Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

(Tidak) Bisa Karena (Tidak) Terbiasa

Iklan Landscape Smamda
(Tidak) Bisa Karena (Tidak) Terbiasa
Oleh : Tri Febriandi Amrulloh, M.Ag Mubaligh Majelis Tabligh PCM Sepanjang dan Anggota Mufasir Tafsir At Tanwir Muhammadiyah
pwmu.co -

Kebiasaan adalah aktivitas yang dilakukan secara berulang-ulang hingga akhirnya menjadi bagian dari diri seseorang.

James Clear dalam karyanya Atomic Habits mengutip ungkapan John Dryden, penyair Inggris terkemuka pada abad ke-17, “We first make our habits, and then our habits make us”.

Kalimat itu membawa pesan bahwa pada awalnya manusialah yang membentuk kebiasaan. Namun berikutnya “kebiasaan” yang membentuk karakter dan menjadi kepribadian manusia.

Mengapa kebiasaan seseorang itu memiliki pengaruh yang sangat kuat? Jawabnya, karena setiap tindakan yang melakukannya berkali-kali akan menciptakan pola tertentu dalam pikiran dan tindakan.

Contohnya, anak-anak yang dikondisikan atau dibiasakan disiplin sejak dini melalui dan di dalam lingkungan keluarganya, maka ada potensi yang kuat untuk tumbuh menjadi pribadi yang teratur.

Demikian pula halnya dengan orang dewasa yang terbiasa jujur dan memiliki etos kerja yang tinggi, tentu akan lebih mudah meraih kepercayaan dan kesuksesan di kemudian hari.

Sebaliknya, jika seseorang itu sudah terbiasa menunda suatu pekerjaan, lalai, atau seringkali melakukan pelanggaran — baik kecil maupun besar —, perlahan tapi pasti tanpa ia sadari akan membentuk kepribadian yang permisif terhadap kesalahan.

The Power of Habits

Kekuatan kebiasaan itu bagai air yang menetes terus menerus di atas batu. Pada awalnya mungkin tidak terasa, tetapi dalam jangka waktu yang lama pasti akan mampu membentuk pola pikir, pola sikap, dan karakter.

Fenomena ini sesungguhnya sudah Allah jelaskan dalam Al-Qur’an, yaitu ketika Allah memberi peringatan kepada orang-orang munafik. Dalam QS. Al-Baqarah ayat 12 Allah berfirman:

“Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan,tetapi mereka tidak menyadari.”  

Ayat ini memberi peringatan bahwa manusia bisa terjebak dalam pola perilaku yang merugikan tanpa ia menyadari secara langsung.

Seseorang yang terbiasa dan membiarkan tindakannya yang keliru, maka akan cenderung menganggap kekeliruan sebagai hal yang lumrah.

Suatu kebiasaan, entah yang positif maupun yang negatif, pada dasarnya memiliki power dalam membentuk pola pikir dan karakter seseorang.

Habit terlahir dari tindakan berulang

Sesuatu yang awalnya terasa sulit, dapat berubah menjadi ringan apabila melakukannya dengan konsisten.

Tentu saja proses pembiasaan ini tidak instan, membutuhkan waktu untuk berproses yang memakan waktu relatif lama dan membutuhkan kesabaran.

Contoh sederhana, terkait dengan aktivitas membaca Al-Qur’an setiap ba’da shubuh. Awalnya mungkin terasa sangat berat dan memerlukan effort yang kuat.

Namun, jika dikerjakan secara rutin — walau berat —, lambat laun akan menjadi kebiasaan untuk membaca Al-Qur’an tadi. Bahkan akan menjadi kebutuhan spiritual.

Sebaliknya, kebiasaan buruk juga mengalami proses yang sama.

Mungkin awalnya merasa sangat bersalah bagi seseorang yang sekali atau dua kali melakukan hal yang tidak baik.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Namun, jika hal buruk tersebut dilakukan berulang-ulang, bisa jadi sensitivitas terhadap “rasa bersalah” semakin tumpul dan akhirnya hilang.

Al-Qur’an menyebut kondisi ini sebagai penyakit hati (فِي قُلُوبِهِمْ مَرَضٌ), yakni keadaan di mana hati nurani sudah sulit untuk membedakan antara yang haq dengan yang bathil.

Pembentukan kebiasaan tidak terbatasi oleh ruang dan waktu. Ia dapat saja muncul di rumah, sekolah, tempat kerja, maupun dunia maya, dan kapan saja.

Lingkungan sekitar memiliki peran penting dalam memperkuat atau justru melemahkan suatu kebiasaan.

Keluarga yang memberikan keteladanan tentang kebaikan akan menumbuhkan keturunan yang berakhlak mulia.

Sebaliknya, suasana yang permisif terhadap sikap malas, bohong, atau perilaku negatif lainnya pasti akan menjadikan keburukan tersebut sebagai hal yang wajar.

Cara membentuk kebiasaan baik

Membentuk kebiasaan positif membutuhkan niat yang kuat, kesadaran yang tinggi dan tentu harus istiqomah.

Dalam Islam, kita mengenal istilah istiqamah yang berarti konsistensi dalam menjalankan amal saleh.

Orang yang istiqomah dalam melakukan amal kebaikan, pasti tidak akan menyadari bahwa tindakan baiknya tersebut telah berlangsung dalam waktu yang lama.

Orang yang melatih dirinya untuk melakukan kebaikan secara rutin — seperti shalat tepat waktu, menjaga lisan, berbagi dengan sesama, atau bahkan seperti aktivitas menulis —, perlahan-lahan kebiasaan itu akan melekat menjadi karakter.

Inilah yang menjadikan ungkapan “bisa karena terbiasa” bukan sekadar adagium semata, tapi merupakan konsekuensi logis dari sisi psikologis sekaligus spiritual.

Dengan demikian, ayat Al-Qur’an di atas sekaligus menjadi peringatan dan motivasi.

Kebiasaan buruk yang berulang secara terus-menerus akan menumpulkan hati nurani, membuat seseorang tidak lagi peka terhadap kerusakan yang ditimbulkannya.

Sebaliknya, kebiasaan baik yang dilanggengkan dengan keistiqamahan akan menjadi bagian dari aktivitas sehari-hari yang dapat menguatkan keimanan dan karakter seseorang.

Ayat Al-Qur’an di atas berfungsi sebagai peringatan sekaligus motivasi.

Akhirnya, Karakter kita dibentuk oleh kebiasaan yang kita pilih. Pilihan kebiasaanmu menentukan karaktermu.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu