Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tantangan Perkaderan IPM di Abad 21: Mampukah Kita Beradaptasi?

Iklan Landscape Smamda
Tantangan Perkaderan IPM di Abad 21: Mampukah Kita Beradaptasi?
pwmu.co -

Oleh Liset Ayuni – Sekretaris Umum PW IPM Jawa Timur

PWMU.CO – Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) merupakan organisasi otonom (ortom) Muhammadiyah yang basis massanya jelas, yaitu lembaga Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Muhammadiyah. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) ini jumlahnya sangat banyak, apalagi jika dibandingkan dengan AUM-AUM yang lain.

Lazimnya sebagai organisasi kader, maka kegiatan kaderisasi bukan sekedar aktivitas rutin IPM. Kaderisasi merupakan nyawa organisasi yang merupakan estafet gerakan, dan kawah candradimuka bagi kader IPM untuk berkembang.

Persoalannya, tantangan kaderisasi di era sekarang tantangannya semakin kompleks. Tantangan tersebut memaksa kita untuk semakin bisa adaptif.

Sejatinya jika menengok ke belakang, IPM telah banyak melakukan adaptasi atau penyesuaian. Kolaborasi dengan NGO, komunitas, hingga pemerintah semakin terbuka. Struktur perkaderan juga di format lebih fleksibel, tidak lagi eksklusif hanya untuk anggota IPM saja. Namun faktanya, hal tersebut ternyata belum cukup untuk menjawab persoalan regenerasi.

Menyikapi perubahan generasi

Rata-rata kader kader IPM saat ini memiliki perbedaan dengan kader-kader generasi sebelumnya. Mereka yang kini diistilahkan Generasi Z dan Alpha, merupakan generasi milenial yang tumbuh dengan informasi yang terstruktur, massif, instan, dan penuh distraksi.

Dalam perspektif psikologi perkembangan sebagaimana dikatakan Erik Erikson, masa remaja adalah tahap pencarian identitas. Di era digital, pencarian identitas ini tidak lagi linear. Terdapat berlimpah banyak opsional dan banyak ekspektasi.

Tantangannya, apakah IPM sebagai organisasi pelajar mampu menarik bagi mereka yang katergori Gen Z dan Alpha ini?

Sebagian kader dan aktivis IPM, mungkin kita masih menemukan makna melalui organisasi ini. Meski tidak sedikit pula yang menganggap berorganisasi ini masih sangat ‘formal’, ‘berat’, atau ‘kurang relevan’. Seringkali, bukan karena mereka tidak peduli, tetapi kemungkinannya karena IPM belum menemukan cara berkomunikasi sesuai sircle untuk menjangkau mereka.

Teknologi: antara peluang dan hambatan

Seiring perkembangan teknologi digital, IPM pun kini merambah ke platform digital pula. MyIPM telah hadir sebagai bagian dari inovasi. Beberapa pimpinan juga sudah familiar dengan TikTok dan Instagram, gamifikasi juga mulai diterapkan. Meski harus diakui, implementasinya masih belum massif dan maksimal.

Karena itu, satu hal yang harus menjadi renungan kita: “Apakah kita sudah benar-benar paham bagaimana teknologi bisa memperkuat kaderisasi? Ataukah kita hanya ikut tren tanpa strategi yang jelas?”

Mengikuti perspektif psikologi sosial, Teori Pembelajaran Sosial oleh Albert Bandura menyebutkan bahwa individu belajar dengan meniru model di sekitarnya. Jika kita ingin kader lebih melek digital, maka mereka membutuh role model dari dalam organisasi yang benar-benar menguasai ini.

Artinya, bukan sekadar membuat konten atau menggunakan aplikasi, tetapi membangun budaya digital yang berorientasi pada gerakan. Mungkin ini saatnya kita lebih serius membangun pelatihan kepemimpinan digital, bukan hanya untuk kader yang ‘paham teknologi’, tapi untuk semua lapisan pimpinan IPM.

IPM Kids dan Gamifikasi

IPM Kids dan pendekatan gamifikasi telah menjadi inovasi besar di IPM. Menyasar anak usia sekolah dasar, kita berupaya membentuk karakteristik kader IPM mulai dari pendidikan dasar. Persoalannya, apakah bisa dipastikan keberlanjutannya program ini? Apakah program ini bisa menjadi bagian dari ekosistem kaderisasi?

Mengikuti perspektif konstruktivisme oleh Piaget, anak-anak belajar melalui pengalaman langsung. Karena itu, jika ingin IPM Kids berjalan dengan baik dan menuai keberhasilan, kita perlu merancang bentuk-bentuk interaksi yang lebih menarik. Misalnya, bukan hanya pelatihan berbasis teori. Tapi juga aktivitas yang lebih interaktif, proyek kolaboratif, atau bahkan storytelling digital.

Saat ini, IPM sudah membuka banyak ruang bagi mereka yang ingin terlibat tanpa harus menjadi anggota formal. Ini tentu menjadi progress yang berani. Tantangannya sekarang, bagaimana untuk memastikan mereka yang ‘singgah’ di acara kita tidak hanya sekadar mampir, melainkan juga tertarik untuk berproses lebih dalam.

Mungkin kita bisa belajar dari konsep Community-Based Engagement, bahwa keterlibatan seseorang tidak selalu diukur dari status keanggotaan, tetapi dari kontribusi yang diberikan. Dengan membuka jalur keterlibatan yang lebih fleksibel, IPM bisa menjadi ruang bagi lebih banyak anak muda untuk menemukan peran mereka.

Refleksi: sudah sejauh mana kita?

Tantangan kaderisasi di abad 21 bukan hanya soal bertahan, tapi juga soal bagaimana kita bisa terus tumbuh dan berkembang. Sudah banyak langkah yang diambil, tapi mungkin masih tersisa beberapa pertanyaan yang perlu kita renungkan:

1. Apakah strategi digital kita sudah cukup inklusif bagi semua kader, atau masih terbatas pada mereka yang ‘melek teknologi’?

2. Bagaimana memastikan program inovatif seperti IPM Kids dan gamifikasi benar-benar membumi hingga ke tingkat ranting?

3. Apakah cara komunikasi kita sudah cukup fleksibel untuk memahami karakter kader dari berbagai generasi?

Tentu kita tidak membutuhkan jawaban yang instan dan dengan kata yang berbuih-buih. Tapi, ada satu hal yang pasti, “perkaderan IPM harus terus hidup, bukan hanya sebagai tradisi. Tetapi sebagai ruang yang adaptif dengan tantangan zaman”. (*)

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu