Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Terasa Sudah Mudik

Iklan Landscape Smamda
Terasa Sudah Mudik
Ilustrasi Mudik Lebaran 2026 (Chat-GPT/PWMU.CO)
Oleh : Imam Robandi Guru Besar ITS Surabaya
pwmu.co -

Saf sholat taroweh di banyak mesjid di kota sudah tinggal beberapa baris saja. Sebaliknya, masjid-masjid di kampung sudah mulai ramai, ‘gemrengseng’. Kampung halaman sudah mulai terasa ada permudikan. Beberapa kawan sudah ‘pamer’ tayangan di jalan tol. Alon-alon mbak, ojo ngebut.

Ada ‘parcels’ sudah masuk ke dalam rumah. Parcel memang selalu unix, isinya bermacam-macam. Ada bawang goreng, minyak goreng, dan ada juga yang mengirim gula merah serbuk, dan juga gula pasir. Ada juga yang isinya lumpia dan juga kecap. Merek kecapnya tidak ada di toko-toko Surabaya, ‘made in lokalan’, katanya. Katanya juga, itu cita-rasanya sangat khas, tidak kalah dengan rasa mbg. Ada juga yang mengirim bumbu pecel, madu tawon galak, dan minuman sinom parijoto. Mungkin menganggap saya seperti ‘ki lurah di klampis ireng’, dan pendek kata, ‘uborampe’ dapur aman untuk sekitar lebaran.

Lebaran memang asyik, karena ada acara mudik masal. Memang tidak seperti lebaran zaman dulu yang selalu unik, karena di meja selalu ada kaleng biscuit, yang isinya kadang-kadang berbeda dengan yang ada di gambar. Kekadang berisi emping goreng, kekadang berisi rengginang, ada juga peyek kacang, dan paling minimalis berisi kerupuk.

Ada yang berlebaran tanggal 20, dan ada yang di hari lain. Sama saja, yang penting kita hidup rukun dan saling manghayubagya, pulang kampung bertemu sanak saudara, keluarga, dan saparakanca.

Zaman dulu saat berlebaran memakai baju baru, dan sekarang sudah banyak juga yang baju barunya tidak harus pas lebaran. Dulu masakan lebaran selalu mantap dimasak di rumah, dan sekarang sudah banyak yang tidak mau repot memasak ini-itu. Tinggal tekan hp, go-food datang. Memang dunia sudah berbeda, alam bumi sudah berganti.

Mudik zaman dulu, membawa ‘bento dan ini-itu’ dari rumah untuk dimakan saat berbuka di jalan, atau sebagai ‘musafarin’. Memang ‘ribet dan asyik’

Hari ini tinggal melihat tiktok saja, mencari kedai yang buka. Dulu kita berlangganan warung-warung favorite, nah sekarang sudah berlangganan di kedai-kedai rest-area. Favorite saya, tahu Sumedang, cabe cengek, teh anget.

Rest Area Salatiga yang sangat super, itu juga ramai, pemampirnya selalu membludak, dan hiruk-pikuk. Masuk Kota Semarang ada rest area Kalikangkung, ini juga selalu heroik. Keluar tol di Adiwerna nan jauh sana, mampir sebentar juga ada Sate Batibul, atau naik sebentar di Bumijawa ada Balibul, atau yang sedang ngetrend, Cempelemu.

Jika tidak ingin mampir, ya langsung ‘bablas’ Jatinegara, Randudongkal,
Mbelik, dan langsung sampai Karangreja di 700 mdpl, bablas Dukuh Waluh.

Versi lain adalah mampir sebentar di Soto Seger, di tengah Kutho Solo, atau langsung bablas Jogja. Lha tol sudah sampai Prambanan. Bolehlah ‘nyicip-nyicip’ di sekitar Merapi. Ada kopirolas, kopitelulas, kopipatbelas ada juga baksobrakot di sekitar Pakem, belum lagi yang lain, ingin ke Pak Pong juga boleh, ‘mangidul sithik’.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Jika Jogja juga tidak mau mampir, maka langsung bablas Sate Ambal. Ini juga sangat aduhai rasanya. Di dekat sawah, angin semilir, kemebul aroma bumbu satenya, ‘lejen juga’. Pemandangan lintas ‘selatan-selatan yang paling selatan’ juga sangat panoramik. Ada perkebunan jambu kristal dan hamparan tanaman buah ‘papaya karolina’.

Bosan lewat jalur-jalur di atas, maka dari Surabaya juga dapat langsung bablas Telomoyo di 1200 mdpl, Ngablak. Scopus dan laporan monev kita lupakan dulu. Langsung tancap di ketinggian 1894 mdpl, negeri di atas awan nan memukau, dan di puncaknya ada jagung rebus yang super manis. Jika memang tidak mampir di sini, maka bablaskan saja menginap di sekitar Pintu Langit, Dieng, 1400 mdpl. Ini dijamin ‘mbedhidhing’, ‘adhem tenan’ dan ‘nggreges’. Jaminannya adalah panoramika lereng Sindoro-Sumbing yang spektakuler, ‘bromone wong Jateng’, teu aya papadana.

Memang semua jalur ‘mantap bana’, salero kito sabananyo.

Belum lagi kalau ingin mampir di Mandiraja dan Bokateja, yang dijamin tong-seng dan satenya yang bumbu ‘brambang tomat’ sangat fuwa-fuwa. Benar-benar membuat ‘gumrigah’.

Jika lewat selatan, bakmi nyemek di Sumpyuh, dan sekarang pas sedang musim duren bawor di Kemranjen. Ini juga ‘positioning’. Belum lagi yang Soto Sokaraja, juga ‘okey bana’, dijamin nambah dan dijamin antri panjang ‘bareng pemudik Jakartaan’ .

Sambutan untuknpara pemudik selalu hangat, apalagi Pak Singa di RRI Purwokerto zaman dulu dengan acara gendhu-gendhu rasanya yang selalu menyapa para keponakan. Memang serba blaka suta di republik ngapak. Semua yang pulang kampung dianggap sebagai keponakan, ‘badan, klambi anyar’.

Jangan lupa, semua pintu dikunci sebelum mudik. Lemari, locker, kabinet juga harus dikunci. Jangan lupa barang berharga, surat berharga, juga ijazah lama yang asli atau yang sangat lama, jangan sampai hilang, minimal fotocopynya.

Ah..mudik, selalu asyik.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡