Generasi Z adalah generasi yang lahir dan tumbuh di tengah laju perkembangan teknologi digital yang sangat pesat dan nyaris tanpa batas. Internet, media sosial, dan arus informasi global telah menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan sehari-hari mereka.
Kondisi ini membentuk karakter Generasi Z yang terbuka, kritis, adaptif, dan memiliki akses luas terhadap berbagai pandangan dunia.
Namun di balik kemudahan dan kecepatan tersebut, muncul tantangan besar dalam menjaga kaidah-kaidah Islam, khususnya yang berkaitan dengan aqidah dan moralitas akhlak.
Tantangan ini semakin kompleks ketika Generasi Z hidup dalam konteks global yang sarat dengan kebebasan berekspresi dan relativisme nilai, termasuk di era kepemimpinan dunia yang ditandai oleh figur kontroversial seperti Donald Trump.
Era ini bukan sekadar simbol politik Amerika Serikat, tetapi juga merepresentasikan menguatnya populisme, liberalisme ekstrem, dan polarisasi global yang berpengaruh hingga ke ruang digital umat Islam di berbagai belahan dunia.
Islam sejatinya tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah (ḥablum minallāh), tetapi juga membentuk cara berpikir, bersikap, dan berperilaku dalam kehidupan sosial (ḥablum minannās). Dengan kata lain, Islam menekankan pembentukan karakter yang utuh. Karena itu, ketika aqidah dan akhlak melemah, identitas keislaman pun ikut tergerus.
Tantangan ini terasa kuat pada Generasi Z yang hidup di tengah kebebasan berekspresi, budaya instan, dan kaburnya batas antara yang benar dan yang salah.
Salah satu tantangan utama dalam menjaga aqidah adalah banjir informasi keagamaan yang tidak seluruhnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah. Media sosial memungkinkan siapa saja berbicara tentang agama, meski tanpa dasar keilmuan yang memadai.
Akibatnya, Generasi Z rentan menerima pemahaman Islam secara parsial, tekstual, bahkan keliru. Jika kondisi ini dibiarkan, aqidah yang seharusnya menjadi fondasi hidup justru menjadi rapuh dan mudah goyah.
Padahal Al-Qur’an menegaskan bahwa iman merupakan inti dari kebajikan seorang Muslim. Allah SWT berfirman:
“Bukanlah kebajikan itu hanya menghadapkan wajahmu ke timur dan barat, tetapi kebajikan ialah orang yang beriman kepada Allah, hari akhir, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.” (QS. Al-Baqarah: 177)
Ayat ini menegaskan bahwa aqidah bukan sekadar formalitas, melainkan keyakinan mendalam yang membentuk seluruh aspek kehidupan. Tantangan Generasi Z sesungguhnya bukan karena mereka menolak iman, sebab sebagian besar tetap mengaku beriman, tetapi karena iman tersebut sering tidak ditanamkan secara mendalam, rasional, dan kontekstual.
Selain itu, pengaruh sekularisme dan relativisme nilai juga menjadi tantangan serius. Banyak Generasi Z yang memandang agama sebagai urusan privat yang terpisah dari kehidupan sosial dan moral. Kebenaran dianggap relatif, bergantung pada perspektif individu.
Pandangan ini jelas bertentangan dengan konsep tauhid dalam Islam yang menempatkan Allah sebagai sumber kebenaran mutlak. Allah SWT berfirman:
“Maka ketahuilah bahwa tidak ada Tuhan selain Allah.” (QS. Muhammad: 19)
Ayat ini menegaskan bahwa aqidah Islam menuntut kepatuhan total, bukan sekadar pengakuan simbolik. Ketika tauhid tidak lagi menjadi landasan berpikir, maka nilai-nilai lain dengan mudah menggantikan peran agama.
Di samping aqidah, tantangan besar lainnya adalah menjaga akhlak, terutama di ruang digital. Media sosial sering mendorong perilaku impulsif, seperti berkata kasar, merendahkan orang lain, menyebarkan kebencian, dan membangun narasi permusuhan.
Banyak Generasi Z merasa bebas berbicara tanpa mempertimbangkan konsekuensi moral dari ucapannya.
Islam sangat menekankan pentingnya akhlak dalam kehidupan sosial. Allah SWT berfirman “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain…” (QS. Al-Hujurat: 11)
Ayat ini sangat relevan dengan kondisi saat ini. Dunia digital bukanlah ruang bebas nilai, melainkan bagian dari kehidupan nyata yang juga harus diatur oleh etika Islam berdasarkan Al-Qur’an dan Hadis.
Tantangan akhlak ini diperparah oleh krisis keteladanan.
Generasi Z hidup di tengah minimnya figur publik yang konsisten antara ucapan dan perbuatan. Padahal akhlak tidak cukup diajarkan melalui teori, tetapi harus dicontohkan secara nyata. Al-Qur’an menegaskan:
“Dan sesungguhnya engkau (Muhammad) benar-benar berbudi pekerti yang agung.” (QS. Al-Qalam: 4)
Meski demikian, penting ditegaskan bahwa Generasi Z bukanlah generasi yang anti terhadap Islam. Banyak kajian menunjukkan bahwa mereka justru tertarik pada Islam yang disampaikan secara rasional, relevan, dan menyentuh realitas hidup. Tantangan yang ada lebih disebabkan oleh pendekatan dakwah dan pendidikan Islam yang kurang adaptif terhadap perkembangan zaman.
Solusi utama adalah penguatan aqidah dan akhlak yang kontekstual, bukan sekadar normatif. Pendidikan Islam harus mampu mengaitkan nilai tauhid dengan kehidupan sehari-hari, termasuk di dunia digital. Akhlak perlu diajarkan sebagai bagian dari ibadah.
Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT “Sesungguhnya salat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar.” (QS. Al-‘Ankabut: 45)
Dengan penguatan aqidah yang kokoh, akhlak yang diteladankan, serta pendekatan dakwah dan pendidikan yang relevan, Generasi Z memiliki potensi besar untuk tampil sebagai generasi Muslim yang beriman, berakhlak, dan berdaya saing di tengah tantangan global, termasuk di era Donald Trump dan seterusnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments