Pemberdayaan guru Aisyiyah dan modernisasi pendidikan anak usia dini menjadi pesan utama Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik dalam Talkshow Milad ke-28 Ikatan Guru Aisyiyah Bustanul Athfal (IGABA) Kabupaten Gresik, Sabtu (6/12/2025).
Acara ini menghadirkan dua pemateri, yakni Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gresik) Prof. Syamsul Shodiq Daerah dari Ria Pusvita Sari, MP.d (Pengawas Pembina SD/MI Muhammadiyah Gresik).
Keduanya memberikan penguatan kepada 453 guru PAUD Aisyiyah dan guru TPQ yang diundang khusus guna memperluas jangkauan pengembangan pendidikan Aisyiyah.
Syamsul Shodiq menegaskan bahwa IGABA harus tampil sejajar dengan lembaga pendidikan lain melalui inovasi, peningkatan kompetensi, dan peneguhan nilai Islam berkemajuan.
Syamsul mengaku pernah merintis Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) dan menyaksikan langsung perlunya pembaruan dalam metode maupun pengelolaan lembaga tersebut.
“TPQ jangan begitu-begitu saja. Harus dimodernisasi. Karena itu, saya mengapresiasi IGABA yang kali ini mengundang guru-guru TPQ. IGABA bukan hanya untuk KB dan TK, tapi juga untuk TPQ,” ujarnya.
Dia menegaskan, dengan sosialisasi dan program konkret, mutu pendidikan di lingkungan Aisyiyah akan makin baik.
Dalam paparannya, Syamsul mengingatkan bahwa Muhammadiyah lahir untuk mewujudkan Islam yang nyata dalam perilaku, bukan sekadar keyakinan.
Menurutnya, pendiri Muhammadiyah menyerukan dua hal penting,yakni mengajarkan anak berperilaku sebagai muslim dan berjuang sebaik-baiknya dalam persyarikatan agar tampak hasil dari pemikiran dan perjuangan.
Untuk menjaga partisipasi peserta, Syamsul bahkan mengajak peserta menuliskan dua hal menarik dari materi STEM di sisi kiri snack box, serta satu pertanyaan atau usulan untuk IGABA di sisi kanan.
Tantangan IGABA
Syamsul menegaskan, IGABA tidak cukup hanya diakui sebagai organisasi yang mandiri. Yang lebih penting, katanya, adalah menampilkan kinerja dan kualitas yang menunjukkan kesetaraan itu.
Dia merinci tiga pekerjaan rumah besar IGABA, yakni meningkatkan kompetensi guru, mengajarkan logika melalui literasi, dan melejitkan PAUD Aisyiyah yang ramah anak. “Jadilah guru yang benar-benar menjadi panutan,” tegasnya.
Menurut Syamsul, sekolah ramah anak penting karena anak memiliki hak yang sama seperti orang dewasa.
Bahkan pendidikan modern di berbagai negara maju sudah mengarah pada transhumanisme, yakni pola pendidikan yang mendorong kolaborasi antarmanusia dan lingkungan secara setara.
“Jika IGABA konsisten, lima tahun lagi model transhumanisme bisa mulai diterapkan di PAUD Aisyiyah,” tambahnya.
Syamsul juga menyinggung bahwa Aisyiyah telah memiliki pengalaman pendidikan lebih dari satu abad sejak digagas Nyai Walidah pada 1919.
Namun dia mengingatkan bahwa perjuangan untuk mensejajarkan sekolah-sekolah Aisyiyah dengan lembaga lain masih panjang.
“Kolaborasi harus lebih serius agar sekolah Aisyiyah memiliki guru dan kualitas yang hebat,” katanya.
Di akhir sesi, Syamsul membakar semangat peserta untuk terus berinovasi dan berkolaborasi dalam menguatkan IGABA.
Kemuliaan Anak hingga Role Model Guru
Sesi talkshow semakin hidup saat peserta diberi kesempatan bertanya. Salah satunya, Triwulandari Heppyani dari TK Aisyiyah 42 PPS.
Dia menanyakan, bagaimana menggairahkan pembelajaran di TK/KB dan memuliakan anak? Bagaimana menjadi role model yang dibanggakan anak didik?
Menanggapi pertanyaan pertama, Ria Pusvita Sari menegaskan bahwa orangtua dan guru tidak perlu cemas berlebihan soal calistung.
“Sekarang SD sudah dilarang melakukan tes calistung sebagai syarat masuk. Jadi bukan zamannya lagi anak PAUD dipaksa menguasai hal itu secara formal,” ujarnya.
Ria menjelaskan bahwa dalam kebijakan transisi PAUD-SD, calistung bukan dilarang, tetapi harus diajarkan melalui aktivitas yang sesuai dengan dunia anak. Ia memberi contoh metode number sense dan number dots.
“Misalnya guru menunjukkan satu titik. Kita tanya, ‘Ini angka berapa?’ Lalu kita lihat siapa yang sudah bisa mengenali dan siapa yang belum. Dari situ kita paham bahwa konsep ‘satu’ bagi anak bisa berbeda-beda. Ini proses mengenal bilangan secara alami, bukan dipaksa,” paparnya.
Pada pertanyaan kedua tentang bagaimana menjadi role model bagi anak, Syamsul Shodiq menekankan pentingnya membentuk suasana belajar yang tidak hanya menonjolkan kompetisi.
“Anak tidak harus selalu kompetitif. Ada saatnya ia perlu belajar menghargai teman yang belum paham. Itu bagian dari pendidikan karakter,” jelasnya.
Dia mengaitkan hal tersebut dengan contoh pengenalan bilangan. “Kita ajarkan dulu konsepnya. Bahwa ‘satu’ punya variasi. Anak belajar bahwa orang lain bisa punya pemahaman yang berbeda. Itu melatih empati dan menghargai sesama.”
Syamsul kemudian menyinggung peran guru sebagai teladan. “Guru menjadi role model itu kunci. KH Ahmad Dahlan mengajarkan bahwa beramal harus dengan ilmu. Kalau tanpa ilmu akan tersesat. Dan setelah berilmu, harus diamalkan secara konsisten dan ikhlas.”
Menurutnya, prinsip ilmu, amal, dan ikhlas itu adalah fondasi kuat yang harus dihidupkan oleh setiap guru Aisyiyah.
Syamsul menutup sesi dengan pesan yang cukup menohok bagi para peserta.
“Yang membutuhkan Muhammadiyah adalah kita, bukan Muhammadiyah yang membutuhkan kita. Karena itu, melalui persyarikatan ini mari kita terapkan prinsip-prinsip Ahmad Dahlan dengan kesungguhan.”(*)






0 Tanggapan
Empty Comments