Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Takbiran atau Sound Horeg? Saat Dentuman Mulai Geser Makna Ibadah

Iklan Landscape Smamda
Takbiran atau Sound Horeg? Saat Dentuman Mulai Geser Makna Ibadah
Nurudin, Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)
Oleh : Nurudin Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Malam takbiran, saya keluar rumah untuk melihat takbiran keliling. Sebagai anak desa dari daerah selatan Yogyakarta, suasana seperti ini selalu terasa menyenangkan. Dulu, saat kecil, saya menjadi bagian dari pawai takbiran. Kini, setelah berkeluarga dan tinggal di Malang, saya hanya bisa menikmati sebagai penonton.

Jalanan ramai. Lampu warna-warni berkedip. Anak-anak lalu lalang. Remaja menaiki bak mobil. Takbir menggema dari berbagai arah. Saya tersenyum. Ada rasa hangat yang sulit dijelaskan. Lebaran memang selalu punya cara untuk memenuhi hati dengan kebahagiaan.

Namun, beberapa menit kemudian suasana berubah. Bukan lagi lantunan “Allahu Akbar” yang menggetarkan jiwa. Yang terdengar justru dentuman bass yang sangat keras. Suaranya menghantam dada, bahkan terasa hingga ke tulang. Orang-orang menyebutnya sound horeg.

Saat itu saya sedang di dalam mobil bersama keluarga. Kami diminta berhenti oleh pemandu takbiran karena rombongan akan melintas. Dari kejauhan terlihat speaker bertumpuk tinggi. Takbir bercampur musik. Saya mulai bertanya dalam hati, ini masih takbiran atau sudah menjadi pesta suara?

Kaca mobil bergetar. Dada terasa sesak. Anak saya ketakutan dan mulai mengeluh. Momen yang seharusnya khusyuk berubah menjadi pengalaman yang tidak nyaman.

Takbir dan Dentuman Suara

Saya memang belum pernah mengikuti takbiran dengan sound horeg saat kecil. Namun, seorang teman pernah bercerita pengalamannya. Awalnya terasa seru. Rombongan menjadi pusat perhatian. Ada kebanggaan tersendiri.

Namun lama-kelamaan, ia merasa tidak nyaman. Telinganya penuh, kepala pusing. Wajar saja, paparan suara di atas 85 desibel dalam waktu lama dapat merusak pendengaran. Sementara sound horeg sering mencapai 100–120 desibel, setara dengan konser musik keras atau mesin berat.

Dampaknya tidak main-main: telinga berdenging, sakit kepala, gangguan tidur, hingga stres. Bahkan ada yang tidak bisa tidur semalaman setelah mengikuti takbiran seperti itu.

Selain itu, getaran suara yang kuat juga berdampak pada lingkungan. Kaca rumah bergetar, dinding berderak, bahkan berpotensi menimbulkan retakan kecil pada bangunan.

Saya mulai merenung. Takbir yang seharusnya menenangkan justru tenggelam dalam kebisingan. Momen hening untuk merasakan kebesaran Tuhan seakan hilang, tergantikan euforia semata.

Syiar yang Berubah Arah

Saya mencoba memahami. Banyak orang ingin bersyiar dan menunjukkan kegembiraan menyambut hari kemenangan. Itu tentu hal baik.

Namun, ketika caranya berlebihan, maknanya bisa bergeser. Tidak semua orang nyaman dengan suara keras. Ada yang sakit, bayi yang terbangun, hingga lansia yang membutuhkan ketenangan.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Saya pernah melihat seorang ibu menutup telinga anaknya saat rombongan sound horeg lewat. Anak itu menangis karena tidak nyaman. Momen yang seharusnya membawa kebahagiaan justru menimbulkan gangguan.

Fenomena lain yang muncul adalah kapitalisasi takbiran. Ada dukungan dana, persaingan antar kelompok, hingga penyewaan sound system. Siapa yang paling keras, paling meriah, menjadi ukuran.

Saya tidak mengatakan ini sepenuhnya salah. Namun, ada batas yang perlu dijaga agar nilai ibadah tidak berubah menjadi sekadar pertunjukan.

Selanjutnya Bagaimana?

Saya tidak ingin tradisi takbiran hilang. Justru saya ingin ia kembali terasa maknanya.

Saya masih ingat masa kecil: takbiran dilakukan sederhana. Jalan kaki bersama warga, membawa obor atau lampu kecil. Takbir bersahut-sahutan tanpa alat besar. Tidak keras, tetapi terasa dalam dan menenangkan.

Zaman memang berubah. Namun esensi tetap harus dijaga. Bersenang-senang boleh, tetapi dengan cara bijak. Tidak semua harus menggunakan sound horeg atau suara menggelegar.

Tokoh masyarakat dan takmir masjid bisa memberikan imbauan agar takbiran lebih tertib dan bermakna. Namun yang terpenting adalah kesadaran kita sendiri.

Generasi muda tentu mampu menghadirkan inovasi yang tetap menghormati nilai ibadah, seperti takbiran akustik, pawai lampu, atau kegiatan sosial.

Malam takbiran seharusnya menjadi momen penuh makna, bukan ajang kebisingan. Takbir bukan tentang siapa yang paling keras, tetapi siapa yang paling tulus mengagungkan Tuhan.

Sudah saatnya kita mengembalikan takbiran pada ruhnya: meriah dengan cara yang bijak, tanpa mengganggu kenyamanan dan kesehatan bersama.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡