Di tengah besarnya jaringan dan pengaruh Muhammadiyah hingga level global, muncul peringatan serius dari Ketua Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Syafiq A. Mughni, MA.
Dalam Pengajian Ramadan 1447 H di Masjid Al Mizan SMA Muhammadiyah 10 GKB, Sabtu (2/2/2026), dia mengingatkan bahwa kekuatan struktur dan jumlah jamaah tidak otomatis menjamin keutuhan organisasi.
Menurut dia, tanpa internalisasi nilai yang mendalam, Muhammadiyah berisiko besar secara fisik tetapi rapuh secara ideologis.
“Kekuatan besar Muhammadiyah harus diiringi dengan internalisasi nilai agar tidak terjebak pada perpecahan,” katanya.
Syafiq A. Mughni menggambarkan Muhammadiyah sebagai organisasi global yang telah memiliki delapan organisasi otonom (sister organizations), jaringan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di berbagai negara, serta kerja sama bilateral di tingkat internasional.
“Kalau ingin melihat besarnya Muhammadiyah, lihatlah berapa banyak jamaah yang mengikuti salat Idulfitri dengan keputusan Muhammadiyah, berapa siswa di sekolah Muhammadiyah, dan berapa mahasiswa di Perguruan Tinggi Muhammadiyah,” jelas Guru Besar UIN Sunan Ampel Surabaya itu.
Namun, menurutnya, besarnya Muhammadiyah tidak boleh menjadikan warganya tercerai-berai secara nilai. Dia mengingatkan dengan firman Allah dalam QS. Al-Hasyr ayat 14:
> تَحْسَبُهُمْ جَمِيعًا وَقُلُوبُهُمْ شَتَّىٰ
“Kamu mengira mereka itu bersatu, padahal hati mereka berpecah-belah.”
Ayat tersebut menjadi pengingat bahwa kekuatan struktural tidak cukup tanpa kesatuan nilai dan kesadaran.

Latar Belakang Beragam Warga Muhammadiyah
Syafiq A. Mughni menjelaskan, warga Muhammadiyah lahir dari berbagai latar belakang. Pertama, keluarga, yakni mereka yang lahir dari orang tua Muhammadiyah.
Kedua, ingkungan/pergaulan, mereka yang ikut karena pertemanan. Ketiga, pekerjaan, mereka masuk karena menjadi bagian dari Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).
Keempat, ideologi, mereka yang bergabung setelah memahami Muhammadiyah secara sadar.
Dia menyampaikan bahwa tidak semua kader lahir dari proses ideologis sejak awal.
“Walaupun lahir dari keluarga Muhammadiyah, belum tentu menjadi kader terbaik. Yang terpenting adalah proses,” ungkapnya.
Internalisasi: Dari Pengetahuan Menuju Kesadaran
Menurut Syafiq A. Mughni, proses internalisasi nilai Muhammadiyah bertumpu pada dua hal utama:
1. Pengetahuan.
Pemahaman terhadap Muhammadiyah harus terus ditumbuhkan melalui proses belajar. Saat ini, akses informasi semakin mudah.
Siapa pun dapat mempelajari Muhammadiyah melalui berbagai sumber digital sehingga wawasan tentang organisasi semakin terbuka.
2. Kesadaran
Pengetahuan saja tidak cukup. Banyak pihak mengakui keunggulan Muhammadiyah sebagai organisasi modern dengan tata kelola yang rapi dan bahkan memiliki success story di tingkat global.
Muhammadiyah juga dikenal memiliki jaringan amal usaha yang luas, hingga pernah menjadi mitra penyaluran bantuan kemanusiaan internasional, termasuk pada saat tragedi tsunami Aceh.
Namun demikian, pengakuan terhadap keunggulan Muhammadiyah tidak selalu diikuti dengan kesediaan untuk bergabung.
Sebagian orang tetap menjaga jarak karena faktor kepentingan atau preferensi praktik keagamaan tertentu.
Tantangan Internal
Di sinilah pentingnya internalisasi nilai. Pengetahuan harus ditingkatkan, tetapi lebih dari itu, kesadaran untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai pilihan ideologis perlu terus dibangun.
“Pengetahuan dan kesadaran ini harus terus ditingkatkan dan diinternalisasi,” tegas Syafiq A. Mughni.
Dengan demikian, Muhammadiyah tidak hanya besar secara jumlah dan amal usaha, tetapi juga kuat dalam kesatuan nilai dan orientasi perjuangan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments