Acara Halal Bihalal Alumni SMA Muhammadiyah 2 (SMA Muha) Genteng Banyuwangi angkatan 1985 pada Rabu (25/3/2026) menghadirkan sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Sempu, Drs. Muta’adib Dardiri, M.Pd., untuk menyampaikan siraman rohani.
Kegiatan halal bihalal tahun ini diselenggarakan di rumah Muslim Thoyib di Dusun Tegayasan, Desa Tegal Arum, Kecamatan Sempu, salah satu koordinator silaturahmi alumni angkatan 1985.
Pererat Silaturahmi di Usia Pensiun
Kegiatan rutin yang dilaksanakan setiap satu tahun sekali, tepatnya hari ketujuh setelah Idul Fitri, tahun ini mengusung tema Pererat Silaturahmi di Usia Pensiun. Acara dikemas sederhana, tidak terlalu formal, dan lebih mengutamakan sambung silaturahmi serta bertukar cerita langsung, berbeda dengan komunikasi sehari-hari yang hanya lewat pesan singkat di grup WhatsApp.
Tidak kurang dari lima puluh orang hadir pada acara yang dimulai pukul 10.00 WIB dan dipandu langsung oleh koordinator alumni Muslim Thoyib. Ia mengucapkan terima kasih kepada seluruh sahabat yang menyempatkan hadir dan berharap niat baik mereka dicatat Allah SWT sebagai tambahan amal kebajikan.
Muslim Thoyib menambahkan bahwa sebagian besar alumni, khususnya tenaga pendidik ASN maupun non-ASN, telah memasuki usia pensiun.
“Ini merupakan anugerah luar biasa, karena kita masih diberi kesempatan dan kesehatan untuk mempererat tali silaturahmi di usia pensiun, serta mendoakan sahabat-sahabat yang telah berpulang ke haribaan-Nya,” pungkasnya.
Empat Hal Pertanyaan di Akhirat
Usai prakata dari koordinator alumni, acara dilanjutkan dengan tausiyah oleh Drs. Muta’adib Dardiri, M.Pd., yang dikenal dekat dengan para murid di era SMA dan masih aktif di PCM Sempu sebagai sekretaris Majelis Tabligh.
Dalam tausiyahnya, Muta’adib membacakan hadits Rasulullah SAW riwayat At-Tirmidzi dan Ibnu Hiban:
“Kedua kaki seorang hamba tidaklah beranjak dari tempat hisabnya pada hari kiamat hingga ia ditanya mengenai empat hal: umurnya, untuk apakah ia habiskan; jasadnya, untuk apakah ia gunakan; ilmunya, apakah telah ia amalkan; hartanya, dari mana ia peroleh dan dalam hal apa ia belanjakan.”
Setiap hamba akan mempertanggungjawabkan empat hal ini di akhirat:
- Umur (‘An umurihi fiimaa afnahu)
Seluruh umur sejak baligh akan dipertanggungjawabkan, baik dalam ucapan, perbuatan, maupun keyakinan. Orang yang menjalankan kewajiban dan menjauhi larangan akan selamat dan bahagia. - Jasad (‘An jasadihi fiimaa ablahu)
Penggunaan anggota tubuh untuk taat kepada Allah akan membawa keberuntungan, sedangkan untuk maksiat akan merugikan. - Ilmu (‘An ‘imihi maadzaa ‘amila fihi)
Ilmu agama yang fardlu ‘ain, seperti dasar aqidah, bersuci, shalat, zakat, puasa, dan kewajiban hati, harus dipelajari dan diamalkan. - Harta (‘An maalihi min ainak tasabahu wafiimaa anfaqohu)
Pertanggungjawaban terkait harta: dari mana diperoleh dan untuk apa dibelanjakan.
“Semoga Allah SWT senantiasa memberikan keberkahan di setiap aktivitas kita, menjadikannya bernilai ibadah,” pesan Adib Dardiri, sebelum menutup tausiyah dengan doa.





0 Tanggapan
Empty Comments