Nama Ahmad Rasyid Sutan Mansur tercatat sebagai salah satu figur penting dalam sejarah Muhammadiyah. Lahir di Maninjau, Sumatera Barat, pada 15 Desember 1895, ia tumbuh dalam lingkungan keluarga ulama yang kuat dalam tradisi keilmuan dan keislaman.
Ayahnya, Abdul Somad al-Kusaij, dan ibunya, Siti Abbasiyah, dikenal sebagai guru agama terpandang di kampung Air Hangat. Lingkungan ini membentuk karakter Sutan Mansur sejak dini—teguh dalam prinsip, namun terbuka terhadap perkembangan zaman.
Sejak kecil, ia tidak hanya menimba ilmu agama, tetapi juga mengenyam pendidikan umum di Inlandsche School (IS). Ia bahkan sempat mendapatkan kesempatan beasiswa ke Kweekschool Bukittinggi, namun memilih menolaknya.
Baginya, pengabdian terhadap agama dan sikap kritis terhadap penjajahan lebih penting daripada jaminan karier dari pemerintah kolonial Belanda.
Melawan Penjajahan dan Regulasi Kolonial
Sikap anti-penjajahan itu diwujudkan secara nyata. Pada 1928, Sutan Mansur tampil di garda depan menentang kebijakan Guru Ordonansi, yang membatasi ruang gerak ulama dalam mengajar. Ia menilai aturan tersebut sebagai upaya sistematis untuk membungkam dakwah Islam.
Dalam perjalanan intelektualnya, ia berguru kepada Abdul Karim Amrullah, ulama pembaharu terkemuka di Minangkabau. Hubungan tersebut berkembang menjadi ikatan keluarga setelah ia menikah dengan Fatimah, putri sulung sang ulama. Sejak saat itu, ia dikenal luas dengan gelar Sutan Mansur.
Bertemu Muhammadiyah dan Dakwah Pembaruan
Perjalanan hidupnya mengalami titik balik saat merantau ke Pekalongan, Jawa Tengah. Di kota ini, ia bersentuhan langsung dengan pemikiran Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.
Melalui pengajian yang diikutinya, Sutan Mansur menemukan keselarasan antara gagasan pembaruan Islam di Minangkabau dan gerakan Muhammadiyah. Ia terkesan dengan praktik nyata ajaran Islam dalam kehidupan sosial, seperti pelaksanaan kurban yang langsung dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.
Pengalaman tersebut mendorongnya bergabung dan kemudian mendirikan cabang Muhammadiyah di Pekalongan pada 1923.
Mengembangkan Muhammadiyah di Sumatera
Kepercayaan besar diberikan kepadanya saat diutus kembali ke Sumatera Barat pada akhir 1925. Saat itu, Muhammadiyah menghadapi dinamika sosial-politik yang kompleks, termasuk gesekan dengan kelompok komunis.
Dengan pendekatan dakwah yang bijak—akomodatif terhadap adat dan tokoh lokal—Sutan Mansur berhasil meredam konflik serta memperluas penerimaan Muhammadiyah di Ranah Minang.
Pendekatan dakwahnya yang lembut namun tegas menjadi kunci keberhasilan. Ia menunjukkan bahwa pemurnian ajaran Islam dapat berjalan selaras dengan penghormatan terhadap kearifan lokal tanpa menimbulkan perpecahan.
Dakwah ke Berbagai Wilayah Nusantara
Kiprahnya tidak berhenti di Sumatera. Pada periode 1926–1929, ia melakukan perjalanan dakwah ke berbagai wilayah seperti Medan, Aceh, hingga Kalimantan.
Di Aceh, strategi dakwahnya tergolong unik. Ia bahkan menyamar sebagai montir untuk menjalin kedekatan dengan kalangan istana, demi membuka jalan bagi berdirinya cabang Muhammadiyah di berbagai daerah.
Kemampuan komunikasi dan pendekatan persuasifnya membuatnya dipercaya sebagai Konsul Besar Muhammadiyah untuk wilayah Sumatera.
Puncak Pengabdian
Puncak pengabdiannya terjadi saat ia diamanahi sebagai Ketua Pusat Muhammadiyah periode 1956–1959. Amanah tersebut dijalankan dengan penuh integritas dan dedikasi hingga akhir hayatnya.
Sosok Sutan Mansur dikenang bukan hanya sebagai pemimpin organisasi, tetapi juga sebagai dai yang mampu menaklukkan hati umat dengan kelembutan, keteguhan prinsip, dan keteladanan nyata.





0 Tanggapan
Empty Comments