Muhammadiyah sebagai organisasi kemasyarakatan Islam tidak hidup di ruang hampa, melainkan tumbuh dan bergerak dalam dinamika sosial yang penuh tantangan, termasuk pertarungan ideologi.
Hal itu ditegaskan, Wakil Direktur Pascasarjana Universitas Muhammadiyah Surabaya (Umsura), Dr. Sholihul Huda alias Gus Sholik, menyampaikan tausiyah usai salat zuhur di Masjid Al Khoory kompleks Umsura, Senin (2/3/2026).
Menurut dia, dalam perjalanan dakwahnya, Muhammadiyah kerap berhadapan dengan berbagai arus pemikiran. Salah satu yang sering menjadi perbincangan adalah ideologi Salafi.
Gus Sholik menyebut, tidak jarang muncul klaim yang menyamakan Salafi dengan Muhammadiyah, bahkan menganggap Salafi sebagai bagian dari Muhammadiyah.
“Perlu saya sampaikan, karena Muhammadiyah sering dilabeli sama dengan Salafi. Padahal, secara manhaj atau metodologi beragama, terdapat perbedaan mendasar,” tegasnya.
Dalam tausiyah tersebut, ia memaparkan empat poin penting yang membedakan manhaj Muhammadiyah dan Salafi.
1. Aspek Metodologi Tafsir
Perbedaan pertama terletak pada metodologi dalam memahami Al-Qur’an dan Sunah. Sholihul Huda menjelaskan bahwa Muhammadiyah menggunakan pendekatan kontekstual dengan metode bayani, burhani, dan irfani, serta terbuka terhadap perkembangan ilmu pengetahuan.
Dia mencontohkan dalam penentuan awal Ramadan dan Idulfitri. Kelompok Salafi cenderung memahami hadis tentang “berpuasalah ketika melihat bulan” secara tekstual, yakni rukyat atau melihat hilal secara kasat mata. Sementara Muhammadiyah menggunakan pendekatan ilmu pengetahuan melalui metode hisab.
“Bagi sebagian kalangan Salafi, pendekatan hisab dianggap bid’ah. Padahal Muhammadiyah memandang ilmu pengetahuan sebagai bagian dari ikhtiar memahami syariat,” jelas wakil ketua Majelis Tabigh Pimpinan Wilayah Muhammadiuyah (PWM) Jatim.
2. Memaknai Al-Qur’an dan Sunah
Perbedaan kedua, lanjutnya, adalah dalam memaknai ajaran Al-Qur’an dan Sunah. Muhammadiyah menekankan konsep ar-ruju’ ila al-Qur’an wa as-Sunnah dengan pendekatan kontekstual.
“Artinya, kembali kepada Al-Qur’an dan Sunah dengan mempertimbangkan situasi, kondisi, serta perkembangan zaman,” tegasnya.
Sebaliknya, imbuh Gus Sholik, pendekatan Salafi lebih tekstual dan cenderung memaknai teks secara literal tanpa banyak mempertimbangkan konteks sosial yang melingkupinya.
“Di Muhammadiyah, Al-Qur’an dan Sunah diletakkan sebagai sumber utama, tetapi cara memahaminya juga memperhatikan realitas sosial,” ungkapnya.
3. Konsep Bid’ah
Poin ketiga yang menjadi pembeda adalah konsep bid’ah. Menurut Gus Sholik, dalam pandangan Salafi, segala sesuatu yang tidak ada pada zaman Nabi Muhammad saw dan para sahabat cenderung dikategorikan sebagai bid’ah, khususnya dalam urusan ibadah.
“Sementara Muhammadiyah membedakan antara ibadah mahdhah dan muamalah. Ibadah mahdhah, seperti salat dan puasa, tidak boleh ditambahi atau dikurangi karena sudah memiliki ketentuan baku,” jelas dia.
Namun dalam ranah muamalah, yang berkaitan dengan urusan sosial dan kemasyarakatan, inovasi diperbolehkan selama tidak bertentangan dengan prinsip syariat dan tidak membawa mudarat.
Gus Sholik mencontohkan soal musik. Dalam sebagian pandangan Salafi, musik dianggap terlarang. Namun di Muhammadiyah, musik tidak digeneralisasi sebagai sesuatu yang haram.
“Selama tidak mengandung unsur maksiat dan membawa kemanfaatan, ia dipandang sebagai bagian dari kreativitas dan inovasi sosial,” katanya.
4. Konsep Salafus Salih
Perbedaan keempat menyangkut konsep salafus salih. Gus Sholik menjelaskan bahwa generasi salafus salih—empat generasi awal Islam—memang menjadi rujukan dalam hal akhlak dan keteladanan.
Namun, dalam praktiknya, Muhammadiyah tidak menjadikan seluruh aspek kehidupan generasi salaf sebagai rujukan mutlak yang harus ditiru secara literal, termasuk dalam hal sosial, budaya, berpakaian, dan gaya hidup.
“Kalau semua dipaksakan secara tekstual, mosok kuliah harus bawa unta? Kan parkirnya yang repot,” ujarnya disambut senyum jamaah.
Muhammadiyah, katanya, tetap menghormati generasi salafus salih, tetapi dalam implementasinya mempertimbangkan situasi dan kondisi masyarakat Indonesia yang memiliki konteks sosial dan budaya berbeda.
Di akhir tausiyah, Gus Sholik mengajak jamaah untuk kembali memahami ideologi Muhammadiyah secara benar.
Dia bahkan memberikan pertanyaan reflektif kepada jamaah mengenai apa sebenarnya ideologi Muhammadiyah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments