Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Terkurung dalam Ego, Inilah Awal Rusaknya Hati

Iklan Landscape Smamda
Terkurung dalam Ego, Inilah Awal Rusaknya Hati
Foto: Istimewa
Oleh : Ferry Is Mirza Jurnalis Senior dan Aktivis Muhammadiyah
pwmu.co -

Keras hati atau qoswatul qolbi adalah penyakit batin yang sangat berbahaya. Ia tidak tampak dari luar, tetapi dampaknya terasa dalam setiap perilaku dan keputusan hidup seseorang.

Keras hati membuat seseorang sulit menerima kebenaran, bahkan dari orang-orang yang tulus menasihati.

Pemicu utamanya adalah iri, dengki, dan kesombongan. Ketika tiga hal ini bersemayam dalam dada, maka hatipun membatu, bahkan lebih keras dari batu.

Orang seperti ini tidak lagi merasa bersalah ketika berbuat salah, dan tidak merasa berdosa ketika menyakiti sesama.

Ciri-Ciri Qoswatul Qolbi 

1. Ingin menang sendiri

Orang yang ingin menang sendiri biasanya menolak kebenaran meskipun ia tahu dirinya salah. Ia ingin semua orang tunduk pada pendapatnya.

Padahal, Rasulullah saw bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan sebesar biji sawi.” (HR. Muslim)

Sikap ingin menang sendiri membuat seseorang kehilangan empati. Ia menilai dirinya paling benar, paling tahu, dan paling layak didengar. Akibatnya, hubungan dengan orang lain retak dan hati menjadi keras tanpa disadari.

2. Maunya mengatur tapi tidak mau diatur

Fenomena ini sering kita jumpai. Banyak orang ingin memimpin, tetapi sedikit yang siap dipimpin. Ketika jabatan atau kekuasaan tidak lagi di tangan, muncul perasaan tersingkir, lalu berubah menjadi dendam dan permusuhan. Mereka terus memelihara amarah hingga menjadi “musuh bebuyutan.”

Padahal, pemimpin sejati adalah yang mampu tunduk ketika bukan dirinya yang memegang kendali, dan tetap mendukung demi kebaikan bersama.

Suatu ketika, Umar bin Khattab ra, khalifah yang terkenal tegas, pernah ditegur oleh seorang perempuan tua di tengah pasar.

Perempuan itu berkata, “Wahai Umar, takutlah engkau kepada Allah! Engkau tidak boleh menetapkan sesuatu yang tidak sesuai dengan syariat!”

Alih-alih marah, Umar menunduk dan berkata dengan rendah hati,

“Perempuan itu benar, dan Umar yang salah.”

Iklan Landscape UM SURABAYA

Inilah bukti bahwa hati yang lembut adalah hati yang siap menerima kebenaran, meskipun datang dari orang biasa.

Begitu pula kisah Imam Syafi’i yang ketika dikritik oleh muridnya, malah berterima kasih. Ia berkata:

“Aku tidak pernah berdebat untuk mengalahkan orang lain, tetapi untuk menemukan kebenaran.”

Betapa jauh akhlak mereka dibandingkan dengan sebagian kita yang cepat tersinggung ketika dinasihati.

Dalam bahasa Jawa disebut cengkal — kepala batu. Orang berkepala batu sulit sekali menerima masukan. Ia menolak nasihat bahkan dari orang yang tulus mencintainya.

Keras kepala ini biasanya berpasangan dengan keras hati. Orang seperti ini tidak lagi mampu merasakan kelembutan iman, karena hatinya tertutup oleh kesombongan dan nafsu diri.

Obat Keras Hati

Setiap penyakit ada obatnya, begitu pula keras hati. Ulama dan salafus shalih memberikan resep penyembuhannya:

1. Mentadabburi Al-Qur’an atau hadir di majelis ilmu.
Al-Qur’an adalah penawar bagi hati. Ia menembus lapisan keras yang membungkus jiwa manusia.

2. Menjalankan salat malam.
Dalam keheningan malam, manusia bisa berbicara langsung kepada Tuhannya. Air mata yang jatuh di sepertiga malam terakhir adalah tanda hati mulai lembut.

3. Bergaul dengan orang saleh.
Hati akan mudah luluh bila sering berada di lingkungan orang-orang baik. Cahaya kebaikan mereka menular.

4. Mengurangi makan dan berbicara.
Makan berlebihan menumpulkan hati, sedangkan banyak bicara yang tidak berguna menutup jalan zikir.

5. Perbanyak dzikir dan istighfar.
Istighfar adalah cara terbaik untuk mengikis noda hati. Dengan mengingat Allah, hati menjadi tenang dan lembut kembali. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu