Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tahsinul Qur’an Sebagai Investasi Abadi

Iklan Landscape Smamda
Tahsinul Qur’an Sebagai Investasi Abadi
Oleh : Zum'atun Kholifah Pengajar TPQ Darul Falah Pelangwot
pwmu.co -

Tahsinul Qur’an bukanlah sekadar upaya untuk memperbaiki struktur bunyi di ujung lidah.

Ia adalah sebuah bentuk pemuliaan sakral terhadap wahyu Ilahi.

Ketika kita memperbaiki bacaan, kita sesungguhnya sedang berjuang menunaikan hak-hak dari setiap huruf yang diturunkan Allah Azza wa Jalla melalui perantara Malaikat Jibril kepada lisan mulia Rasulullah SAW.

Membaca Al-Qur’an dengan benar adalah cara kita menjaga kemurnian pesan Tuhan agar tetap sesuai dengan cara ia diturunkan.

Allah SWT menjanjikan pahala yang teramat istimewa bagi hamba-Nya yang berlelah-lelah dalam membaca al-Qur’an.

Sebuah hadis dari Bunda Aisyah RA menjadi oase bagi siapa pun yang merasa lidahnya masih kaku atau sulit melafalkan makhorijul huruf dengan tepat dan benar sesuai haknya.

Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: الْمَاهِرُ بِالْقُرْآنِ مَعَ السَّفَرَةِ الْكِرَامِ الْبَرَرَةِ، وَالَّذِي يَقْرَأُ الْقُرْآنَ وَيَتَتَعْتَعُ فِيهِ وَهُوَ عَلَيْهِ شَاقٌّ لَهُ أَجْرَانِ

“Orang yang mahir membaca Al-Qur’an akan bersama para malaikat yang mulia lagi taat. Sedangkan orang yang membaca Al-Qur’an dengan terbata-bata dan merasa kesulitan (berat) dalam membacanya, maka baginya dua pahala.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Masalah Besar

Pernahkah kita merenungkan, mengapa Allah memberikan dua pahala bagi mereka yang kesulitan?

Para ulama menjelaskan bahwa pahala pertama adalah Pahala Tilawah—ganjaran atas setiap huruf yang terucap.

Sementara pahala kedua adalah Pahala Mujahadah—apresiasi langit atas kesabaran, cucuran keringat, dan perjuangan keras sang hamba dalam menaklukkan egonya demi memperbaiki kualitas bacaannya (tahsin).

Namun, di era sekarang ini, fakta di lapangan menunjukkan fenomena yang memprihatinkan.

Tahsinul Qur’an seringkali dipandang sebelah mata, dianggap sebagai beban yang menyita waktu, atau sekadar kurikulum tambahan untuk anak-anak di TPQ.

Ada pikiran yang salah kaprah bahwa belajar tajwid hanya kewajiban bagi para pengajar atau imam masjid.

Sebagian merasa sudah mumpuni hanya karena sudah lancar membaca, tanpa peduli apakah panjang pendek (mad) dan sifat hurufnya sudah tepat.

Lebih parah lagi, ada rasa malu yang menghinggap karena faktor usia; merasa terlalu tua untuk kembali mengeja Alif, Ba, Ta.

Inilah masalah besar dalam spiritualitas kita.

Rasa malu dalam menuntut ilmu adalah penghalang yang terselubung. Sebagaimana sabda Rasulullah, “bahwa rasa malu (dalam hal belajar) dan kesombongan adalah penghalang ilmu”.

Jika kita menganalogikan Al-Qur’an sebagai mutiara, maka ilmu tajwid adalah proses pengasahan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Tanpa pengasahan yang tepat, kilau keindahan mutiara itu tidak akan terpancar sempurna dari lisan kita.

Tahsin bukan tentang seberapa cepat kita mengkhatamkan berlembar-lembar halaman, melainkan seberapa takzim kita memperlakukan setiap firman-Nya.

Menambah wawasan dengan ‘bumbu’ bahasa Arab, nahwu, dan shorof akan semakin memperkuat energi cinta kita.

Kita akan menyadari bahwa Al-Qur’an bukan sekadar teks mati, melainkan pedoman hidup yang dinamis. Jangan pernah berkecil hati jika lidah masih terasa kaku.

Bagi Allah, setiap perjuanganmu mengeja makhraj yang benar adalah tumpukan pahala yang bisa menjadi tiket menuju Jannah-Nya.

Mari jujur pada diri sendiri,  kita mampu menghabiskan waktu berjam-jam melakukan scrolling di media sosial atau terpaku pada layar gawai demi kesenangan duniawi yang fana.

Lantas, mengapa kita begitu pelit menyisihkan waktu sejenak untuk duduk di majelis tahsin?

Padahal, Al-Qur’an adalah satu-satunya kawan yang akan datang sebagai syafaat (pembela) di hari kiamat kelak ketika semua manusia sibuk dengan urusannya masing-masing.

اقْرَءُوا الْقُرْآنَ فَإِنَّهُ يَأْتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ شَفِيعًا لِأَصْحَابِهِ

Artinya:

“Bacalah Al-Qur’an, karena sesungguhnya ia akan datang pada hari kiamat sebagai pemberi syafaat (pembela) bagi orang yang membacanya.” (HR. Muslim)

Lelahnya belajar tahsin adalah lelah yang penuh berkah.

Setiap kali Anda mengulang-ulang satu huruf—berjuang membedakan antara Kha, Ha’, dan Haa’—itu bukan sekadar latihan vokal.

Itu adalah perniagaan yang tak akan merugi.

Allah tidak menilai hasil akhir kefasihan layaknya juri perlombaan manusia, melainkan Allah menilai setiap detik waktu yang kau korbankan dan niat tulusmu untuk menghampiri-Nya.

Sebagaimana perkataan Utsman bin Affan, “Sekiranya hati kita bersih, niscaya kita tidak akan pernah merasa bosan dari belajar kalam Tuhan kita.”

Selagi nikmat sehat dan waktu sempat masih digenggam, mari isi amunisi semangat untuk terus belajar.

Tidak ada kata terlambat untuk memperbaiki hubungan dengan Al-Qur’an. Karena lisan yang fasih adalah buah dari kesabaran yang panjang, dan kemuliaan hanya milik mereka yang mau terus belajar.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡