SD Muhammadiyah 1 Tulungagung menggelar program terapi untuk Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) berbasis digital pada Selasa–Rabu (12-13/8/2025).
Kegiatan ini diikuti oleh kepala sekolah, sejumlah guru, 70 siswa berkebutuhan khusus, serta wali murid. Program ini dilaksanakan bekerja sama dengan Le Quran, sebuah yayasan yang berfokus pada solusi penanganan ABK berbasis Al-Qur’an melalui kombinasi terapi Qur’an dan terapi olah tubuh.
Berbeda dengan metode terapi pada umumnya, kegiatan ini mengintegrasikan teknologi digital dalam setiap prosesnya. Seluruh hasil terapi, mulai dari catatan keluhan hingga rekam perkembangan siswa, terdokumentasi rapi di dalam sebuah aplikasi. Orang tua atau wali siswa dapat langsung mengakses laporan tersebut untuk memantau hasil terapi anaknya secara real time.
“Konsep ini sangat membantu karena kami bisa melihat progres anak setiap saat. Tidak hanya saat datang ke sekolah atau menunggu laporan guru, tapi langsung bisa dipantau dari rumah,” ujar salah satu wali murid yang hadir.
Salah satu kisah yang paling menyentuh datang dari orang tua Ananda Zidan, seorang siswa dengan kondisi Down Syndrome. Ia mengungkapkan rasa syukur yang mendalam karena bertemu dengan terapi Qur’an dan olah tubuh yang diadakan di sekolah ini.
“Banyak hal yang kami dapatkan. Alhamdulillah, anak saya mengalami perkembangan signifikan, baik secara fisik, emosional, maupun kecerdasannya. Semua ini adalah proses, tapi arahnya jelas menuju kebaikan,” ungkapnya.
Ia menambahkan, sebelum mengikuti terapi, putranya memiliki ciri khas wajah Down Syndrome atau yang biasa disebut mongoloid. Namun, secara bertahap, perubahan fisik mulai terlihat.
“Sekarang, wajahnya semakin mirip anak normal pada umumnya. Fisiknya semakin bugar, emosinya lebih stabil, dan kecerdasannya juga meningkat,” ujarnya penuh haru.
Selain program terapi, SD Muhammadiyah 1 Tulungagung juga memiliki perhatian khusus terhadap pendidikan keagamaan bagi anak-anak ABK. Sekolah ini memprogramkan kegiatan mengaji dengan metode Tajdied, sebuah pendekatan yang memudahkan anak-anak memahami dan membaca Al-Qur’an sesuai kaidah Rasm Utsmani.
Kepala SD Muhammadiyah 1 Tulungagung menyampaikan bahwa sinergi antara pendidikan agama, terapi fisik, dan pemanfaatan teknologi menjadi kunci keberhasilan program ini.
“Kami ingin memberikan layanan terbaik bagi semua siswa, termasuk ABK, agar mereka mendapatkan kesempatan yang sama untuk berkembang. Dengan bantuan teknologi, kerja sama orang tua, dan bimbingan guru, kita bisa mencapai hasil yang luar biasa,” katanya.
Pihak Le Quran juga menegaskan bahwa misi mereka bukan hanya fokus pada perbaikan fisik, tetapi juga keseimbangan emosional, spiritual, dan intelektual anak. Terapi Qur’an menjadi pondasi utama, sementara terapi olah tubuh berperan mendukung perkembangan motorik, koordinasi, dan kesehatan fisik secara keseluruhan.
Dengan keberhasilan program ini, SD Muhammadiyah 1 Tulungagung berharap dapat menjadi contoh bagi sekolah lain di Indonesia dalam mengelola pendidikan dan terapi bagi ABK secara terpadu.
Harapannya, anak-anak berkebutuhan khusus tidak hanya diterima, tetapi juga difasilitasi untuk berkembang sesuai potensi terbaiknya.
Kegiatan ini menegaskan komitmen sekolah bahwa pendidikan inklusif bukan sekadar wacana, tetapi sebuah aksi nyata. Melalui dukungan teknologi, pendekatan Qur’ani, dan kerja sama semua pihak, anak-anak ABK dapat tumbuh menjadi generasi yang mandiri, percaya diri, dan bermanfaat bagi masyarakat.






0 Tanggapan
Empty Comments