Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tangis Pilu Anak-Anak Palestina Korban Genosida Memanggil Kita

Iklan Landscape Smamda
Tangis Pilu Anak-Anak Palestina Korban Genosida Memanggil Kita
Gambar ilustrasi (sumber gambar: pixabay.com)

Oleh: Andi Hariyadi – Ketua Majelis Pustaka Informatika dan Digitalisasi Pimpinan Daerah Muhammadiyah Surabaya.

PWMU.CO – Mari kita kembali arahkan perhatian kita pada krisis kemanusiaan yang masih berlangsung akibat genosida di Gaza, Palestina. Rasa iba saja tentu tidak cukup, sudahkah kita menunjukkan kepedulian nyata, salah satunya dengan berdonasi untuk membantu rakyat Palestina?

Penderitaan anak-anak Palestina sebagai korban genosida oleh rezim brutal Zionis terus berlangsung sejak 1948. Berbagai aksi kekejaman yang melampaui batas kemanusiaan terus terjadi, dan semakin memburuk setelah Palestina melancarkan operasi Badai Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023. Sejak saat itu, serangan brutal militer Israel kian membabi buta, menimbulkan derita yang tak berkesudahan.

Lagi-lagi, anak-anak Palestina yang tak berdosa menjadi korban. Mereka benar-benar tidak berdaya. Masa kecil yang seharusnya dipenuhi canda tawa kini berganti menjadi tangisan dan cucuran darah akibat serangan brutal tentara Israel.

Halaman rumah yang biasanya menjadi tempat bermain bersama saudara dan teman sebaya kini berubah menjadi tumpukan puing-puing yang mengerikan. Ada yang terkubur hidup-hidup hingga meregang nyawa, dan ada pula yang selamat meski tertimbun debu serta bongkahan batu, dengan luka yang begitu menyakitkan.

Ketegaran anak-anak Palestina yang menjadi korban genosida sungguh luar biasa. Kedua orang tua yang biasanya mendampingi mereka dengan penuh kasih sayang, kini telah tiada, kebahagiaan berubah menjadi duka mendalam. Teman-teman sebaya yang dulu bermain bersama, kini terpisah selamanya.

Kesendirian di pengungsian, bersama para korban lainnya dalam penderitaan, seharusnya bisa menjadi tempat menggantungkan harapan. Namun, agresi Zionis Israel terus berlanjut. Belum reda hujan bom yang menewaskan ribuan orang dan melukai banyak lainnya, kini mereka juga menerapkan pembatasan yang sangat ketat, terutama terhadap bantuan makanan, pakaian, dan obat-obatan.

Kelaparan meluas karena tidak adanya pasokan makanan yang cukup. Pakaian yang kotor dan tak layak masih dipakai untuk melawan hawa dingin yang menusuk dan panas yang menyengat. Obat-obatan yang sangat terbatas membuat luka-luka semakin parah, dan hari-hari mereka pun dijalani dalam derita dan kesakitan.

Derita anak-anak Gaza, Palestina, mengingatkanku pada momen ketika aku berkesempatan mengunjungi Masjidil Aqsa sekitar 15 tahun yang lalu. Seusai shalat Dhuhur dan Ashar, aku mencoba mendekati sekelompok anak yang berdiri di depan pintu Masjidil Aqsa. Saat itu, aku mengeluarkan beberapa lembar uang dolar untuk kuberikan kepada mereka. Namun, dengan sopan mereka menolak dan memintaku untuk memasukkan uang itu ke dalam kotak infak. Aku pun menuruti permintaan mereka.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Wajah-wajah kecil itu tersenyum hangat. Lalu, di sakuku, masih ada beberapa butir permen yang kemudian kuberikan kepada mereka. Keceriaan mereka pun terlihat begitu tulus. Hati ini semakin terenyuh menyaksikan kenyataan bahwa di balik senyum mereka, tersimpan luka dan penderitaan yang dalam. Namun senyum tersebut tetap menjadi pengingat dan penyemangat bahwa harapan dan kedamaian untuk Palestina masih ada.

Anak-anak Palestina pun berhak untuk bahagia, ceria, aman, dan hidup dalam damai. Namun, apa daya, rezim Zionis masih bercokol di tanah pendudukan, terus mengikis harapan itu. Wajah-wajah imut mereka, dengan senyum polos yang pernah kulihat, masih terbayang jelas dalam ingatanku. Di balik senyum itu, seolah mereka sedang memanggil kita sesama saudara untuk peduli, untuk tidak diam atas penderitaan yang mereka alami.

Ada panggilan kemanusiaan dari korban kejahatan perang dan genosida. Lengkingan suara anak-anak Gaza masih sayup-sayup terdengar, di tengah kebisingan mesin-mesin perang. Dentuman bom yang setiap saat bisa diledakkan, tak mampu meredam semangat menyuarakan misi kemanusiaan. Justru, setiap ledakan disambut dengan pekik takbir yang menggema.

Perjuangan kemanusiaan akan terus dikumandangkan untuk meruntuhkan kesombongan dan keangkuhan. Ketegaran anak-anak Gaza, para pemberani kecil, telah membuat nyali tentara Zionis ciut di medan perang. Dunia pun semakin muak terhadap kebijakan rezim Zionis Israel yang arogan dan tak berperikemanusiaan.

Sambutlah panggilan jihad kemanusiaan dengan mengoptimalkan donasi untuk Gaza, Palestina. Salurkan bantuan melalui Lazismu, lembaga terpercaya yang konsisten dalam aksi-aksi peduli kemanusiaan. Berdonasi untuk Palestina adalah bukti nyata bahwa kita turut merasakan derita saudara-saudara kita di sana, tangisan mereka adalah tangisan kita. Mari rapatkan barisan, gerakkan aksi kemanusiaan bersama, agar dunia tahu genosida sedang terjadi di Gaza dan kita tidak tinggal diam. (*)

Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡