Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Tauhid Harus Berbuah Akhlak, Bukan Sekadar Hafalan dan Perdebatan

Iklan Landscape Smamda
Tauhid Harus Berbuah Akhlak, Bukan Sekadar Hafalan dan Perdebatan
Fathurrahman Kamal. Foto: Istimewa
pwmu.co -

Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Fathurrahman Kamal, ,Lc.,M.Si menegaskan, tauhid bagi Muhammadiyah tidak sebatas hafal-hafalan dalil sebagaimana yang ramai di media sosial.

Hal itu disampaikan Fathurrahman Kamal dalam Hari Bermuhammadiyah ke-8 Muhammadiyah dan Aisyiyah se-Kota Depok yang dikemas dalam Pengajian Qabla Ramadan, Ahad (1 /2/2026) .

“Tauhid di Muhammadiyah itu bukan hafalan memori intelektual kognitif; pintar-pintaran yang seperti sekarang ini di sosial media orang berdebat. Sebagai perdebatan akademik boleh, tapi untuk melibatkan awam saya sebagai seorang mubalig tidak setuju,” katanya.

Fathurrahman menjelaskan, tauhid tidak boleh menjadi perdebatan – yang harusnya di ruang tertutup, malah disebar luaskan sehingga menimbulkan fitnah lebih besar. Sebab umat tidak membutuhkan itu, karena bisa memecah belah.

“Tauhid dalam pandangan Muhammadiyah adalah tauhid yang berimpak pada sikap, etis, dan akhlak kehidupan,” ungkapnya seperti dilansir di laman resmi PP Muhammadiyah.

Maka ajaran tauhid dalam Islam itu harus menyatu dalam segala urusan. Terlebih Islam mengatur manusia dari hidup sampai meninggal. Maka tidak boleh ajaran dan nilai-nilai dalam Islam ini berhenti pada ranah teoritis dan hafalan semata.

Berangkat dari luhurnya nilai dan ajaran Islam, bahkan untuk urusan-urusan yang kecil, maka tentu nilai dan ajaran Islam juga pasti ada pada urusan-urusan yang lebih besar. Termasuk pada akhlak publik seorang muslim.

Pada kesempatan ini Fathurrahman menyoroti kesalihan publik figur seorang agamawan maupun ustaz di ruang publik yang ditampilkan dengan keras – mereka merasa dirinya yang paling otentik untuk merepresentasikan Islam.

“Saya ingin mengatakan kalau Islam itu selesai pada klaim, maka orang-orang munafik di Madinah itu yang pertama masuk surga. Kalau Islam berhenti pada klaim dan brand. Hari ini Islam dieksploitasi sebagai sebuah brand,” katanya.

Oleh karena itu, Fathur berpesan kepada mubalig Muhammadiyah untuk berhati-hati dalam menampilkan diri di ruang publik. Dia menekankan, mubalig Muhammadiyah tidak boleh latah ikut mengkafirkan dan membid’ahkan sesama saudara seiman.

“Umat tidak butuh itu. Perdebatan-perdebatan itu tolong dimasukkan di ruang ilmu, bukan di ruang masyarakat,” katanya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu