Ahad sore (14/9/2025), di Pendopo Taman Budaya Genteng Kali Surabaya, sekelompok anak sedang berlatih tari. Suasana riang terlihat di wajah mereka.
Namun ketika ditanya apakah mereka tahu nama tempat yang menjadi lokasi latihan itu, sebagian besar hanya saling menatap. Ada yang menjawab sekadar “pendopo”, tanpa memahami apa itu pendopo.
Lebih jauh lagi, ketika ditanya siapa Bupati Surabaya, tidak satu pun yang tahu. Justru yang disebut adalah nama Walikota Surabaya saat ini, Eri Cahyadi.
Fenomena sederhana ini menyadarkan kita: generasi muda Surabaya hari ini tidak mengenal bahwa kota mereka dahulu pernah memiliki Bupati, jauh sebelum sistem pemerintahan kota seperti sekarang.
Padahal, jejak sejarah itu nyata adanya, bahkan masih berdiri kokoh gedung bersejarah yang dahulu merupakan kantor Bupati Surabaya.
Sejarah yang Terlupakan
Surabaya tidak hanya mengenal jabatan wali kota. Pada masa lalu, wilayah ini pernah berbentuk Kabupaten dan dipimpin oleh seorang Bupati. Namun fakta sejarah tersebut perlahan tenggelam, seakan tidak pernah ada.
Di depan Pendopo Genteng Kali berdiri tugu cagar budaya dengan tulisan “Kabupaten Surabaya”, sebagaimana diatur dalam SK Walikota Nomor: 188.45/251/402.104/1996.
Akan tetapi, di sana tidak ditemukan informasi tentang siapa saja para Bupati yang pernah memimpin. Bahkan di Museum Surabaya pun hanya ada daftar Walikota, mulai dari A. Meijroos (Belanda, 1916–1920) hingga Eri Cahyadi (Bumiputera, 2021–sekarang).
Nama-nama Bupati Surabaya tidak tercatat, tidak dipajang, dan akhirnya tidak dikenal masyarakat. Bukankah ini sebuah ironi?
Sebagai kota yang menyandang predikat “Kota Pahlawan”, Surabaya semestinya tidak kehilangan memori kolektif tentang siapa saja pemimpin daerahnya di masa lalu. Apalagi, dalam tradisi bangsa, ada ungkapan yang selalu digaungkan: Jas Merah—jangan sekali-kali melupakan sejarah.
Mengabadikan nama para Bupati Surabaya bukan sekadar formalitas, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap sejarah perjalanan pemerintahan kota ini.
Anak-anak yang kini hanya mengenal Walikota akan belajar bahwa Surabaya pernah melewati fase penting ketika masih berbentuk Kabupaten.
Dengan begitu, mereka memahami bahwa pemerintahan daerah bukanlah sesuatu yang tiba-tiba ada, melainkan hasil dari proses panjang.
Usulan Konkret
Ada beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk menghidupkan kembali memori sejarah Bupati Surabaya:
1. Pemasangan Daftar Nama Bupati di Pendopo
Seperti halnya pendopo-pendopo di daerah lain yang memajang daftar nama pemimpin daerah, Pendopo Kabupaten Surabaya di Genteng Kali juga layak menampilkan daftar nama para Bupati.
2. Pelengkap Koleksi Museum Surabaya
Museum Surabaya sebaiknya menambahkan koleksi berupa daftar nama dan foto para Bupati Surabaya. Tidak hanya wali kota, tetapi juga para pemimpin yang pernah memimpin ketika Surabaya masih berbentuk Kabupaten.
3. Wahana Edukasi bagi Generasi Muda
Kurikulum muatan lokal, kegiatan ekstrakurikuler, atau kunjungan sekolah bisa menjadikan sejarah Bupati Surabaya sebagai materi pembelajaran.
Dengan begitu, anak-anak tidak hanya mengenal pahlawan nasional, tetapi juga pemimpin daerah mereka sendiri.
4. Menjaga Warisan, Menguatkan Identitas
Tanpa upaya nyata, nama-nama Bupati Surabaya akan benar-benar hilang dari ingatan. Padahal, mengenal mereka berarti menghargai perjalanan sejarah pemerintahan daerah ini.
Tidak berlebihan jika dikatakan, mengabadikan nama Bupati Surabaya adalah bagian dari menjaga identitas kota.
Jika kita membiarkan sejarah ini terkubur, maka tugu cagar budaya yang berdiri megah hanyalah simbol kosong. Bukankah lebih baik jika ia menjadi pintu masuk untuk mengenal masa lalu?
Surabaya, sebagai kota yang selalu dibanggakan warganya, seharusnya tidak hanya menyandang gelar “Kota Pahlawan”, tetapi juga “Kota yang Tidak Melupakan Pemimpinnya.” (*)






0 Tanggapan
Empty Comments