dan menyebar secara luas.
Suli Daim: “Penanganan Harus dari Hulu Hingga Hilir”
Menanggapi data tersebut, Suli Daim (anggota Komisi E DPRD Jawa Timur), menekankan pentingnya respons cepat dan komprehensif dari pemangku kebijakan dan masyarakat. Ia menyampaikan bahwa strategi penanganan harus dilakukan secara menyeluruh, dari pencegahan hingga pendampingan.
“Dinkes Jatim perlu segera melakukan penguatan preventif secara bertahap melalui edukasi berkelanjutan kepada masyarakat, perluasan wilayah skrining di fasilitas layanan kesehatan, serta peningkatan pendampingan bagi orang dengan HIV/AIDS. Upaya ini penting untuk menekan laju penularan dan mengurangi stigma. Keterlibatan ormas keagamaan juga sangat dibutuhkan untuk memberikan edukasi yang komprehensif,” ujarnya Senin (1/12/2025).
Menurut Suli Daim, penekanan program tidak boleh hanya pada aspek medis, pengobatan dan ART — tetapi juga harus menyentuh aspek edukasi, kesadaran masyarakat, dan dukungan sosial agar stigma terhadap OD-HIV/AIDS bisa dieliminasi.
Mengapa Surabaya?
Sebagai ibu kota provinsi dan pusat urbanisasi di Jatim, Surabaya memiliki mobilitas penduduk yang tinggi, serta beragam aktivitas sosial — faktor yang kemungkinan ikut berkontribusi pada tingginya angka kasus. Data menunjukkan bahwa dari total kasus baru di awal 2025, Surabaya menyumbang angka tertinggi dibanding kabupaten/kota lain.
Ajakan Solidaritas dan Kolaborasi
Suli Daim menyerukan agar semua pihak-pemerintah provinsi, pemerintah kota, layanan kesehatan, ormas keagamaan, serta masyarakat. Bersinergi dalam pencegahan, deteksi dini, dan pendampingan bagi OD-HIV/AIDS. Untuk itu ia berharap agar edukasi serentak digencarkan di tingkat akar rumput, skrining diperluas, dan layanan pendampingan diperkuat.
“Ini bukan sekadar soal angka, tetapi soal kemanusiaan. Kita perlu bergerak bersama — agar warga tidak hanya tahu tentang HIV/AIDS, tetapi juga ikut peduli dan mendampingi sesamanya,” ujarnya.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments