Memberi ruang kepada anak muda untuk berkegiatan di masjid sering kali menjadi awal lahirnya gerakan yang hidup dan relevan dengan zamannya. Ketika anak muda dipercaya mengelola ruangnya sendiri, masjid tidak lagi terasa jauh dari keseharian mereka. Masjid pun berubah menjadi tempat berkumpul, berdiskusi, dan menumbuhkan gagasan.
Inilah yang tengah dibangun oleh Arroyyan Youth Squad melalui ruang ngaji anak muda bernama The Saturnight.
The Saturnight Vol. #6 kembali sukses diselenggarakan oleh Arroyyan Youth Squad. Kegiatan ini merupakan kajian rutin anak muda yang dikemas dengan konsep kekinian dan dilaksanakan setiap bulan pada Sabtu malam Minggu. Seiring waktu, kegiatan ini menjadi ruang pertemuan yang hangat bagi generasi muda untuk belajar, berbagi cerita, sekaligus bertumbuh bersama di lingkungan masjid.
Memasuki episode keenam, The Saturnight terus menghadirkan sajian yang unik dan berbeda. Pada edisi kali ini, para peserta diajak berdiskusi mengenai masa depan dan pencapaian hidup, tema yang sangat dekat dengan kegelisahan sekaligus harapan anak-anak muda saat ini.
Tidak sekadar kajian satu arah, kegiatan ini juga menghadirkan sesi deep talk antar peserta. Mereka diajak saling mengenal lebih dekat sekaligus menuliskan pesan, saran, dan dukungan yang membangun dalam selembar kertas untuk seluruh peserta yang hadir. Suasana diskusi berlangsung santai, hangat, dan penuh refleksi.
Kegiatan The Saturnight Vol. #6 edisi Ramadan ini dilaksanakan pada Sabtu (14/3/2026). Acara dimulai setelah kegiatan tadarus dan berakhir sekitar pukul 23.15 WIB. Belasan anak muda yang tergabung dalam Arroyyan Youth Squad (AYS) hadir mengikuti rangkaian kegiatan tersebut.
Menariknya, kegiatan ini tidak dilaksanakan di dalam ruangan masjid, melainkan di halaman Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah Buduran, Sidoarjo. Halaman tersebut memiliki wajah yang berbeda dari halaman masjid pada umumnya setelah ditata oleh Arroyyan Youth Squad menjadi ruang yang lebih ramah bagi anak muda.
Deretan lampu gantung menghiasi area halaman, menghadirkan suasana hangat khas tongkrongan malam. Beberapa kursi dan meja lipat yang biasa dijumpai di tempat nongkrong anak muda juga disiapkan untuk menunjang jalannya kegiatan. Sentuhan sederhana ini membuat halaman masjid terasa lebih hidup sekaligus nyaman untuk berdiskusi santai.
Pematik diskusi pada malam itu adalah Syahensyah Raiq El Fikri. Dalam penyampaiannya yang santai, ia menyoroti fenomena generasi saat ini yang kerap terburu-buru mengejar kesuksesan secara instan.
Menurutnya, sesuatu yang instan tidak selalu mudah, baik, atau berjalan mulus. Justru proses yang dilalui secara bertahap sering kali memberikan pelajaran berharga dalam perjalanan hidup. Ia juga mengingatkan bahwa kesuksesan setiap orang memiliki ukuran yang berbeda, sehingga pencapaian orang lain tidak bisa dijadikan tolok ukur bagi perjalanan hidup kita.
Syahen—sapaan akrabnya yang juga aktif di Pemuda Muhammadiyah Cabang Buduran—mengajak para peserta untuk menikmati setiap proses kehidupan. Ia menegaskan bahwa perjalanan hidup tidak selalu mulus; selalu ada lika-liku yang harus dihadapi, bukan dihindari.
Menjelang akhir kegiatan, suasana diskusi yang hangat itu ditutup dengan kebersamaan sederhana. Para peserta menikmati bakso hangat yang didukung oleh Lazismu Jawa Timur serta jus alpukat yang telah disediakan.
The Saturnight mungkin terlihat seperti tongkrongan malam Minggu biasa. Namun dari ruang sederhana di halaman masjid inilah tumbuh percakapan yang bermakna, refleksi kehidupan, serta persahabatan yang hangat. Ketika anak muda diberi ruang untuk hadir dan berkegiatan di masjid, mereka tidak hanya datang sebagai tamu, tetapi menjadi bagian dari kehidupan masjid itu sendiri. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments