Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tajdid Aqidah, Mental, dan Sosial: Refleksi Ramadan 1447 H

Iklan Landscape Smamda
Tajdid Aqidah, Mental, dan Sosial: Refleksi Ramadan 1447 H
Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I, KetuaMajelisTabligh PDM Surabaya dan Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya
Oleh : Imam Sapari, S.HI., M.Pd.I KetuaMajelisTabligh PDM Surabaya dan Kepala SMP Muhammadiyah 7 Surabaya
pwmu.co -

Ramadan kembali menyapa. Namun, kehadirannya tahun ini terasa kontras di tengah potret masyarakat yang sedang mengalami “luka lebam” secara moral dan spiritual.

Masjid-masjid berdiri megah secara fisik, tetapi sering kali sunyi dari pancaran nilai-nilai transformatif.

Di balik semarak ritual tahunan, tersimpan tantangan besar: mampukah puasa menjadi obat bagi degradasi mental dan krisis moral yang kian mengkhawatirkan?

Ritual Tanpa Ruh: Jebakan Kesalehan Formalistik

Fenomena hari ini menunjukkan gejala melemahnya iman yang hanya berhenti pada formalitas. Banyak orang rajin beribadah, namun dampak sosialnya nyaris tak terasa.

Ironisnya, kasus korupsi tetap tinggi dan kepedulian sosial kerap berjalan di tempat, meski mayoritas masyarakat menjalankan puasa.

Inilah tanda degradasi moral itu—ketika agama baru sebatas identitas, belum sepenuhnya menjadi kompas perilaku.

Ramadan seharusnya bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum pembaruan (tajdid) yang menyentuh akar persoalan.

1. Tajdid Aqidah: Memurnikan Tauhid dari Berhala Modern

Pilar pertama pembaruan adalah aqidah. Tajdid aqidah bukan sekadar diskursus teologis, melainkan upaya memurnikan tauhid dari “berhala-berhala modern” seperti materialisme, hedonisme, dan pemujaan jabatan.

Merujuk QS. Al-Baqarah ayat 183, tujuan puasa adalah melahirkan takwa. Takwa harus terwujud dalam kejujuran berbisnis, profesionalisme dalam bekerja, serta integritas dalam memegang amanah.

Puasa dalam bingkai tauhid sejati akan membentuk karakter khaira ummah—umat terbaik yang membawa manfaat bagi sesama.

2. Tajdid Mental: Puasa Digital dan Budaya Tabayyun

Kesehatan mental masyarakat hari ini juga tercermin dari etika di ruang digital. Hoaks, ujaran kebencian, dan adu domba menjadi konsumsi harian. Ini cermin mentalitas yang sakit.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ramadan perlu menjadi momentum “puasa digital” — menahan diri dari menyebar informasi tanpa verifikasi, membatasi konsumsi konten negatif, serta memperkuat budaya tabayyun. Melawan “qoulaz-zuur” (perkataan dusta) bukan hanya di dunia nyata, tetapi juga di media sosial.

3. Tajdid Sosial: Menggerakkan Spirit Al-Ma’un

Iman yang sehat harus melahirkan kepedulian sosial. Di tengah fluktuasi harga pangan dan tekanan ekonomi, Ramadan menjadi ajang pembuktian solidaritas.

Budaya israf (berlebihan) saat berbuka puasa perlu dilawan, terutama ketika masih banyak tetangga yang kesulitan.

Filantropi strategis melalui lembaga seperti Lazismu harus diperkuat agar bantuan tidak hanya karitatif, tetapi juga memberdayakan—termasuk memastikan anak-anak kurang mampu tetap memperoleh akses pendidikan.

Sinergi Lima Pilar Masyarakat

Upaya menghentikan degradasi moral tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan kolaborasi lima elemen utama:

  • Pemerintah menjamin stabilitas harga dan menciptakan ekosistem digital yang sehat.
  • Ulama menggeser orientasi dakwah dari sekadar fikih ritual menuju literasi puasa yang menyentuh akhlak sosial dan digital.
  • Aghniya mengubah gaya hidup konsumtif menjadi kedermawanan yang memberdayakan.
  • Pendidik mengintegrasikan iman dan ilmu dalam membentuk generasi tangguh.
  • Orang tua menjadi madrasah pertama dalam membimbing anak menghadapi tantangan teknologi dan menanamkan kejujuran sejak dini.

Ramadan sebagai Garis Start Perubahan

Malam-malam Ramadan sejatinya adalah garis start pemulihan total. Jika sinergi itu terbangun, Ramadan 2026 bukan sekadar ritual tahunan, tetapi momentum transformasi sosial yang nyata.

Kita tidak boleh membiarkan ritual melemah dan moral luruh tergerus zaman.

Melalui tajdid aqidah yang kokoh, tajdid mental yang sehat, dan tajdid sosial yang peduli, kita berharap keluar dari bulan suci bukan hanya sebagai pribadi yang saleh secara individu, tetapi juga sebagai penggerak kemajuan peradaban.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu