Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tauhid di Persimpangan: Antara Iman, Akal, dan Penyerupaan

Iklan Landscape Smamda
Tauhid di Persimpangan: Antara Iman, Akal, dan Penyerupaan
KH Najih Isan menyampaikan materi dalam kajian Tauhid Majelis Tabligh PCM Wonokromo. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Salah satu ujian terbesar dalam beragama adalah sejauh mana manusia benar-benar mengagungkan Allah sebagaimana mestinya.

Inilah pokok bahasan penting yang mengemuka dalam pembahasan bab akhir Kitab Tauhid, sebagaimana disampaikan KH Najih Ihsan dalam kajian Tauhid Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Wonokromo, Surabaya Ahad (4/1/2026).

Bab penutup Kitab Tauhid ini menyoroti firman Allah tentang manusia yang “tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang sebenar-benarnya.”

Sebuah peringatan mendasar bahwa penyimpangan akidah sering kali bukan karena penolakan terang-terangan terhadap Allah, melainkan karena cara memahami dan memperlakukan sifat-sifat-Nya yang keliru.

Sebagai landasan, Kiai Najih Ihsan menguraikan QS Az-Zumar ayat 67, yang menegaskan bahwa Allah menggenggam bumi dan melipat langit dengan kekuasaan-Nya.

“Ayat ini menunjukkan kemahakuasaan Allah yang mutlak dan tidak dapat diserupakan dengan makhluk,” kata anggpta Majelis Tabligh PWM Jatim ini.

Namun, Kiai Najih menekankan bahwa para ulama telah memberi rambu tegas: ayat-ayat sifat tidak boleh ditakwilkan secara spekulatif apalagi divisualisasikan dengan logika manusia.

“Dalam konteks inilah pembahasan tentang sifat istiwa’ Allah—bahwa Allah berada di atas ‘Arsy—menjadi penting,” jelasnya.

Menurut dia, ayat ini kerap memantik perdebatan, terutama ketika sebagian pihak mencoba menganalogikannya dengan pengalaman makhluk.

Padahal, menurut Kiai Najih, perbedaan mendasar antara Khalik dan makhluk menutup ruang bagi segala bentuk penyerupaan. Apa yang berlaku bagi manusia tidak dapat diterapkan pada Zat Allah.

Dia kemudian menegaskan tiga prinsip utama dalam mengimani sifat-sifat Allah: mengimani sebagaimana datangnya dalil, tidak memikirkan “bagaimana”-nya, dan meyakini kebenarannya tanpa menyerupakan dengan makhluk.

“Tiga prinsip ini menjadi pagar akidah agar seorang Muslim tetap berada di jalan lurus dalam memahami tauhid,” papar dia.

Lebih jauh, Kiai Najih mendorong jamaah untuk memperluas cakrawala keilmuan dengan membaca berbagai referensi dan mendengarkan kajian dari beragam guru.

“Namun, keterbukaan tersebut harus diiringi dengan ketelitian, yakni memilih pendapat yang paling kuat dan rajih berdasarkan dalil, bukan sekadar mengikuti yang paling mudah atau populer,” papar dia.

Menjelang akhir kajian, Kiai Najih juga memberi isyarat pentingnya melanjutkan pendalaman tauhid melalui kitab-kitab lain seperti Ushul Tsalatsah dan Firqatun Najiyah.

Tauhid, menurut dia, bukan ilmu yang cukup dipelajari sekali, melainkan fondasi yang harus terus diteguhkan agar keimanan tetap lurus dan kokoh.

Dengan demikian, penutup Kitab Tauhid ini bukan sekadar akhir pembahasan, melainkan pengingat bahwa mengagungkan Allah dengan benar adalah perjalanan seumur hidup—yang menuntut ilmu, kehati-hatian, dan kerendahan hati dalam beragama. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu